19 Januari 2013
Penanda Lain Purbalingga
Diposting oleh Anonim di Sabtu, Januari 19, 2013 0 komentar
Label: Banyumas, Budaya, Film, Purbalingga, Sinematografi
13 April 2011
Purbalingga Dalam Rekaman Sinema
Purbalingga Dalam Rekaman Sinema
Oleh Teguh Trianton
Di luar, matahari mulai menua, helai-helai air yang terurai dari langit terus saja memanjang. Sementara di dalam, lampu-lampu tak menyala, daun-daun jendela dan pintu merapat pada dua sisi kusen penyangganya. Di ruang berukuran sekitar 8 x 5 meter itu, hanya tampak kilatan dan sorotan cahaya dari sebuah LCD projektor. Puluhan kepala manusia sesekali tersiram pantulan cahaya dari sebentang kain putih yang memanjang di dinding. Kepala-kepala milik remaja usia belia itu tampak membentuk siluet mendongak 45 derajat. Berpasang-pasang mata sesekali berkedip reflek dan lembut.
Pemandangan ini dapat kita temui saban hari Sabtu sore mulai pukul 16.00 sampai dengan selesai, di sebuah rumah di Jalan Achmad Nur No. 1 Kauman Piurbalingga. Rumah di pojokan jalan sebelah alun-alun Purbalingga ini kerap menjadi saksi pemutaran rekaman-rekaman lensa kamera yang dibidikan oleh para remaja pelajar Purbalingga.
Sebuah acara nonton bareng dan diskusi ringan bertajuk Bioskop Pojokon menjadi media efektif penciptaan tanda bahwa pelajar di Kabupaten Purbalingga kreatif dan cerdas. Ini tergambar dengan hidup lewat karya-karya sinematografi yang telah mereka buat. Para sineas muda Purbalingga yang terwadahi dalam sebuah lembaga nirlaba, Cinema Lover Community (CLC) telah menunjukan dedikasinya bagi kota tercinta.
Dengan sudut pandang cerdas dan tentu saja berbeda dari cara pandang sebagaian besar masyarakat Purbalingga, para film maker ini menuturkan secara visual pada kita tentang kondisi-kondisi riil pembangunan Purbalingga.
Secara kasat mata, pembangunan di wilayah selatan (kota) Kabupaten Purbalingga memang berhasil. Pemandangan di wilayah kota mampu menerjemahkan kondisi ideal wajah sebuah kota yang terus bergerak maju. Usai membangun (memindah) pasar kota ke lokasi baru, pemerintah setempat membangun taman kota di bekas lokasi pasar.
Keberhasilan ini dianggap sebagai salah satu kado terindah dari pemerintah bagi masyarakat Purbalingga. Itu merupakan gambaran terkini kondisi Purbalingga dalam bingkai perayaan hari jadi Purbalingga dari sudut pandang pemerintah setempat.
Gambar Film
Gambaran benda-benda mati tentang Purbalingga di atas tentu saja berbeda, bahkan kontras dengan gabar hidup yang berhasil diabadikan oleh sejumlah pekerja seni -industri kreatif- di Purbalingga. Lihatlah enam judul film pendek karya sineas muda Purbalingga yang sengaja dibuat sebagai kado hari jadi Purbalingga ke 179 tahun 2009 dan lima film kado ulang tahun ke 180 tahun 2010 lalu.
Dengan sudut pandang berbeda, enam sutradara muda yang tergabung dalam wadah Cinema Lover Community (CLC) berhasil mendokumentasikan wajah lain Purbalingga. Hasil karya mereka patut dipertimbangkan dan dijadikan bahan inisiasi serta melihat bagaimana seharusnya pembangunan Purbalingga di masa datang.
Buruh
Dalam film “Trima Hidup Apa Adanya”, Bowo Leksono sang sutradara mencoba menyuguhkan narasi pendek tentang nasib seorang buruh pabrik pengolah rambut terbesar di Purbalingga. Trima adalah nama seorang buruh dari sekitar 50 ribu buruh yang bekerja di perusahaan dengan penanam modal asing (PMA).
Meski ia bekerja di perusahaan PMA, namun bayaran yang diterima belum setara UMK yang sekarang berlaku. UMK Purbalingga tahun 2009 sebesar Rp 618.750, sementara gaji yang diterima buruh pabrik di Purbalingga berkisar Rp. 250.000 hingga Rp 500.000. Sementara itu, survei Kebutuhan Hidup Layak (KHL) tahun 2010 ditetepkan sebesar Rp 803.000 dengan UMK sebesar Rp 695.000.
Padahal mereka masih harus menanggung ongkos transportasi setiap hari, biaya sekolah anak dan biaya hidup keluarga. Namun Trima menerima nasib itu apa adanya, seperti ribuan perempuan pekerja lainnya, yang menjadi tulang punggung keluarga.
Dengan durasi 19,32 menit, Bowo mampu memadatkan visualisi nasib ribuan buruh di Purbalingga. Trima hanyalah satu contoh gambar karikatur. Betapa predikat Kabupaten Proinvestasi belum mampu menjamin keberlangsungan hidup masyarakatnya.
Segamas
Sementara itu, tiga sutradara muda lainnya mencoba mengangkat satu tema yang sama. Dengan angel berbeda, ketiganya seperti menyusun tiga episode berseri kisah tragik pedagang di Pasar Segamas dan keriuhan jalan raya di Purbalingga.
Film ‘Segamas’ menjadi film terpanjang dalam kompilasi film bertajuk ‘Kado Buat Kota Tercinta’. Segamas mengangkat kisruh seputar relokasi pasar lama ke lokasi baru yang sekarang. Dalam film berdurasi 26,37 menit ini, Nanki Nirmanto –sutradara- berhasil menyuguhkan perselisihan antara pedagang dengan disperindagkop selaku pemegang kebijakan pengelolaan pasar.
