10 Oktober 2008

Wacana

Share

Menunggu Kiprah Tirtaseta setelah Sertifikasi*)
• Oleh Teguh Trianton

TIGA tahun lalu, tepatnya pada Mei 2005, Ketua Perhimpunan Arung Jeram Tirtaseta Purbalingga Toto Triwindarto meraih sertifikat internasional di bidang pengelolaan wisata arung jeram. Capaian prestasi personal ini menjadi modal rasa percaya diri lembaga yang dikelolanya, yang kini sedang merintis genre wisata baru di Purbalingga.

Dia lalu merampungkan program Raft Guide Training di Kumsheen Rafting Resort (KRR) Lytton, British Columbia, Kanada, selama dua pekan. Sertifikat kompetensi dalam bidang arung jeram profesional itu pun dikantunginya. Dua tahun kemudian, di bulan yang sama, komunitas Tirtaseta berhasil mengulang prestasinya.

Melalui Divisi Kayak yang berkomitmen mencetak atlet cabang olahraga kayak, Toto Triwindarto juga berhak menyandang predikat instruktur kayak internasional. Tak tanggung-tanggung, kali ini ia mengantungi sertifikat instruktur kayak arus deras dari Kaituna Kayaks, sebuah lembaga pendidikan kayak arus deras di kawasan Okerre Falls, Rotorua, Selandia Baru.

Dua raihan prestasi internasional dan kepemilikan sumber daya manusia (SDM) yang potensial merupakan modal utama untuk menggali potensi alam di Purbalingga, yang selama ini belum dikelola secara profesional dengan berorientasi profit dan prestasi. Hingga 2008, setidaknya Tirtaseta sudah memiliki tujuh pemandu yang terus melakukan latihan guide tingkat lanjut, untuk memenuhi kualifikasi (standar) internasional.

Modal Alam

Tirtaseta telah meraih dua sertifikat bertaraf internasional. Boleh jadi, ini yang pertama di Indonesia bahkan Asia Tenggara. Namun demikian, insan-insan Tirtaseta mengaku bahwa ini baru awal dari upayanya untuk mengembangkan olah raga dan pariwisata arung jeram di Purbalingga. Masih diperlukan banyak perangkat pendukung lain, terutama dana, keseriusan pemerintah daerah, dan sumber daya alam.

Untuk yang disebut terakhir ini, agaknya Purbalingga tak perlu lagi mencari. Sebab modal alam telah tersedia. Purbalingga memiliki Sungai Klawing, sungai terbesar dan terpanjang di daerah itu. Sungai ini berhulu di wilayah Kecamatan Bobotsari dan Karangreja, kemudian bermuara di wilayah Kecamatan Kemangkon yang berbatasan dengan Kabupaten Banyumas, serta menyatu menjadi Sungai Serayu.

Pada bagian hulu Sungai Klawing di Desa Palumbungan, Kecamatan Bobotsari, terdapat air terjun setinggi 11,5 meter. Masyarakat setempat menyebutnya dengan Curug Penisihan (Penisihan Falls). Curug inilah yang diklaim Tirtaseta secara faktual menjadi yang tertinggi di dunia dan bisa digunakan untuk olahraga arung jeram.

Dengan kata lain, ketinggian Curug Penisihan mengungguli Tutea Falls, Sungai Kaituna, di kawasan Okerre Falls, Rotorua, Selandia Baru, tempat ekspedisi Kiwi digelar. Karena Tutea Falls hanya memiliki ketinggian sekitar tujuh meter.

Jika fakta ini benar, dan hasil studi menunjukan Curug Penisihan layak atau memenuhi standar sebagai ajang arung jeram, hal ini merupakan potensi luar biasa yang dapat dijadikan magnet bagi pecinta olahraga river adventure. Ketinggian curug akan menantang nyali para petualang untuk memacu adrenalin dengan menerjuninya menggunakan perahu karet.

Sumber Dana



Namun, Tirtaseta masih perlu menyakinkan pasar dengan terus melakukan uji coba dan memastikan sisi keamanannya. Ini pula yang kemudian membuat pemerintah daerah kurang tertarik mengupayakan pengembangannya. Sehingga, meskipun telah lama berdiri dan memiliki bekal kompetensi, Tirtaseta masih menghadapi kendala kekurangan modal.

Sebenarnya untuk menutupi kekurangan dana, Tirtaseta tinggal menentukan pilihan. Pertama, mengelola objek wisata ini secara profesional, dengan mencari investor. Kedua, meminta bantuan pemerintah melalui alokasi dana APBD. Dengan catatan, kedua alternatif ini bermuara pada kontribusi yang proporsional terhadap pendapatan asli daerah (PAD).

Untuk pilihan pertama, Tirtaseta harus gencar melakukan promosi. Tidak hanya ke luar daerah, tetapi juga ke luar negeri. Sedangkan untuk pilihan kedua, Tirtaseta harus dapat merebut simpati pemerintah daerah, dengan menyakinkan prospek pengembangannya.

Meski berorientasi mendatangkan investor, untuk formulasi pertama harus tetap melibatkan pemerintah. Mengingat pada ahirnya industri pariwisata di daerah menjadi salah satu tambang PAD. Tetapi yang perlu dipertegas adalah aturan tentang pembagian hasilnya. Sedangkan untuk formulasi kedua, Tirtaseta harus sering mengadakan audiensi dengan DPRD.

Yang menarik adalah Divisi Kayak. Mengingat kayak telah lama menjadi bagian dari event olahraga, baik di tingkat nasional (PON) maupun internasional (SEA Games, Asian Games, dan lain-lain). Namun hingga kini belum seorang pun atlet kayak andalan muncul dari Bumi Purbalingga.

Jika divisi ini digarap serius, mestinya bisa melahirkan puluhan atlet kayak andalan, yang menjadi duta Purbalingga dalam berbagai event olahraga, sebab kabupaten ini memiliki instruktur bertaraf internasional. Ini adalah modal awal, di samping keberadaan Sungai Klawing yang representatif sebagai wahana latihan.

Namun agaknya, lagi-lagi, Tirtaseta harus kembali berjuang keras untuk meyakinkan pemerintah setempat, sehingga mau mengalokasikan dana yang lebih memadai untuk mendukung proses penggemblengan para bibit atlet. Sesungguhnya ini mendesak dilaksanakan, mengingat Divisi Kayak Tirtaseta tak pernah sepi dari latihan. Setidaknya, tak ada kata menyerah untuk terus berusaha.

*) Suara Merdeka, Rabu 08 Oktober 2008





| More

0 Comments:

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.