21 November 2008

Film Banyumas

Share


Videografi Budaya Banyumas
Oleh Teguh Trianton

Yang menarik dari geliat -perkembangan- dunia sinematografi Banyumas adalah keajekan (baca:konsistensi) dalam mengangkat tema, wacana, dan budaya lokal. Konsistensi ini pula yang menggiring film garapan sineas (film maker) Banyumas selalu mendapat apresiasi dan penghargaan dalam ajang festival.

Sebut saja ‘Senyum Lasminah’ (SL) besutan sutradara Bowo Leksono pegiat Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga. SL terpilih jadi film terbaik II-Festival Video Edukasi (FVE) 2007. ‘Pasukan Kucing Garong’ (PKG) -fiksi terbaik pada Malang Film Video Festival (Mafviefest) 2007. ‘Adu Jago’ (AJ) -dokumenter terbaik pada ajang yang sama. Demikian juga dengan Film ‘Boncengan’, dan ‘Lengger Santi’.

Pada kancah internasional, film ‘Peronika’ dan ‘Metu Getih’ mendapat kehormatan tampil di Festival Film Eropa bertajuk “Europe on Screen 2007” (EOS 2007). Tahun 2008, sebuah dokumenter kehidupan orang cacat berjudul ‘Cuthel’ meraih penghargaan dari depdiknas sebagai film dokumenter terbaik FVE 2008.


Cikal Bakal
Sesungguhnya cikal bakal seni sinematografi di Banyumas dimulai pada tahun 1999. Bermula dari sebuah pagelaran film, kampus Universitas Jendral Soedirman Purwokerto. Tahun 2001 Youth Power (Purwokerto), kelompok kerja nirlaba lintas seni memproduksi film perdana berjudul ‘Kepada Yang Terhormat Titik 2’, disusul film ‘Surat Pukul 00:00” (2002).

Namun perkembangan yang mengesankan justru berangkat dari Purbalingga. Tahun 2004 CLC memulai debut perdana. Laeli Leksono Film memvisualisasi naskah cerita pendek berjudul ’Orang Buta dan Penuntunnya” (OBDP), karya Ahmad Tohari.

Film ini menjadi yang pertama di Purbalingga dan sempat diputar di sekolah-sekolah, kampus, dan kantong-kantong budaya. Sempat pula nongol di TVRI Jakarta, dan meramaikan ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2004.

Dari Purbalingga, perkembangan seni sinematografi merambah ke Cilacap, dengan terbentuknya wadah komunitas film ‘Sangkanparan’. Hingga tahun 2008, dari dua Kabupaten ini telah lahir ratusan judul film. Bahkan film-film Banyumas yang mendapat penghargaan juga berasal dari dua wilayah ini.

Dus, dua kabupaten ini menjadi kantong-kantong industri kreatif, penyokong terbesar perkembangan sinematografi Banyumas.


Keajekan
Lokalitas isu telah dipilih sebagai mainstream film-film Banyumas. Ini terlihat dari keajekan tema yang diusung. Film OBDP diproduksi dengan seting masyarakat kelas bawah di Purbalingga. Film ini menjadi film pertama yang menggunakan dialek khas Banyumas. OBDP bercerita tentang seorang pengemis buta bersama pemuda yang setia menuntun dan mengantarkan mencari rejeki dengan meminta belas kasihan orang.

Konsistensi –mengusung- budaya lokal juga terlihat pada film ‘Peronika’, SL, PKG, Boncengan, Metu Getih, Lengger Santi, Cuthel, dan lain-lain. Selain menggunakan dialek ‘ngapak’, yang kental dengan bunyi vokal ‘a’; film-film ini juga mengangkat tema kehidupan keseharian masyarakat kecil (marginal) di Purbalingga (Banyumas).

Pada SL misalnya, selain dialek ‘ngapak’ film ini juga mengangkat tradisi membatik. Sebuah tradisi ‘langka’ yang sudah mulai memudar dan membutuhkan regenerasi. Sedangkan film Cuthel mengajarkan falsafah hidup orang Jawa, yang pantang menyerah. Nilai-nilai kejujuran, toleransi, dan budi pekerti digambarkan dalam film ini.