Dilingkapi petikan pernyataan anggota DPRD dan Kepala Disperindagkop di sela-sela celoteh polos par pedagang, membuat seri dokumenter ini mirip liputan khusus seputar Segamas. Secara tegas film ini menunjukan bahwa pemindaan pasar dan pengelolaannya lebih banyak merugikan pedagang. Semenatara disperidagkop berkeras semua telah sesuai desain dan melalui kajian mendalam.
Serial ‘Segamas’ berlanjut dengan film ‘Daging Yang Tak Laku’. Film ini adalah satu fragmen garapan sutradara Shinta yang bertutur tentang nasib pedagang daging ayam yang mengalami penurunan omzet penjualan akibat relokasi pasar dan letak kios yang kurang strategis.
Episode ketiga adalah film mini “Uwis Sesek” sutradara Anargya Uswan. Film ini mendokumenterkan kondisi carut-marut lalulintas di Kota Purbalingga. Kepadatan kendaraan dalam film ini mencerminkan rendahnya kesadaran berlalu-lintas dan manajemen jalan raya.
Pendidikan dan Kesehatan
Dua film kado lainya adalah ‘Curug oh Curug’ sutradara Elma sulistiya Ningrum dan ‘Harapan Novita’ besutan Aris Prasetyo. Curug oh Curug berkisah tentang nasib sebuah objek wisata alami berupa air terjun yang terbengkalai di tengah gencarnya pembangunan objek wisata imitasi.
Sedangkan ‘Harapan Novita’ bertutur tentang kisah hidup seorang pelajar di sebuah SMP kecil di desa terpencil yang memiliki cita-cita menjadi dokter. Cita-cita Novita ini dilatar belakangi oleh kondisi perekonomian penduduk desa yang berada di bawah garis kemiskinan, sehingga tidak memiliki cadangan biaya hidup untuk urusan kesehatan.
Bahkan untuk bersekolah, para pelajar di desa harus menempuh perjalanan jauh tanpa sepatu lantaran jalan yang dilalui penuh dengan lumpur. Sementara untuk belajar di rumah pada malam hari, anak-anak tak mendapat penerangan yang cukup.
Sementara itu visualisasi lewat lima karya sineas muda Purbalingga dalam kompilasi film pendek bertajuk “Kado buat Kota Tercinta 2010”menjadi bentuk lain dari rasa cinta, kepedulian dan kepekaan para pemuda terhadap kota tercinta.
Jalan Kaki
Film berjudul “Jalan Kaki Lima” garapan sutradara Asep Triyatno misalnya. Film berdurasi 06 menit 46 detik ini secara banal memberikan gambaran nyata betapa semprawutnya trotoar jalan di jatung kota Kecamatan Bobotsari Kabupaten Purbalingga. Dengan kamera tangan, Asep membidik wajah trotoar jalan yang digunakan tidak semestinya.
Trotoar di jantung kota kecamatan ini dipenuhi oleh pedagang kaki lima yang berjajar tidak karuan. Tak hanya itu, trotoar yang sebenarnya dibuat khusus untuk para pejalan kaki ini kerap dijadikan sebagai tempat parkir, sehingga pejalan kaki tidak kebagian tempat.
Sebenarnya bukan tanpa sadar pedagang menyerobot hak pejalan kaki untuk tempat berdagang. Seluruh pedagang merasa telah memiliki hak pakai lantaran telah membayar uang retribusi pada petugas. Artinya, karut marut trotoar jalan tersebut tercipta atas ijin petugas.
Dengan film ini Asep tengah memberikan kritik pedas pada pemerintah setempat, bahwa di tengah puja-puji keberhasilan pembangunan Purbalingga, ternyata masih ada hal krusial yang ada di depan mata yang luput dari perhatian. Lantaran fenomena yang sama juga jamak terjadi di trotoar jalan kota Purbalingga yang berada di sekitar pusat kekuasaan.
Sementara itu sutradara Bowo Leksono dengan dokumenter bertajuk “Dewi-Dewi” mencoba mengetengahkan wajah dunia pendidikan di Purbalingga yang kondisinya mencengangkan. Dokumenter berdurasi 7,16 menit ini memvisualisasikan belasan anak SD di Desa Tanalum Kecamatan Rembang yang harus berjalan puluhan kilometer dari rumahnya untuk sampai di sekolah. Tak hanya itu, anak-anak ini masih harus menghadapi resiko terberat berupa luapan air di sungai.
Kondisi ini tak dapat dihindari. Sebuah sungai dengan lebar sekitar 20 meter harus diseberangi dengan turun ke sungai, lantaran tak ada jembatan penghubung. Nasib paling menyedihkan adalah ketika hujan turun. Mereka terpaksa bolos sekolah akibat air meluap sehingga tak dapat diseberangi.
Perjuangan anak-anak yang tervisualisasi dan terdokumen dalam film ini setara dengan perjuangan tokoh Lintang pada film Laskar Pelangi. Jika Lintang menempuh jarak yang sangat jauh dengan sepeda onthel dan beresiko dihadang buaya. Anak-anak di Desa Tanalum harus berjalan kaki dan sesekali dihadang bahaya banjir.
Yang Terpinggirkan
Dua film lain yaitu “Sang Penakluk Waktu” garapan Ayun Endra Yanto dan “Rumahku Bukan Istanaku” besutan sutradara Nanki Nirmanto menggambarkan masih ada masyarakat Purbalingga yang hidup marginal. Ayun dengan filmnya mengisahkan kehidupan sosok penjual jamu tradisional bernama Jarimin yang nasibnya tergerus perkembangan zaman dan modernisasi.
Bisa jadi, Jarimin adalah satu-satunya pembuat dan penjual jamu tradisional yang masih hidup di Desa Sumampir Kecamatan Rembang. Tiap hari, lelaki berusia 70 tahun ini harus memetik tanaman obat untuk diracik menjadi jamu. Tak hanya itu, ia masih harus memikul dan berjalan kaki ke pasar.
Potret hidup manusia marginal yang digarap Nangki lebih mengenaskan lagi. Video berdurai 06 menit 18 detik ini mengangkat tokoh Mbok Sumini sebagai lakon. Janda miskin asal sebuah desa di Kecamatan Rembang ini harus rela hidup serba kekurangan di sebuah gubug reot yang lebih pantas sebagai kandang ternak.
