18 Oktober 2008

Batik Warisan Budaya Nirgenerasi

Share

Batik Purbalingga Warisan Budaya Nirgenerasi
Oleh Teguh Trianton *)

Selama ini Purbalingga lebih dikenal sebagai produsen knalpot dan rambut palsu, dibanding kerajinan batik tulis sebagai produk lokal yang mampu menembus pasar ekspor. Bahkan dua jenis industri yang saya sebut pertama menjadi andalan dan tiang penyangga perekonomian masyarakat. Berdirinya perusahaan –penanaman- modal asing (PMA) pada sektor rambut palsu mampu menyerap sekitar 60.000 tenaga kerja wanita. Sedang pada industri knalpot, meski belum mampu menyerap tenaga kerja sebanyak itu, namun kerajinan ini mampu membangkitkan sisi pendapatan perajinnya.

Sementara itu industri kerajinan batik tulis yang merupakan salah satu intangibel heritage cultur (warisan budaya takbenda) dari leluhur justru kian terpuruk. Padahal selain memiliki nilai historis yang tinggi, batik juga menyimpan eksotisme yang laku dipasarkan. Kondisi ini makin parah, tatkala datang ancaman berupa produk batik yang diimpor dari Cina.

Beruntung Indonesia telah meratifikasi konvensi UNESCO untuk melindungi Warisan Budaya Takbenda melalui PP No 78 Tahun 2007. Sehingga kita tidak perlu khawatir jika ada bangsa lain yang hendak mengklaim dan mempatenkan batik sebagai seni tradisi asli mereka. Seperti yang pernah terjadi pada seni tradisional Reog dari Ponorogo, Jawa Timur.

Namun demikian untuk Purbalingga, konvensi tersebut tidak serta merta menjadi jaminan kelanggengan industri batik tulis yang kental dengan nuansa dan corak natural.

Terancam Punah
Dinas Perindustiran, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Purbalingga, hingga saat ini telah mencatat ada 242 perajin batik. Mereka tersebar di lima wilayah kecamatan yaitu Bobotsari, Karanganyar, Bojongsari, Purbalingga dan Karangmoncol. Sayangya mereka menekuni kegiatan membatik hanya sebagai sampingan. Industri batik belum digarap secara profesional.

Hal ini terjadi karena mereka menganggap pamor batik sebagai produk industri yang laku dipasarkan kian meredup. Pamor batik tradisional tergerus industri tekstil dan fashion modern yang didukung peralatan canggih serta tren mode busana kontemporer. Sehingga batik tulis Purbalingga terancam punah.

Di sisi lain, kerajinan ini mengalami krisis regenerasi. Perajin batik didominasi kaum ibu rumah tangga dan orang lanjut tua. Sedangkan kaum muda sebagai pewaris budaya enggan menekuni warisan adiluhung ini.

Padahal untuk memasarkan kerajinan batik, Purbalingga masih harus bersaing dengan daerah penghasil batik lainnya (Jogja, Solo, Pekalongan dan Sragen), yang telah lebih dulu mapan dan kaya kreasi.

Tantangan
Selain masalah profesionalitas, ancaman nirgenerasi atau langkanya penerus dan hadirnya batik impor, batik tulis ini masih menghadapi dua masalah lagi. Yaitu minimnya inovasi (kreasi) dan kurangnya promosi. Dua masalah ini merupakan tantangan yang harus segera diselesaikan.

Selama ini motif batik Purbalingga masih sangat monoton. Dua motif batik yang menonjol adalah motif lumbon atau daun keladi serta jahe serimpang, dengan dominasi warna hitam dan putih. Akibatnya yang mau menggenakan busana batik ini hanya mereka yang memang sudah berusia lanjut.

Untuk itu, dibutuhkan trobosan, seperti inovasi motif, corak dan kombinasi warna yang harmonis. Sehingga batik Purbalingga nantinya mampu menembus pasar luas, dan banyak kaum muda yang tertarik mengenakannya sebagai bagian dari mode fashion.

