06 Oktober 2008

Selamat Merayakan Kekalahan

Share

Selamat Merayakan Kekalahan

Lebaran adalah kekalahan yang dirayakan. Lebaran sendiri sering dihubungkan dengan perayaan kemenangan besar. Kemenangan bagi mereka yang telah berhasil menyelesaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan sehingga mendapat predikat takwa, dan mengaplikasikan dengan intensitas lebih setelahnya.

Kata ‘dirayakan’ saya ambil dari kata ‘raya’ yang dalam KBBI berarti ‘besar’ mendapat konfik ‘di’ dan ‘kan’, sehingga saya artikan jadi ‘dibesarkan’. Lebaran adalah kekalahan yang dibesarkan. Setidaknya inilah yang saya rasakan pada empat kali Idul Fitri yang saya jumpai terakhir ini.

Tulisan ini tidak bermaksud mengurangi kebahagiaan atau memprovokasi mereka yang tengah berlebaran untuk menyesali perayaan ‘kemenangan’. Tulisan ini sesungguhnya hanya sejenis ‘curhat’ yang barang kali juga dirasakan oleh sebagian dari anda, namun tidak cukup berani untuk mengungkapkannya.

Lebaran adalah kekalahan yang dirayakan (dibesarkan). Betapa tidak, kita tidak pernah tahu kapan dan siapa yang memulai. Tiba-tiba kita ikut-ikutan, latah dengan suka cita dan gembira merayakannya. Kata ‘lebaran’ menjadi semacam mantra paling ampuh yang digunakan secara jamak pada rentang waktu yang hampir bersamaan untuk menyihir perasaan kita.

Dengan kata lebaran, tiba-tiba kita seperti diwajibkan menggelar sejenis pesta, menyediakan, menyuguhkan dan disuguhi beraneka hidangan. Kata ‘lebaran’ menyihir kesadaran kita untuk menjadi sangat komsumtif dan serba boleh. Padahal sebelumnya kita telah berusaha dengan sekuat tenaga berlatih mengendalikan hawa nafsu kita dengan menjalankan ibadah puasa sebulan hari.

Lebaran telah mengubah segalanya. Lebaran telah mengalahkan kita. Dengan lebaran kita kalah dari rasa sabar, untuk tidak mengejutkan saudara kita di jalan raya dengan meraungkan klakson seenaknya pada saat hendak menyalip kendaraan lain. Sehingga saudara kita, teman kita sesama pemudik yang berada di depan kita jadi kaget dan tidak dapat mengendalikan laju kendaraannya.

Lebaran telah menyihir kesabaran menjadi ketidak-sabaran untuk segera sampai di udik, sehingga lahirlah istilah mudik. Lebaran telah menyederhanakan makna silaturahmi, menjadi semacam kewajiban minimal yang harus dilakukan setahun sekali pada hari raya Idul Fitri.

Luar biasa, sungguh lebaran mampu menyihir perasaan orang sehingga dengan murah hati mengobral dosa dan menjajakan maaf. Lebaran telah menjadikan orang yang pemarah menjadi pemurah. Namun lebaran juga telah membentuk kita jadi manusia automat semacam robot yang diformat untuk mudah memaafkan, kemudian melupakan.

Lupa bahwa meminta maaf dan memaafkan adalah keniscayaan yang berlaku kapan pun dan dimana pun pada saat rasa sesal terbit dari lipatan dan selipan batin kita. Lebaran menjadi sejenis virus yang menghack kesadaran kita, menjadi manusia minimal yang tiba-tiba dengan murah hati dan rendah hati mau memaafkan kesalahan orang setahun sekali.

Lebaran telah membajak kesadaran kita bahwa meminta maaf adalah kebiasaan minimal yang harus dilaksanakan setahun sekali secara jamak pada rentang waktu yang sama.
Barangkali lebaran adalah wajah Islam di Indonesia. Islam dengan warna dan nuansa lokal. Islam dengan otentisitas kebudayaan yang realistis tapi sangat minimalis karena kenyataan; tradisi lebaran di Indonesia telah mengubah yang sederhana menjadi tidak sederhana (bahkan sangat rumit).