Meski video ini terkesan mengeksploitasi kemiskinan sebagai tontonan, namun apa yang disuguhkan merupakan kondisi riil yang harus segera ditanggapi oleh pemerintah setempat. Boleh jadi, masih banyak rakyat kecil yang senasib dengan kisah hidup Mbok Sumini. Video ini juga mengingatkan kita pada program stimulasi pemugaran rumah keluarga miskin (PSPR GAKIN) yang pernah dicanangkan oleh Bupati terdahulu.
Nasib Buruh
Kado kelima berjudul “Mata Buruh”. Film dokumenter berdurasi 8 menit 55 detik ini disutradarai Nanda Dian Sari. Ia mencoba membidik nasib buruh pabrik pengolah rambut bersekala internasional yang hidup dalam resiko kebutaan.
Resiko ini harus ditanggung oleh puluhan ribu perempuan yang bekerja mengolah rambut menjadi bulu mata palsu dan
aksesoris wanita lainnya. Dalam sehari, para pekerja ini minimal harus berhadapan dengan ribuan helai rambut yang harus ditata dan dianyam satu persatu selama lebih dari 9 jam.
Resiko kebutaan menghantui mereka lantaran proses penganyaman rambut dilakukan dengan mata telanjang. Tak ada alat bantu penglihatan apapun yang digunakan untuk meminimalisir resiko tersebut. Di sisi lain, Nanda juga mengangkat persoalan pengupahan yang diberlakukan oleh perusahaan.
Secara umum kelima film yang menjadi kado 180 tahun usia Purbalingga ini merupakan bentuk kritik, sindiran, sekaligus masukan bagi pemerintah setempat tentang berbagai persoalan yang harus segera dibenahi.
Terlepas dari persoalan teknis pengambilan gambar dan prosesi editingya, seluruh film dokumenter tersebut, layak dijadikan penyeimbang untuk menghitung ulang keberhasilan pembangunan di Purbalingga.
Film-film ini sesungguhnya tengah membantu pemerintah memetakan permasalahan riil yang dihadapi masyarakat Purbalingga. Sehingga, siapapun yang akan memimpin Purbalingga ke depan, memiliki gambaran nyata tentang apa yang harus dilakukan, sesuai dengan kehendak rakyat.
Teguh Trianton, Penikmat Film Purbalingga
Diposting oleh Anonim di Rabu, April 13, 2011 0 komentar
Label: Budaya, Film, Purbalingga, Sinematografi
29 Juni 2010
Catatan FFP 2010
PERHELATAN Festival Film Purbalingga (FFP) 2010 baru-baru ini telah mengantar film fiksi berjudul ’’Endhog’’ (’’Telor’’) sutradara Padmashita Kalpika sebagai film terbaik. Melalui seleksi
yang ketat, tiga juri ’’terpaksa’’ memilih film produksi sineas SMA N 2 Purbalingga ini sebagai yang terbaik.Juri terpaksa memilih sebab secara umum kualitas film pelajar Banyumas tahun ini cenderung menurun, dibanding film peserta festival tahun sebelumnya. Penurunan juga terjadi pada sisi kuantitas. Tahun 2009 ada 10 judul film kategori fiksi yang jadi nominator, tahun ini hanya 8 judul film yang lolos seleksi dewan programer.
Sebenarnya tema yang ditawarkan pada FFP 2010 sangat sederhana, ’’Meliat Kita’’. Artinya, peserta —pelajar di Eks Karesidenan Banyumas— diberi keleluasaan untuk eksplorasi kearifan budaya lokal dan realitas sosial yang terjadi pada masyarakat Banyumas.
Namun tema yang sederhana ini malah hampir tak terbaca sama sekali. Sebagian besar film fiksi yang lolos seleksi ternyata gagal memvisualisasikan pesan moral dalam bingkai narasi peristiwa kecil yang ada di masyarakat.
Hasil akhir proses kreatif sineas muda menunjukan gejala akut sindrom sinetronis kronis. Beberapa film yang sesungguhnya berupaya ’’melihat kita’’ dengan mengangkat kearifan lokal menjadi tak berdaya oleh virus sinetronis kronis.
Film berjudul ’’Bunyi’’ misalnya. Karya sineas pelajar SMK Bakti Purwokerto ini mulanya hendak mengangkat khazanah budaya masyarakat tani yang nyaris punah. Melalui hobi fotografi yang diperankan, tokoh Radit mengajak penonton untuk mengingat tradisi lesungan.
Yaitu sebuah permainan klotekan atau tlektekan dengan cara memukulkan ujung antan ke tepi bagian dalam lesung sambil menumbuk padi.
Namun bunyi pesan moral ini justru tenggelam oleh sebagian besar scene sinetronis yang klise pada keseluruhan film. Kisah asmara Radit yang sinetronis mengalahkan bunyi pesan yang dimaksudkan.

Sindrom sinetronis mewabah pada sebagaian besar film lain. Ini terlihat pada film berjudul ’’Lupa’’ (SMK N 1 Purwokerto), ’’Sepatu Lawan Jago’’ (SLJ) dan ’’Montor apa Bebek’’ (’’MaB’’) dari SMA N 1 Cilacap, ’’Menuju Titik Terang’’ (’’MTM’’) dari SMA N 1 Purbalingga, dan ’’Aku Bukan Malin Kundang’’ (’’ABMK’’) dari SMK N 1 Purbalingga.
Selain wabah sinetronis, film pelajar Banyumas juga mengidap sindrom hantu ala film horor Indonesia. Film ’’Lupa’’ misalnya, dengan vulgar mengkliping puluhan hantu dari scene film horor yang beredar di bioskop dan dipadatkan jadi satu pendek.
Film ’’SLJ’’ dan ’’MaB’’ sebenarnya hendak menyampaikan pesan tentang kehidupan pelajar dari keluarga miskin dalam pergaulan sosial yang lebih kaya. Namun pesan ini juga klise lantaran padatnya tuturan dan logika film yang sinetronis.
