01 Desember 2008

Bawor

Share

Ikonisitas Masyarakat Banyumas
Oleh Teguh Trianton


SIAPA yang tak kenal Bawor? Tokoh rekaan dalam dunia pewayangan gagrag Banyumas ini terlanjur dipilih sebagai ikon atau maskot masyarakat Banyumas. Konon, sosok Bawor diciptakan sebagai representasi karakter asli wong Banyumas. Wataknya dianggap mewakili kondisi komunitas masyarakat pedesaan Banyumas yang terkenal cablaka (transparan), jujur, dan nrima ing pandum atau apa adanya.

Meski secara fisik perawakan Bawor sangat jelek (berperut buncit, berbokong besar, dan berwajah buruk), Pemerintah Kabupaten Banyumas memilih sosok ini sebagai ikon. Tentu pemilihan ikon ini dilandasi semangat filosofi dan karakter Bawor yang sering digambarkan dalam pakeliran gragag Banyumas.

Paradoks
Dalam pentas pakeliran Banyumasan, selain bertampang jelek, tokoh ini juga dicitrakan gemar ndagel (melucu), ndablong (selengekan), lugu, dan tampak bodoh. Anehnya, dengan stigma yang demikian rendah, masyarakat Banyumas justru sangat bangga dengan ketokohan Bawor. Sosok Bawor tidak membuat orang Banyumas merasa under-estimate (rendah diri).

Kebanggaan ini tentu saja bukan dasar. Stigma negatif yang dicitrakan tersebut ternyata merupakan bentuk sublimasi dari aura positif yang tertanam dalam lubuk hati orang pedesaan Banyumas. Kejujuran, keluguan, dan sifat cablaka menjadikan Bawor sebagai orang yang kerap diberi kepercayaan, bahkan dimintai nasihatnya, oleh para pemimpin kerajaan Jawa di dunia pewayangan, zaman dulu.

Bawor adalah abdi dalem, sekaligus masyarakat jelata, yang hidup dalam persinggungan arus budaya tradisional-marhaen di luar birokrasi kekuasaan pemerintahan. Dalam gragag Banyumas, ia digambarkan sebagai anak tertua dari Ki Lurah Semar.

Bawor memiliki dua adik bernama Nala Gareng dan Petruk. Keempat tokoh ini dikenal sebagai Punakawan atau orang (kawan) yang mengetahui dengan jelas segala tabiat (kelebihan dan kelemahan) sang Ndara (Bendara) atau orang yang diikutinya.

Sebagai abdi, Bawor terlanjur dicitra-kan dengan sosok yang kurang memiliki ilmu pengetahuan. Ia acapkali diperlakukan semena-mena oleh dalang yang memainkannya. Namun demikian, kurangnya wawasan ini tidak berarti Bawor memiliki IQ, EQ dan SQ yang rendah.

Elan Bawor yang nrima ing pandum, jujur, lugu, dan cablaka susungguhnya kontras dengan bentuk fisiknya yang jelek. Keterbatasan ini membuat ia suka dagelan, hidup dalam kebodohan dan kesederhanaan.

Sistem logika yang dibangunnya cenderung bertolak belakang dengan kehidupan kontemporer. Bawor juga memiliki tabiat glogok soar, atau suka mengumbar tutur tentang apa yang ia ketahui, tanpa menimbang akibatnya.

Ikonisitas
Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, sekali lagi, sosok Bawor dipilih sebagai ikon masyarakat Banyumas. Bahkan secara simultan, karakter ini mengejawantah dan membentuk persamaan sifat bagi masyarakat Purbalingga, Banjarnegara, dan Cilacap: tiga wilayah yang secara kultur memliki akar budaya yang sama.

Namun, dalam pandangan saya, ikonitas Bawor sebagai representasi (simbol) karakter wong Banyumas ini perlu dipertanyakan. Mengingat watak tokoh Bawor sudah luntur dari karakter wong Banyumas.

Kondisi masyarakat Banyumas kontemporer cenderung mengingkari karakter Bawor. Alhasil, ikonisitas Bawor mulai meredup, melemah, bahkan banyak wong Banyumas yang malu dengan simbolisasi tokoh Bawor.

Pengingkaran karakter Bawor terjadi karena dua faktor: internal dan eksternal. Penyebab dari dalam termanifestasi dalam bentuk sikap malu atas budaya sendiri, dan terlalu mengagungkan budaya asing. Akibatnya nilai-nilai moral yang diajarkan dari sosok Bawor menjadi terasa asing, nyeleh, dan ketinggalan zaman.

Selain itu, nafsu untuk berkuasa, bertahtah, dan berharta yang meletup dalam diri juga turut memengaruhi lunturnya ’’ajaran’’ Bawor. Fenomena ini dapat dilihat dari polarisasi polemik kebudayaan di Banyumas. Kontestasi penataan Alun-alun antara sejumlah seniman dan birokat adalah contohnya.

Faktor eksternal berupa pengaruh gerusan arus budaya asing yang masuk melalui acara di televisi, persinggungan sosial (akulturasi), internet, maupun produk budaya yang terang-terangan diinternalisasi.

Bentuknya bisa berupa ideologi serba instanb dan udaya permisif. Bahkan dalam praktik penyaluran aspirasi juga acapkali mengingkari karakter Bawor.

Migrasi, urbanisasi, dan hadirnya warga ’’asing’’ ke Banyumas ikut adil dalam pengingkaran karakter Bawor. Di lingkungan kampus, misalnya, akulturasi sosial antara mahasiswa pendatang dan masyarakat setempat juga memengaruhi pola berkebudayaan.

Yang perlu dilakukan sekarang adalah merevitalisasi karakter Bawor dan membumikannya kembali pada masyarakat Banyumas. Ini harus dimulai dari atas (penguasa), mulai dari tokoh seniman, budayawan, politikus, hingga kaum intelktual.

Mereka harus memberi contoh kepada masyarakat tentang bagaimana bersikap dan bertingkah laku yang menjiwai elan karakter Bawor. (32)

—Teguh Trianton, penyair, staf edukatif di SMK Widya Manggala Purbalingga.

Dimuat di Suara Merdeka 29 November 2008






| More

0 Comments:

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.