Teguh Trianton dalam 'Untuk Sebuah Kasihsayang'
Pantai Widara Payung
Bersama Achid BS
yang tak pernah henti berdebur mencumbu pantai.
Kita tenggelam, larut bersamanya
Hingga akupun lupa, jika laut di hati ini
Tengah pasang.
Menderu tenggelamkan melati,
Yang terbang bersama angin.
Purbalingga - Cilacap, 29 Feb 2004
Jika kau rindu pada bening,
dan sejuk mata air.
kepakkan indah siripmu.
Menarilah dalam kejernihan sungai
yang mengalir membelah hati ini.
Purbaingga - Purwokerto, 2 Maret 2004
Sketsa Sebuah Pagi
untuk X
Menatap parkit yang tengah bercumbu di antara buah dan tangkai. Ingatkan pada percintaan kita yang tak pernah tuntas itu.
Aku rindu cericit parkit, suflir hijau muda di teras rumahmu. Aku rindu anggrek, kemuning, soka dan semua yang membiru hati ini.
Aku rindu semut yang ramah menyapaku, saat tengah bersimpuh di serambi hatimu. Pada sepasang kupu-kupu yang tersenyum renyah, menanatapku yang bersusah menahan rindu.
Tapi aku juga rindu, pada bunga mekar dalam taman hati ini. Di mana kita biasa bertemu untuk melepas hasrat, melucuti keangkuhan, jauh di lubuk keheningan, bercumbu hingga habis semua syarat dan wudu-ku.
Purwokerto, 5 Maret 2004
Karena Kau Bunga
Karena Kau Bunga
Relakan aku menyuntingmu
Dengan persembahan
Di atas altar sajadah
Air mata
Karena kau bunga
Harumkan setiap tarikan nafasku
Belitkan tangkaimu pada setiap ruas rindu
Karena kau bunga
Jadikan aku penyunting tercantikmu.
Purbalingga, Maret 2004
Garis yang berjatuhan
Membentuk sketsa tirus
Menancapi dada
Purbalingga, 6 Maret 2004
Fragmen Sebuah Taman
Mawar,
Seberapa kuat durimu
Menancapi dada
Purwokerto, April 2004
https://orcid.org/0000-0002-3765-8899
0 Comments:
Post a Comment