Sulit Diterima Pada ’’MTM’’, materi yang diangkat juga tertelan scene sinetronis. Metafora visual yang dibangun terlalu hiperbolis sehingga logika narasi sulit diterima. Film itu hendak bercerita tentang anak yang hobi membaca dan menulis sastra tapi ditentang oleh orang tua.
Film ’’AMBK’’ sangat sederhana, bercerita tentang pelajar yang aktif ekstrakurikuler teater. Kehidupan pelajar ini terpengaruh karakter tokoh yang diperankan dalam pertunjukan teater. Sayangnya eksekusi ceritanya juga terkena virus sinetron.
Dua film lain yang cukup diunggulkan adalah film ’’Endhog’’ (SMA N 2 Purbalingga), dan ’’Ling-Lung’’ (SMA N Bobotsari). ’’Endhog’’ diunggulkan karena pesan moral yang hendak disampaikan.
Ide film ini sederhana, bercerita tentang semangat siswa Kejar Paket A dalam kegiatan eksperimen. Dengan keluguan dan kebodohannya, dua siswa sekolah penyetaraan ini berusaha membuktikan bahwa binatang mamalia yang memiliki daun telinga berkembang biak dengan beranak, dan yang tidak berdaun telinga bertelor.
Setali tiga uang, ’’Ling-lung’’ juga menawarkan komedi. Diceritakan seorang pelajar yang sangat pelupa, berjibaku melawan ’’penyakit’’ pikunnya. Secara teknis, film ini sangat unggul. Tuturan visual yang disuguhkan sangat memadai sebagai sebuh film. Namun ending -nya mudah ditebak, dan pesan yang disampaikan terlalu umum.
Secara umum, menurunnya kualitas film pelajar ini erat kaitanya dengan sistem pendidikan di sekolah. Selama ini praktik pendidikan masih mengedepankan hapalan dari pada penggalian ide dan logika kreatif siswa. (10)
— Teguh Trianton, periset Beranda Budaya Banyumas, Juri Festival Film Purbalingga
Diposting oleh Anonim di Selasa, Juni 29, 2010 0 komentar
Label: Banyumas, Film, Pendidikan, Purbalingga
13 Januari 2010
Sinematografi
Menimbang Purbalingga Lewat Film
Oleh Teguh Trianton
Secara kasat mata, pembangunan di wilayah selatan (
Keberhasilan ini dianggap sebagai salah satu kado terindah dari pemerintah bagi masyarakat dalam perayaan hari jadi ke 179 Purbalingga. Kado ini juga menandai momen tutup tahun 2009 dan menjelang berahirnya masa jabatan Triyono Budi Sasongko (TBS) sebagai bupati.
Di luar itu, pada akhir masa jabatannya, bupati TBS juga berhasil membangun kembali stadion olah raga bernama Goentoer Darjono. Kemudian merealisasikan pembangunan museum wayang dan artefak, serta berhasil mengukuhkan (baca: membawa) Purbalingga sebagai kabupaten pro invesatasi tertinggi di Jawa Tengah.
Itulah gambaran terkini kondisi Purbalingga dalam bingkai perayaan 179 tahun Purbalingga dari sudut pandang pemerintah setempat. Gambaran yang sama juga terpampang dalam display stand-stand di Purbalingga expo tahun 2009 yang berlansung selama sepekan di penghujung tahun 2009 lalu.
Gambar Film
Gambaran benda-benda mati tentang Purbalingga di atas tentu saja berbeda, bahkan kontras dengan gabar hidup yang berhasil diabadikan oleh sejumlah pekerja seni -industri kreatif- di Purbalingga. Lihatlah enam judul film pendek terbaru karya sineas muda Purbalingga yang sengaja dibuat sebagai kado hari jadi Purbalingga.
Dengan sudut pandang berbeda, enam sutradara muda yang tergabung dalam wadah Cinema Lover Community (CLC) berhasil mendokumentasikan wajah lain Purbalingga. Hasil karya mereka patut dipertimbangkan dan dijadikan bahan inisiasi serta melihat bagaimana seharusnya pembangunan Purbalingga di masa datang.
Buruh
Dalam film “Trima Hidup Apa Adanya”, Bowo Leksono sang sutradara mencoba menyuguhkan narasi pendek tentang nasib seorang buruh pabrik pengolah rambut terbesar di Purbalingga. Trima adalah nama seorang buruh dari sekitar 50 ribu buruh yang bekerja di perusahaan dengan penanam modal asing (PMA).
Meski ia bekerja di perusahaan PMA, namun bayaran yang diterima belum setara UMK yang sekarang berlaku. UMK Purbalingga tahun 2009 sebesar Rp 618.750, sementara gaji yang diterima buruh pabrik di Purbalingga berkisar Rp. 250.000 hingga Rp 500.000. Sementara itu, survei Kebutuhan Hidup Layak (KHL) tahun 2010 ditetepkan sebesar Rp 803.000 dengan UMK sebesar Rp 695.000.
Padahal mereka masih harus menanggung ongkos transportasi setiap hari, biaya sekolah anak dan biaya hidup keluarga. Namun Trima menerima nasib itu apa adanya, seperti ribuan perempuan pekerja lainnya, yang menjadi tulang punggung keluarga.
Dengan durasi 19,32 menit, Bowo mampu memadatkan visualisi nasib ribuan buruh di Purbalingga. Trima hanyalah satu contoh gambar karikatur. Betapa predikat Kabupaten Proinvestasi belum mampu menjamin keberlangsungan hidup masyarakatnya.
Segamas
Sementara itu, tiga sutradara muda lainnya mencoba mengangkat satu tema yang sama. Dengan angel berbeda, ketiganya seperti menyusun tiga episode berseri kisah tragik pedagang di Pasar Segamas dan keriuhan jalan raya di Purbalingga.
