20 Mei 2008

Ritual Embun

Share

Puisi Teguh Trianton dalam antologi 'Untuk Sebuah Kasihsayang'

Ritual Embun

Telah kucumbui setiap daun yang menjuntai dari ranting biografi yang tercecer. Sepanjang malam, meneliti setiap lekuk dan gurat tubuh yang telanjang dari segala basa-basi.

Aku lucuti busana kebohongan itu, satu persatu kulepaskan sendi antara daun dan ranting sejarah yang kian menua.

Mataku embun terasah, yang menyilet puisi, menbedah nadi, uraikan segala dusta yang tersusun rapi, dalam narasi bulan yang mencuri terang dari matahari.

Telah kucumbui ujung-ujung pinus, menyibak lipatan kisah, yang kusut bersama tiupan angin, patahkan kegelapan menyambut matahari.

Telah kutamatkan satu episode malam, bersama hangat yang menjemputku bermigrasi ke balik awan.

Purbalingga, 30 Juni 2004



Off The Record

Tragedi Sebuah Puisi

Ada gumam yang menggema dalam dada, tatkala kekasih yang tunggal jatuh dalam dekapan nafas memburu.

Aku terkejut, saat mendapati ribuan puisi merah hati, berserak tak terpetakan di antara jantung dan paru. Adakah kekasih yang tunggal, belum sempat menghimpunnya menjadi satu alinea cinta?

Ada khawatir yang mengetuk-ngetuk jendela batinku, ketika puisi tak pernah rampung aku susun. Karena jarum yang menyulam jiwa terbelit rindu kekasih.

Jeratlah aku, ikat dengan benang merah jambu, tambatkan pada kelingkingmu, kurung aku dengan kalbumu, bunuh dan kuburkan aku, jadikan jantung sebagai nisan, paru sebagai kembang, semayamkan dalam benak yang terdalam.

Kekasih, rahasiakan tragedi ini.

Purwokerto, 30 Juni 2004



Narasi Air Rasa

Akulah air mengalir itu. Dan kau adalah sungai yang telah memperdayaku. Dengan lekuk dan gemulai, tubuhmu yang menari, menjelajah hati.

Angin kabarkan pada hujan. Aku telah lama merindu rinainya. Bergegaslah, jemput aku. Sehingga tubuh sungai itu, rata dengan air mata.

(Dalam setengah tarian sungai, aku meminta, untuk bercinta pada muara.)

Dan di laut nanti, aku berikrar.

“Akulah gelombang yang menderu senyap”

Purwokerto, 19 Juli 2004




Happy Ending

Jika telah sempurna semua syarat dan wudu-mu. Bergegaslah, tunaikan jamaah fitri. Melengkapi rakaat para nabi. Bercinta dalam puisi.

Purbalingga - Purwokerto, Juli 2004


| More

18 Mei 2008

Kutenggelamkan Sepi Dalam Lamunanmu

Share

Puisi Teguh Trianton dalam antologi 'Untuk Sebuah Kasihsayang'


Kutenggelamkan Sepi
Dalam Lamunanmu
bagi : DNS


Kutenggelamkan sepi dalam lamunan
yang menderai sukma. Angin ragawi
meniupkan angan pada kecantikan sorga.
Malaikat maut melambai-lambaikan
sayap, hingga dingin menusuk wadagku.

Aku terpesona pada indah tarianmu,
yang gemulai menggoyang pinggul dedaunan.

Kutenggelamkan sepi dalam lamunanmu.

Purwokerto, 27 Mei 2004

Sementara itu
: Haryono Sukiran


Sementara itu
aku masih saja sibuk,
menghitung berapa helai
sisa uban yang berhasil
aku sembunyikan.


Dari balik cream berwarna jantan itu
aku semakin terpesona. Pada
bintang bertaburan yang
mengagumi sisa-sisa nafasku.

Sementara itu,
matahari sudah semakin lapuk.
Menatapku dengan wajah pucat pasi

Aku tersenyum ketir.
Memandangi senja yang
menggoreskan siluet kelam
pada layar batin ini.

Purbalingga, 27 Mei 2004


Lengkap Sudah Kegundahan ini

Hari ini ada dendam yang telah terpatahkan oleh pijar matahari, saat jemari tanganku bergetar berpayah meraih bongkahan masa silam yang tercecer di tubir malam.