Secara garis besar, keajekan film Banyumas dapat dilihat dari empat arus besar tema. Yang pertama adalah penggunaan bahasa Banyumas dialek ‘ngapak’. Bahasa adalah salah satu unsur penting untuk membangun plot. Kedua, seting atau latar film. Ketiga adalah atribut (aksesoris) pendukung berupa simbol, ikon, dan indeks yang muncul dalam scene.

Ketiganya dipadu dengan konflik-konflik sederhana namun mengena. Tema kehidupan masyarakat kelas bawah inilah anasir keempat yang mempertegas keajekan film Banyumas.

Produk Budaya
Pada dasarnya film (dalam konteks media masa) lewat sajian yang selektif dan penekanan pada tema-tema tertentu akan menciptakan kesan (imaji) tertentu pada penonton (Melvin DeFleur, 2004). Artinya media massa, termasuk film berkuasa mendefisinikan norma-norma budaya masyarakat.

Budaya adalah tentang keberadaan (distinctiveness) kelompok-kelompok sosial yang memberikan mereka identitas. Kebudayaan merupakan batasan (norma) dalam hidup manusia. Di dalamnya terdapat respon manusia terhadap masyarakat, atau lingkungannya, dan dunia secara umum.

Kebudayaan oleh Koentjaraningrat disyaratkan memiliki tujuh unsur esensial, yaitu: bahasa, sebagai perwujudan budaya yang digunakan untuk berkomunikasi. Kemudian sistem pengetahuan, sistem organisasi kemasyarakatan, sistem peralatan hidup, dan teknologi. Berikutnya, sistem mata pencaharian, sistem religi, dan upacara keagamaan, dan terahir adalah kesenian.

Kesenian merupakan unsur budaya yang mengacu pada estetika yang berasal dari ekspresi hasrat manusia. Sebagai makhluk yang mempunyai cita rasa tinggi, manusia menghasilkan berbagai corak kesenian mulai dari yang sederhana hingga perwujudan kesenian yang kompleks termasuk film.


Videografi
Konsistensi isu dalam film Banyumas menjadi menarik. Mengingat khasanah budaya Banyumas saat ini mulai memudar, tergerus arus budaya asing. Di hadapan pergeseran nilai budaya, posisi budaya lokal saat ini cenderung termarginalkan. Keajekan pada unsur–unsur budaya lokal menjadi trademark film Banyumas.

Seperti halnya karya seni lain (teater, cerpen, novel, puisi, lukis dan musik) film tidak lahir atas kekosongan budaya. Terdapat interdependensi antara film dan budaya atau masyarakat (Dedy Mulyana, 2004). Budaya dapat mempengaruhi (inspirasi) film dan pada gilirannya film juga mempengaruhi budaya.

Sebagai produk budaya, keberadaan film Banyumas menyimpan potensi sebagai media domunetasi budaya atau videografi budaya (cultural videography). Videografi merupakan media komunikasi yang cukup efektif dalam rangka pelestarian dan perayaan keragaman budaya lokal.
Pasal 3 Undang-undang No. 8 Tahun 1992 tentang Perfilman, menyebutkan bahwa film diarahkan antara lain untuk pelestarian dan pengembangan budaya bangsa, peningkatan kecerdasan bangsa, pengembangan potensi kreatif di bidang perfilman, dan penyajian hiburan yang sehat sesuai dengan norma-norma kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.
Sehingga, videografi sangat efektif sebagai media informasi, persuasi, dokumentasi, internalisasi nilai budaya, dan wadah berekspresi, serta berapresiasi.
Sebagai videografi budaya, film Banyumas memiliki fungsi antara lain; pertama, merekam dan mengabadikan varian-varian budaya lokal untuk memperkaya literatur budaya nasional. Kedua, media informasi untuk mempromosikan (mengkampanyekan) keragaman budaya lokal. Ketiga, sebagai ruang apresiasi, dan pilihan alternatif untuk mempresentasikan pesan-pesan moral tentang perlunya menghargai multikulturalisme.

Dengan format digital yang dapat disimpan dalam bentuk piringan (disk; VCD, DVD, dll), videografi juga berfungsi sebagai media kampanye tentang pentingnya dokumentasi. Dengan membuat dan memutar film berarti telah memasyarakatkan pentingnya dokumentasi budaya.

Teguh Trianton, peminat humaniora, staf pengajar SMK Widya Manggala Purbalingga.

Sumber SUARA MERDEKA, 19 Nopember 2008

Posting ini versi lengkap



| More

0 Comments:

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.