Film ‘Segamas’ menjadi film terpanjang dalam kompilasi film bertajuk ‘Kado Buat Kota Tercinta’. Segamas mengangkat kisruh seputar relokasi pasar lama ke lokasi baru yang sekarang. Dalam film berdurasi 26,37 menit ini, Nanki Nirmanto –sutradara- berhasil menyuguhkan perselisihan antara pedagang dengan disperindagkop selaku pemegang kebijakan pengelolaan pasar.
Dilingkapi petikan pernyataan anggota DPRD dan Kepala Disperindagkop di sela-sela celoteh polos par pedagang, membuat seri dokumenter ini mirip liputan khusus seputar Segamas. Secara tegas film ini menunjukan bahwa pemindaan pasar dan pengelolaannya lebih banyak merugikan pedagang. Semenatara disperidagkop berkeras semua telah sesuai desain dan melalui kajian mendalam.
Serial ‘Segamas’ berlanjut dengan film ‘Daging Yang Tak Laku’. Film ini adalah satu fragmen garapan sutradara Shinta yang bertutur tentang nasib pedagang daging ayam yang mengalami penurunan omzet penjualan akibat relokasi pasar dan letak kios yang kurang strategis.
Episode ketiga adalah film mini “Uwis Sesek” sutradara Anargya Uswan. Film ini mendokumenterkan kondisi carut-marut lalulintas di Kota Purbalingga. Kepadatan kendaraan dalam film ini mencerminkan rendahnya kesadaran berlalu-lintas dan manajemen jalan raya.
Pendidikan dan Kesehatan
Dua film kado lainya adalah ‘Curug oh Curug’ sutradara Elma sulistiya Ningrum dan ‘Harapan Novita’ besutan Aris Prasetyo. Curug oh Curug berkisah tentang nasib sebuah objek wisata alami berupa air terjun yang terbengkalai di tengah gencarnya pembangunan objek wisata imitasi.
Sedangkan ‘Harapan Novita’ bertutur tentang kisah hidup seorang pelajar di sebuah SMP kecil di desa terpencil yang memiliki cita-cita menjadi dokter. Cita-cita Novita ini dilatar belakangi oleh kondisi perekonomian penduduk desa yang berada di bawah garis kemiskinan, sehingga tidak memiliki cadangan biaya hidup untuk urusan kesehatan.
Bahkan untuk bersekolah, para pelajar di desa harus menempuh perjalanan jauh tanpa sepatu lantaran jalan yang dilalui penuh dengan lumpur. Sementara untuk belajar di rumah pada malam hari, anak-anak tak mendapat penerangan yang cukup.
Terlepas dari teknis pengambilan gambar dan prosesi editingya, keenam film dokumenter tersebut, layak dijadikan penyeimbang untuk menghitung ulang keberhasilan pembangunan di Purbalingga.
Film-film ini sesungguhnya tengah membantu pemerintah memetakan permasalahan riil yang dihadapi masyarakat Purbalingga. Sehingga, siapapun yang akan memimpin Purbalingga ke depan, memiliki gambaran nyata tentang apa yang harus dilakukan, sesuai dengan kehendak rakyat.
Teguh Trianton, Periset Beranda Budaya (Banyumas)
Posting cetak: : Suara Merdeka Edisi Rabu, 13 Januari 2010
Diposting oleh Anonim di Rabu, Januari 13, 2010 1 komentar
Label: Film, Pendidikan, Purbalingga
21 Juli 2009
Redefinisi Film Sastra
Frase ini belakangan biasa diucapkan pada kontestasi ihwal perkembangan dunia industri kreatif (film) terkini. Istilah FS ditengarai pertama kali muncul bersamaan dengan berterimanya film berjudul Ayat-Ayat Cinta (AAC) yang diadaptasi dari novel berjudul sama.
Novel AAC mendapat legitimasi dan label novel Islam serta berterima di masyarakat pascaekranisasi. Label islami dan ekranisasi membawa AAC pada perdebatan panjang mengenai kadar kesastraanya. Nah dari sini kemudian seolah-olah telah lahir genre film sastra, yaitu film yang membawa pesan religius, pendidikan, dan tidak vulgar.
Dari sini pula, publik penikmat dua genre karya seni-yang sesungguhnya memiliki karakteristik-berbeda itu diajak meraba-meraba apa sebenarnya difinisi FS yang dimaksud. Genre film baru atau hanya sebuah label atau bahkan hanya kemenoran bahasa.
Jika FS merupakan genre film baru, terminologi ini secara tidak langsung telah mendikotomi film-film lain. Istilah FS menjadi demarkasi bahwa ada film lain yang tidak masuk kategori ini. Istilah FS juga telah menyudutkan film-film lain yang bercerita tentang hedonism, virginitas, seksualitas, yang tidak secara terang-terangan dibungkus dengan label agama (Islam).
Ali Imron (2009) dalam satu makalahnya menyebutkan bahwa yang dimaksud FS adalah film yang diangkat dari karya sastra literer yang dipandang memiliki keharmonisan metode penceritaan dan ide yang dikandung. Di sini substansinya jelas pada kata "diangkat" atau diadaptasi. Sebab, keharmonisan penceritaan dan ide masuk pada wilayah teknis pengucapan.
Cara ucap film dan literer jelas berbeda. Film berucap melalui serangkaian sistem tanda yang bertumpuk dan kompleks, sedangkan sastra berucap dengan sistem tanda yang sangat sederhana berupa bahasa tulis. Dalam pandangan Pierce, sistem tanda pada film dan sastra memiliki kesamaan yaitu terdiri dari ikon, indeks, dan simbol.
Yang membedakan adalah tingkat kompleksitasnya. Ikon, indeks, dan simbol pada sastra dipresentasikan dengah bahasa tulis. Pada film ketiga, sistem tanda tersebut dipresentasikan dengan bahasa tulis, lisan, suara musik, alam, gambar latar, gambar bergerak, yang membentuk plot.
Nah, dengan demikian terminologi film sastra sesungguhnya telah memiliki padanan istilah yaitu ekranisasi, atau adaptasi, atau filmisasi karya sastra. Lalu pertanyaanya adalah kenapa istilah film sastra baru muncul belakangan. Sementara proses adaptasi karya sastra ke dalam film telah terjadi sejak lama.
