Ritual Embun
Telah kucumbui setiap daun yang menjuntai dari ranting biografi yang tercecer. Sepanjang malam, meneliti setiap lekuk dan gurat tubuh yang telanjang dari segala basa-basi.
Aku lucuti busana kebohongan itu, satu persatu kulepaskan sendi antara daun dan ranting sejarah yang kian menua.
Mataku embun terasah, yang menyilet puisi, menbedah nadi, uraikan segala dusta yang tersusun rapi, dalam narasi bulan yang mencuri terang dari matahari.
Telah kucumbui ujung-ujung pinus, menyibak lipatan kisah, yang kusut bersama tiupan angin, patahkan kegelapan menyambut matahari.
Telah kutamatkan satu episode malam, bersama hangat yang menjemputku bermigrasi ke balik awan.
Purbalingga, 30 Juni 2004
Off The Record
Tragedi Sebuah Puisi
Ada gumam yang menggema dalam dada, tatkala kekasih yang tunggal jatuh dalam dekapan nafas memburu.
Aku terkejut, saat mendapati ribuan puisi merah hati, berserak tak terpetakan di antara jantung dan paru. Adakah kekasih yang tunggal, belum sempat menghimpunnya menjadi satu alinea cinta?
Ada khawatir yang mengetuk-ngetuk jendela batinku, ketika puisi tak pernah rampung aku susun. Karena jarum yang menyulam jiwa terbelit rindu kekasih.
Jeratlah aku, ikat dengan benang merah jambu, tambatkan pada kelingkingmu, kurung aku dengan kalbumu, bunuh dan kuburkan aku, jadikan jantung sebagai nisan, paru sebagai kembang, semayamkan dalam benak yang terdalam.
Kekasih, rahasiakan tragedi ini.
Purwokerto, 30 Juni 2004
Narasi Air Rasa
Akulah air mengalir itu. Dan kau adalah sungai yang telah memperdayaku. Dengan lekuk dan gemulai, tubuhmu yang menari, menjelajah hati.
Angin kabarkan pada hujan. Aku telah lama merindu rinainya. Bergegaslah, jemput aku. Sehingga tubuh sungai itu, rata dengan air mata.
(Dalam setengah tarian sungai, aku meminta, untuk bercinta pada muara.)
Dan di laut nanti, aku berikrar.
“Akulah gelombang yang menderu senyap”
Purwokerto, 19 Juli 2004
Happy Ending
Jika telah sempurna semua syarat dan wudu-mu. Bergegaslah, tunaikan jamaah fitri. Melengkapi rakaat para nabi. Bercinta dalam puisi.
Purbalingga - Purwokerto, Juli 2004
https://orcid.org/0000-0002-3765-8899
0 Comments:
Post a Comment