Katamu
-tentang cinta-
katamu, cinta selalu seujud pisau
semakin diasah kian menunjam
dan memilukan
semakin dihunus
kian mematikan
lalu
kenapa kau hendak membunuhiku
sehingga tak henti mengeja ketajaman
pisau di ujung rinduku
Purbalingga, April 2008
Katamu
-tetang pertanyaan-
-tetang pertanyaan-
katamu, tak semua pertanyaan
harus dijawab dengan tumpukan kata
tatkala diam justru lebih menjelaskan
lalu kenapa kau masih juga bertanya
saat tuhan diam dengan takdir kita
Purbalingga, April 2008
harus dijawab dengan tumpukan kata
tatkala diam justru lebih menjelaskan
lalu kenapa kau masih juga bertanya
saat tuhan diam dengan takdir kita
Purbalingga, April 2008
Karena kau penyair
bagi: Bhre
bagi: Bhre
karena kau penyair
seperti sajakmu, aku tak ingin
bertemu mimpi yang beku
sehingga saat gerimis kluwung
tubuhku terbelah
karena kau penyair
seperti pintamu,
lewat kidung lancung
kukatakan hitam itu indah
pun bulatan pada matamu
yang urung kurenangi
dan yang putih
tak selalu kabut,
bukan?
Solo - Purbalingga, Mei 2008
seperti sajakmu, aku tak ingin
bertemu mimpi yang beku
sehingga saat gerimis kluwung
tubuhku terbelah
karena kau penyair
seperti pintamu,
lewat kidung lancung
kukatakan hitam itu indah
pun bulatan pada matamu
yang urung kurenangi
dan yang putih
tak selalu kabut,
bukan?
Solo - Purbalingga, Mei 2008
Pledoi Sufi
tuhan, benarkah sholatku
lebih baik dari tidurku?
jika dalam terjaga
aku tak dapat melihatmu
sedang, pada tidurku
tak seorang pun tahu
aku mendekapmu
Purbalingga, Mei 2008
lebih baik dari tidurku?
jika dalam terjaga
aku tak dapat melihatmu
sedang, pada tidurku
tak seorang pun tahu
aku mendekapmu
Purbalingga, Mei 2008
Pledoi Penyair
malam menunjamkan kedewasaannya
begitu ramun, serupa harpa dawai siter
memetik sendiri kemerduaannya
membentuk notasinotasi
mengirim sakramen paling sunyi
menyihir sajakku jadi doa
yang paling doa yang paling
puisi
Purbalingga, Mei 2008
begitu ramun, serupa harpa dawai siter
memetik sendiri kemerduaannya
membentuk notasinotasi
mengirim sakramen paling sunyi
menyihir sajakku jadi doa
yang paling doa yang paling
puisi
Purbalingga, Mei 2008
Pledoi Puisi
bukan, bukan kecupan
yang selalu tertinggal di dada usai bercinta
lantaran kau kian berjelaga setelah merah padam
bukan, bukan luka
yang selalu nyeri di leher sejarah
lantaran kau tak pernah merasa terluka
meski sejarah mengandung serapah
bukan, bukan ciuman yang tersisa di tubuhmu
tapi puisi kehabisan kata
Purbalingga, Mei 2008
yang selalu tertinggal di dada usai bercinta
lantaran kau kian berjelaga setelah merah padam
bukan, bukan luka
yang selalu nyeri di leher sejarah
lantaran kau tak pernah merasa terluka
meski sejarah mengandung serapah
bukan, bukan ciuman yang tersisa di tubuhmu
tapi puisi kehabisan kata
Purbalingga, Mei 2008
Kutengadahkan luka
pada keheningan jantung pagi
di dadamu kutengadahkan luka
bersimpuh menyesali percintaan
yang semalam berahir padam
Purbalingga, 2004-2008
di dadamu kutengadahkan luka
bersimpuh menyesali percintaan
yang semalam berahir padam
Purbalingga, 2004-2008
Aku menyebutmu cinta
sejak aku mencium tubuh
dan ngungun melepasmu
lalu aku menyebutmu
cinta
Purbalingga, 2005-2008
dan ngungun melepasmu
lalu aku menyebutmu
cinta
Purbalingga, 2005-2008
Aku menyebutnya menunggu
lalu aku menyebutnya menunggu,
sebab rendezvous kita hanya tercipta
dari remah-remah waktu yang piatu
Purwokerto, 2005-2008
sebab rendezvous kita hanya tercipta
dari remah-remah waktu yang piatu
Purwokerto, 2005-2008
https://orcid.org/0000-0002-3765-8899
0 Comments:
Post a Comment