'Ekranisasi'
Dalam catatan sejarah film di Indonesia terbaca bahwa sebagaian besar film layar lebar yang pernah diproduksi merupakan hasil adaptasi atau ekranisasi. Tahun 1977, Teguh Karya mengangkat novel Badai Pasti Berlalu (BPS) karya Marga T. (1974) menjadi sebuah film legendaries.
Bahkan, kepiawaian sutradara bekerjasama dengan penata musik latar (soundtrack) yang dipercayakan pada Eros Djarot dianggap mampu melahirkan sintesis estetika yang mumpuni. Namun BPS tak pernah disebut sebagai film sastra.
Pada yang paling klasik seperti film Romeo and Juliet, Hamlet, atau Julius Caesar di Eropa sampai Ramayana juga Mahabharata di Asia, tak sekalipun disebut sebagai film sastra. Termasuk Harry Potter.
Sesungguhnya pada kasus di Indonesia, jika yang dimaksud dengan film sastra adalah film adaptasi karya sastra, saya berani menyimpulkan bahwa hampir seluruh film yang beredar di bioskop adalah film sastra. Termasuk film popular sekalipun.
Kita ingat Eiffel I'm in Love, Dealova, Cintapucino, Jomblo, Kawin Kontrak, dan lain-lain. Ada lagi Si Doel Anak Betawi, Lupus, Gie. Atau yang terbaru, Laskar Pelangi, Perempuan Berkalung Sorban, semuanya dapat disebut film sastra karena diadaptasi dari karya sastra.
Redifinisi
Dalam pandangan saya, perlu redifinisi terminologi FS. Istilah ini sesungguhnya baru mendapatkan signifikansinya setelah berhadapan dengan tiga pertanyaan.
Pertama, apakah yang dimaksud FS hanya sebatas ekranisasi. Jika iya, semua film adalah film sastra kecuali film (animasi) yang tak memiliki rujukan dengan karya literer. Dan tak perlu ada dikotomi antara yang berlabel islami dan tidak islami. Sebab yang penting adalah pesan yang disampaikan bukan baju yang dikenakan.
Kedua, apakah yang dimaksud FS adalah film yang bercerita tentang kisah hidup seorang penulis (sastrawan). Jika ini, di Indonesia belum ada film layar lebar yang secara detail bercerita kehidupan penulis sastra. Artinya tak ada FS di Indonesia.
Ketiga, apakah FS adalah film yang cara bertuturnya menggunakan bahasa sastra, yang cenderung multiinterpretasi. Jika iya, film-film garapan Garin Nugroho dapat masuk pada ketegori ini. Sebab film Garin banyak memainkan simbol, indeks, dan ikon metaforis audio visual- yang bertumpuk.
Atau jangan-jangan terminologi film sastra hanya sebuah istilah--kemenoran bahasa--hasil bentukan dari dua kata yang memiliki rujukan yang berbeda, kemudian menjadi satu frase baru yang belum ada referensinya?
(Opini – Lampung Post, Sabtu, 18 Juli 2009)
Diposting oleh Anonim di Selasa, Juli 21, 2009 0 komentar
Label: Film, Sinematografi
11 Juli 2009
Membaca Film Banyumas
Oleh Teguh Trianton
DI Banyumas, film awalnya hanya diperlakukan sebagai salah satu varian hiburan kelompok sosial tertentu (elite). Film hanya dapat ditonton oleh mereka yang memiliki kelebihan finansial.
Perkembangan berikut, film mampu menembus demarkasi kelas sosial. Bahkan film kini menjadi ’’barang’’ hasil kerajinan industri kreatif rumahan yang mudah diperoleh. Ada puluhan rumah produksi film pendek bertebaran di Banyumas.
Kegiatan menonton film telah jadi bagian dari kehidupan masyarakat. Film menjadi media masa yang efektif menyampaikan pesan. Kehadiran film mampu memengaruhi pola pikir, dan cara tindak individu baik sebagai pribadi maupun kolektif. Kemudian film dianggap efektif untuk menanamkan suatu ideologi secara laten.
Lalu bagaimana dengan film pendek Banyumas yang telah berterima di masyarakat? Tulisan ini akan mendeskripsikan bagaimana citra perempuan Banyumas digambarkan melalui sistem tanda sebagai unsur pembentuk film (Sobur, 2006).
Dari puluhan judul film karya sineas Banyumas, setidak-tidaknya ada empat film yang secara tegas merepresentasikan posisi perempuan Banyumas. Pertama Film Senyum Lasminah, kedua Peronika, ketiga Gajian dan keempat Tasmini. Keempat merupakan karya sineas lokal Banyumas yang tergabung dalam Cinema Lover Community (CLC).
Citra Positif
Citra adalah gambaran yang disajikan dan kemungkinan terekam oleh penonton. Pencitraan dapat membentuk mitos dan ideologi. Secara positif, ideologi menurut Jorge Larrain (Sobur, 2006) dipersepsi sebagai pandangan dunia (wordview) yang menyatakan nilai-nilai (budaya) entitas sosial tertentu untuk membela dan memajukan kepentingan-kepentingan mereka.
Dalam Senyum Lasminah —film terbaik kategori budi pekerti Festival Video Edukasi 2007— perempuan dicitrakan sebagai entitas masyarakat kelas rendah yang sadar budaya. Film ini bercerita tentang kehidupan perempuan di Banyumas yang masih mewarisi kearifan lokal berupa tradisi membatik.
Lasminah adalah gambaraan perempuan muda yang sadar budaya. Ini satire, sebab dalam kondisi kontemporer, hanya mereka (perempuan) yang telah berusia lanjutlah yang mau mewarisi tradisi membatik. Lasminah membatik adalah gambaran positif perempuan muda di Banyumas.