Sesungguhnya untuk menembus pasar nasional, batik tulis Purbalingga telah memiliki keunggulan dibanding batik daerah lain. Ini terbukti dengan perolehan gelar Juara Umum Citra Batik Nasional 2008 pada even Pemilihan Elite Model dan Citra Batik Indonesia Tingkat Nasional.

Pada momen bergengsi yang digelar di Yogyakarta tanggal 23 Maret 2008 silam ini motif batik Purbalingga yang khas dengan nuansa natural berhasil memukau juri sehingga memenangkan kontes. Selain ajang kontes, momen ini merupakan ajang promosi.

Komitmen Pemerintah
Menyusul sukses terebut, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Purbalingga pada bulan April 2008, menggelar lomba desain dan peragaan busana batik. Lomba peragaan busana dibagi menjadi 3 kategori yaitu Batik Baju Kerja, Pakaian Sekolah dan Busana Pesta.

Even ini ternyata cukup efektif untuk membangkitkan semangat nativisme budaya mencintai produk lokal. Ini terlihat dari antusiasme perajin dalam menciptakan desain motif batik. Tercatat sebanyak 55 perajin ikut ambil bagian unjuk kreatifitas penciptaan motif.

Dari gelaran ini muncul motif Parangrusak Kembang milik perajin asal desa Limbasari (Kecamatan Bobotsari) menjadi Juara I. Disusul motif Tsunami dan motif Petean Sogan juga dari Bobtsari sebagai juara II dan III. Kemudian motif Ula nglangi (Bojongsari), Sate hitam (Purbalingga) dan motif Suket Grinting (Karangmoncol) masing-masing menduduki juara harapan 1, 2 dan 3.

Keberhasilan Purbalingga menyabet juara umum pada even nasional dan sukses menggelar lomba batik tingkat daerah ternyata menginspirasi pemerintah (bupati) untuk menerbitkan peraturan daerah (Perda) tentang penggunaan pakaian batik.

Perda ini menandakan komitmen pemerintah daerah dalam upaya melestarikan khasanah budaya lokal dalam semangat nativisme. Sedianya Perda ini mengatur penggunaan busana batik asli Purbalingga oleh Pegawai Negeri Sipil (PNS) setiap hari Kamis dan Sabtu.

Selain peraturan tertulis tersebut, pemerintah memalui Disperindagkop juga memfasilitasi kegiatan studi banding bagi perajin batik ke daerah penghasil batik di luar Purbalingga. Langkah ini dimaksudkan untuk menambah pengetahuan serta keterampilan perajin. Seperti dalam hal pemilihan bahan baku, penanganan obat batik, pembuatan motif hingga cara pemasaran produk.

Hanya saja komitmen pemerintah tersebut tidak akan menjamin keberlangsungan industri batik tulis Purbalingga. Mengingat permasalahan yang paling krusial, yaitu tidak adanya regenerasi perajin belum tersentuh.

Jika pemerintah serius hendak melestarikan warisan budaya adi luhung ini, maka sepatutnya pemerintah mulai mengadakan upaya regenerasi. Sudah saatnya pemerintah melalui dinas pendidikan menerbitkan peraturan tentang penyelenggaraan kegiatan ektrakurikuler atau muatan lokal (Mulok) membatik terintegrasi dalam KTSP baik pada jenjang pendidikan dasar (SD), SMP juga SMA/SMK.

Jika memungkinkan, dengan melihat potensi yang ada maka pemerintah bisa merintis berdirinya sekolah (SMK) membatik. Barangkali langkah ini terlalu berat. Sebagai alternatif, kompetensi membatik bisa dimasukan sebagai mata pelajaran pada SMK Tata Busana yang telah ada di Purbalingga.

Dengan penggalian potensi dan bakat membatik sejak dini, maka keberlangsungan industri batik tulis khas Purbalingga dapat terwujud. Tentu saja pemerintah masih harus memperhatikan aspek modal usaha.

Suara Merdeka, Kamis 16 Oktober 2008
*)Teguh Trianton, Pecinta Batik -tulisan versi lengkap-


| More

0 Comments:

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.