Seraut pagi menghembus sejuk menghela tangkai nurani menjatuhkan embun yang rontok bersama daun sejarah yang layu.

Kekasih,
lengkap sudah kegundahan ini.

Purbalingga - Purwokerto, 29 Mei 2004

Lebih Dari Apa
: ry_ry

Lebih dari apa.
Malam ini hampir sempurna dengan sekeping bulan dan bintang yang berserakan.

Adik...
Taukah kau, jika malam ini kan jadi sempurna dengan mawar yang terkulai manja dalam lipatan dada.

Kenapa kau tak datang sayang, untuk jadi matahari melengkapi bulan dan bintang yang berpijar di langit biru batin ini.

Purbalingga - Purwokerto, 1 Juni 2004



Pelacur Yang Diperkosa

“Aku jatuh cinta pada senja yang telah lama menunggu di batas rinai waktu,” katamu menutup penyesalan yang selalu terulang setiap akhir perjamuan.

Aku adalah pelacur yang diperkosa, bukan oleh sejuta lelaki berkepala kelinci, tetapi oleh segala bintang yang berserak di langit kelam.

Aku bersenggama dengan segala merk dagang, tubuhku ditelanjangi dengan segala busana, bibirku dicumbui segala lipstik, rambutku dijamah segala warna pelangi, batang hidung, pantat dan segala tetek dihisap silikon sehingga segar tampak mata.

Aku pelacur yang diperkosa, tak pernah merasa bersalah telah membagi kasih sayang pada segala merk dagang. Sebab aku telah jatuh hati pada kekasih yang menungguku dibalik senja. Kekasih yang tak pernah membedakan raga. Kekasih yang tak pernah meminta. Yang berhembus besama nafas, mengalir dalam darah.

Aku pelacur yang diperkosa, terkulai lemas di ujung teras rumah Kekasih, menunggu pintu terbuka, dengan anak kunci yang telah jadi penyesalan.

Aku pelacur yang diperkosa.

Purbalingga, 30 Juni 2004


| More

17 Mei 2008

Hujan Melukis Wajahmu

Share

Teguh Trianton dalam 'Untuk Sebuah Kasihsayang'


Pantai Widara Payung
Bersama Achid BS

Sejak tiba, kita selalu berdebat tentang ombak,
yang tak pernah henti berdebur mencumbu pantai.

Kita tenggelam, larut bersamanya
Hingga akupun lupa, jika laut di hati ini
Tengah pasang.

Menderu tenggelamkan melati,
Yang terbang bersama angin.

Purbalingga - Cilacap, 29 Feb 2004

Pisces

Jika kau rindu pada bening,
dan sejuk mata air.

Maka tenggelamkan tubuhmu,
kepakkan indah siripmu.

Menarilah dalam kejernihan sungai
yang mengalir membelah hati ini.

Purbaingga - Purwokerto, 2 Maret 2004


Sketsa Sebuah Pagi
untuk X

Menatap parkit yang tengah bercumbu di antara buah dan tangkai. Ingatkan pada percintaan kita yang tak pernah tuntas itu.

Aku rindu cericit parkit, suflir hijau muda di teras rumahmu. Aku rindu anggrek, kemuning, soka dan semua yang membiru hati ini.

Aku rindu semut yang ramah menyapaku, saat tengah bersimpuh di serambi hatimu. Pada sepasang kupu-kupu yang tersenyum renyah, menanatapku yang bersusah menahan rindu.

Tapi aku juga rindu, pada bunga mekar dalam taman hati ini. Di mana kita biasa bertemu untuk melepas hasrat, melucuti keangkuhan, jauh di lubuk keheningan, bercumbu hingga habis semua syarat dan wudu-ku.

Purwokerto, 5 Maret 2004

Karena Kau Bunga

Karena Kau Bunga
Relakan aku menyuntingmu
Dengan persembahan
Di atas altar sajadah
Air mata

Karena kau bunga
Harumkan setiap tarikan nafasku
Belitkan tangkaimu pada setiap ruas rindu

Karena kau bunga
Jadikan aku penyunting tercantikmu.

Purbalingga, Maret 2004

Hujan Melukis Wajahmu

Garis yang berjatuhan
Membentuk sketsa tirus
Menancapi dada

Purbalingga, 6 Maret 2004

Fragmen Sebuah Taman

Mawar,
Seberapa kuat durimu
Menancapi dada

Purwokerto, April 2004

| More
Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.