Pada scene lain, resistensi Lasminah terhadap ajakan Surti (teman kecil yang baru pulang dari rantau) untuk ke Jakarta hanya sebuah sindiran. Sebab situasi seperti ini sangat langka terjadi di Banyumas. Tapi bukan berarti tidak mungkin terjadi.
Sementara pada film Peronika, dan Gajian, sosok perempuan Banyumas yang diperankan Jamilah, dicitrakan sebagai ibu rumah tangga yang baik. Sebagai perempuan desa yang berstatus istri, Jamilah sukses menjalani tertib rumah tangga. Ia memasak di dapur, dan meladeni suami.
Citra yang sama hadir melalui sosok Lasmi dalam film Tasmini. Lasmi sukses menjalankan tertib ibu rumah tangga di desa. Kehidupan sehari-hari Lasmi diisi dengan kegiatan mencuci pakaian di sumur, menjemur, dan memasak untuk suami.
Sementar itu, kehadira tokoh Surti dalam Senyum Lasminah justru membentuk citra negatif perempuan Banyumas. Sosok Surti menggambarkan tradisi merantau yang begitu mengakar di Banyumas. Kondisi yang jamak ditemui di wilayah pedesaan di Banyumas.
Perempuan yang baru lulus SMP, bahkan SD yang tak mampu melanjutkan studi memilih merantau dan jadi TKW pada sektor domestik di Jakarta, bahkan luar negeri.
Dalam Gajian, citra negatif diwakili sosok bakul jamu gendong. Meski tidak semua, namun sebagai bakul jamu, perempuan tak mampu menolak stereotipe negatif. Ia dimitoskan pandai merayu calon konsumen, dengan kalimat-kalimat berbau erotik memaksa konsumen pria mau mengkonsumsi jamunya.
Sementara itu, salah satu karakter wong Banyumas yang kental dengan tradisi keberlisanan adalah kebiasaan dopokan (ngobrol atau bergunjing). Dalam konotasi negatif gunjuingan lazimnya dilakukan oleh kaum perempuan di desa.
Bergunjing terekam dalam film Tasmini. Lasmi yang tengah memotong sayur di teras rumah gedheg terlibat pergunjingan dengan tetangga yang baru pulang dari pasar. Gunjingan yang lebih mendekati provokasi ini meluncur dari mulut tetangga Lasmi.
Ia dengan nada dan ekspresi sinis, berkata pada Lasmi bahwa sang suami terlihat berselingkuh dengan perempuan bernama Tasmini di sebuah toko tas. Faktanya, Parno —suami Lasmi— berada di toko hendak membeli tas ukuran mini (kecil) sebagai hadiah untuk Lasmi.
Kasur, Sumur, Dapur
Secara umum, citra perempuan Banyumas tak pernah jauh-jauh dari tiga kebutuhan dasar rumah tangga di desa. Peran perempuan selalu berputar di wilayah dapur, sumur, dan kasur.
Dalam keempat film tersebut, secara umum perempuan dicitrakan marginal. Baik Jamilah, Lasminah, Surti, Lasmi, dan bakul jamu sama-sama memerankan sosok perempuan dalam tiga wilayah dasariah tersebut. Film Senyum Lasminah dimulai dengan scene Lasminah yang menimba air dari sumur untuk mandi dan memasak. Jamilah dalam Peronika dan Gajian sangat tegas menggambarkan ibu rumah tangga yang sukses mengelola urusan dapur (dan kasur).
Penggambaran posisi marginal ini tentu saja dapat dipahami sebagai bentuk resistensi (perlawanan) atas ketimpangan perilaku gender pada masyarakat desa di Banyumas.
Tatkala film banyak mengangkat isu ketimpangan gender, ia dituduh telah mengonstruksi bias gender. Membentuk mitos. Sebaliknya film yang secara banal mengangkat realitas, dapat berfungsi sebagai penolakan atas mitos tersebut. Di sini terjadi opisisi biner antara dua wilayah yang selalu berhadap-hadapan di belakang kenyataan yang terjadi. (35)
—Teguh Trianton,
aktif di Beranda Budaya, Banyumas
Diposting oleh Anonim di Sabtu, Juli 11, 2009 0 komentar
09 Juni 2009
Kearifan Lokal Banyumas
Oleh Teguh Trianton

Jika kita merunut ulang perkembangan dunia seni sinematografi di Banyumas Raya dalam lima tahun terakhir, maka kita akan menemukan dua tesis menarik. Pertama, fenomena menjamurnya komunitas film pendek di Kabupaten Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Banjarnegara. Kedua, berkembangnya ideologi multikultuarilisme berbasis kearifan lokal (local wisdom) dalam karya para sineas lokal.
Yang menarik dari tesis pertama adalah bahwa geliat industri kreatif ini tak lepas dari pasang-surut. Ini terjadi karena beberapa faktor; konflik kepentingan, tekanan dari penguasa (pemerintah), hingga persaingan kurang sehat antar beberapa komunitas.
Persemaian dunia industri kreatif (seni sinematografi) di Banyumas dimulai pada tahun 1999. Saat itu sejumlah mahasiswa di Purwokerto mencoba menghelat pagelaran film pendek. Tahun 2001 Youth Power (Purwokerto), kelompok kerja nirlaba lintas seni memproduksi film perdana berjudul ‘Kepada Yang Terhormat Titik 2’, disusul film ‘Surat Pukul 00:00” (2002). Namun eksperimentasi ini terhenti.
Perkembangan yang mengesankan justru berangkat dari Purbalingga. Tahun 2004 Cinema Lovers Community (CLC) memulai debut perdana. Laeli Leksono Film memvisualisasi naskah cerita pendek berjudul ’Orang Buta dan Penuntunnya” (OBdP), karya Ahmad Tohari.
CLC adalah sebuah lembaga nirlaba yang mewadahi sineas Purbalingga. CLC adalah tonggak perfilman Banyumas. Hingga kini CLC mewadahi sekitar 22 rumah produksi film lokal Purbalingga.
Sementara di komunitas film pendek di Purwokerto dan Cilacap ditampung oleh dua lembaga film yaitu Arisan Film Forum (AFF) Purwokerto, Komunitas Sangkanparan Cilacap. Bersama CLC, ketiga komunitas ini membentuk Jaringan Kerja Film Banyumas (JKFB).
Namun pergerakan pasang surut sinematografi di Banyumas ini tampak nyata di Purbalingga. Beberapa kali perhelatan film yang digelar CLC mendapat tekanan dan pelarangan dari pemerintah setempat. Tetapi CLC kokoh dengan pendiriannya, bahkan hingga tahun 2009 ini CLC berhasil menyelenggarakan tiga kali festifal film pelajar.
Meski tanpa campur tangan (perhatian) pemerintah, kegiatan bertajuk Purbalingga Festival Film (PFF) ini menjadi barometer perkembangan film pendek di Banyumas Raya. Puluhan film pendek produksi sineas pelajar se Banyumas selalu ambil bagian.
Kearifan Lokal
Film, dalam konteks media masa lewat sajian yang selektif dan penekanan pada tema-tema tertentu akan menciptakan kesan (imaji) tertentu pada penonton (Melvin DeFleur). Artinya film berkuasa mendefisinikan norma-norma budaya masyarakat.
Budaya adalah tentang keberadaan (distinctiveness) kelompok-kelompok sosial yang memberikan mereka identitas. Kebudayaan merupakan batasan (norma) dalam hidup manusia. Di dalamnya terdapat respon manusia terhadap masyarakat, atau lingkungannya, dan dunia secara umum.
Kebudayaan oleh Koentjaraningrat disyaratkan memiliki tujuh unsur esensial, yaitu: Bahasa, sebagai perwujudan budaya yang digunakan untuk berkomunikasi. Kemudian sistem pengetahuan, sistem organisasi kemasyarakatan, sistem peralatan hidup, dan teknologi. Berikutnya, sistem mata pencaharian, sistem religi, dan upacara keagamaan, dan terahir adalah kesenian.
Kesenian merupakan unsur budaya yang mengacu pada estetika yang berasal dari ekspresi hasrat manusia. Sebagai makhluk yang mempunyai cita rasa tinggi, manusia menghasilkan berbagai corak kesenian mulai dari yang sederhana hingga perwujudan kesenian yang kompleks termasuk film.
Konsistensi isu dalam film Banyumas menjadi menarik. Mengingat khasanah budaya Banyumas saat ini mulai memudar, tergerus arus budaya asing. Di hadapan pergeseran nilai budaya, posisi budaya lokal saat ini cenderung termarginalkan. Keajekan pada unsur–unsur budaya lokal menjadi trademark atau bahkan ikon film Banyumas.
Sebagai produk budaya, keberadaan film Banyumas menyimpan potensi sebagai media dokumentasi budaya atau videografi budaya (cultural videography). Videografi merupakan media komunikasi yang cukup efektif dalam rangka pelestarian dan perayaan keragaman budaya lokal.
Pasal 3 Undang-undang No. 8 Tahun 1992 tentang Perfilman, menyebutkan bahwa film diarahkan antara lain untuk pelestarian dan pengembangan budaya bangsa, peningkatan kecerdasan bangsa, pengembangan potensi kreatif di bidang perfilman, dan penyajian hiburan yang sehat sesuai dengan norma-norma kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.
Konsistensi –mengusung- budaya lokal juga terlihat pada film ‘Peronika’, Senyum Laminah (SL), Pasukan Kucing Garong (PKG), Boncengan, Metu Getih, Lengger Santi, Cuthel, dan lain-lain. Selain menggunakan dialek ‘ngapak’, film ini juga mengangkat tema kehidupan keseharian masyarakat kecil (marginal) di Banyumas.
Pada SL terdapat scene –tradisi- membatik. Sebuah tradisi ‘langka’ yang sudah mulai memudar dan membutuhkan regenerasi. Film Cuthel mengajarkan falsafah hidup orang Banyumas, yang pantang menyerah. Nilai-nilai kejujuran (cablaka), toleransi, dan budi pekerti digambarkan dalam film ini.
Secara garis besar, keajekan film Banyumas dapat dilihat dari empat arus besar. Yaitu penggunaan bahasa Banyumas dialek ‘ngapak’sebagai salah satu unsur penting membangun plot. Kedua, seting masyarakat asli Banyumas. Ketiga, atribut (aksesoris) pendukung berupa simbol, ikon, dan indeks visual yang muncul dalam scene. Dan keempat tema kehidupan masyarakat kelas bawah.
PFF
Purbalingga Film Festival (PFF) merupakan ajang kompetisi kreatifitas dan potensi pelajar SMA/SMK/MA se-Banyumas Raya di bidang sinematografi. Ajang ini menjadi salah satu elan positif bagi perkembangan industri kreatif di tingkat pelajar. Saat ini PFF menjadi satu-satunya barometer perkembangan sinematografi di Banyumas.
Tahun 2009 ini PFF masuk usia ketiga. PFF pertama digelar pada tahun 2007. Pada tahun pertama PFF sempat mendapat ‘sparing patner’ yaitu perhelatan yang sama bertajuk Festival Film Banyumas (FFB) yang digagas Komunitas Jurnalis Televisi Purwokerto (KJTP). Namun ajang ini hanya sekali digelar.
Dari tiga kali PFF (Tahun 2007, 2008, dan 2009), telah muncul sekitar 50 judul film pendek Banyumas. Begitu banyak tema yang diangkat dalam film-film karya pelajar tersebut. Kearifan lokal telah menjadi mindset dan ideologi film-film ini. Sehingga penyelenggaraan PFF turut merayakan semangat multikulturalisme dan pluralitas budaya berbasis kearifan lokal Banyumas. (Forum KOMPAS Jateng-Jogja, Sabtu 06 Juni 2009)
Staf Edukatif SMK Widya Manggala,
Periset Beranda Budaya (Banyumas).
Diposting oleh Anonim di Selasa, Juni 09, 2009 0 komentar
Label: Banyumas, Budaya, Film, Sinematografi
https://orcid.org/0000-0002-3765-8899