Untuk berkunjung dan berkumpul dengan keluarga misalnya, kita harus berubah menjadi manusia paling rumit. Berebut membeli atau memesan tiket KA, berebut untuk sampai tujuan, berebut menguasai jalan raya (padahal jalannya juga rusak). Berebut saling mendahului, kemudian dengfan gampang marah atau mengumpat jika kendraan yang menyalip ternyata beda merk atau harga. Berebut pamer kesuksesan semu di ‘negeri’ orang.

Lebaran adalah kekalahan yang dibesar-besarkan. Kalah karena kata lebaran telah memompa kelicikan dengan memasukan barang-bahan makanan kadaluarsa ke dalam parcel. Menginfus air dalam daging sapi dan ayam, meledakan dan melemparkan petasan pada pengguna jalan, serta kekalahan-kelahan lain yang kerap dijumpai.


Lebaran dan Kemenangan Besar

Lebaran adalah kemenangan besar. Kemenangan bagai hawa nafsu. Kemenangan media masa yang menang dalam mengiklankan kemenangan industri dan kapitalisme.
Lebaran adalah kemenangan besar. Kemenangan besar adalah stereotip, sebuah label yang laris manis dan tak hais-habis. Lebaran menjadi moment media masa (tele-r-visi) kembali menjadi barang konsumsi. Dengan label kemenangan besar, stasiun televisi mengadu program special (Televisi; ‘Perang’ Program di Hari Kemenangan, Kompas 28 September 2008). Meski kenyataanya isinya tak jauh beda dengan hari-hari biasa.

Kemenangan besar menjadi label nomor wahid yang tidak dapat ditawar. Menjadi semacam harga mati yang tidak tergantikan oleh apapun. Lebaran telah membuat kebahagiaan menjadi sangat minimalis, tetapi terlampau mahal untuk dibayar. Sehingga lebaran telah menjadi barang langka yang mudah ditemukan, semacam musim ‘Paceklik Kebahagiaan’ (Yudi Latief, Kompas 30 September 2008).

Lebaran tidak hanya menyihir kita, mengambalikan kita pada posisi awal sebelum puasa. Lebaran justru telah mengubah kita menjadi lebih konsumtif. Dengan label perayaan kemenangan besar, televisi menjadi barang paling jamak dikonsumsi, melampaui konsumsi pada bulan Ramadhan dan hari-hari biasa. Lebaran adalah kemenangan bagi perusahaan operator seluler.

Lebaran menjadi pembenaran untuk menaikan harga barang, tarif angkutan, tarfi parkir, bahkan tarif pengamen dan pak ogah di jalan-jalan. Lebaran telah menyuburkan praktek-praktek percaloan. Calo tiket KA, tiket Bus AKAP, AKDP, Kapal penyebrangan. Lebaran menjadi kemenangan besar para calo. Termasuk calo-calo doa di tempat-tempat pemakaman umum.

Mengingat kematian adalah bagian dari latihan diri menggapai kebahgiaan. Berziarah adalah salah satu jalannya. Mendoakan kerabat yang telah wafat (dan masih hidup) adalah ibadah. Berdoa dapat dilakukan kapan saja di mana saja termasuk dipemakaman (tapi tidak harus dipemakaman bukan?).

Sesungguhnya lebaran memang kemenangan besar. Kemenangan bagi industri pariwisata yang semena-mena menaikan harga tanda (tarif) masuk bagi pengunjung. Kemenangan industri periklanan untuk membangun citra politikus (jangan dipisah poli dan tikus) menjadi seolah bertambah perhatian pada rakyat, berbesar hati meminta maaf, berbesar hati mengajak untuk kembali mengikat tali persaudaraan, untuk mencuri simpati rakyat.


Lebaran vs Idul Fitri

Jika dirunut dari sejarahnya, maka lebaran sesungguhnya adalah satu-satunya tradisi paling tua yang pernah ada dan dianut oleh sebagian umat Islam di Indonesia. Dalam renungan Idul Fitri upaya ‘Pencarian Sebuah Makna’ Ahmad Syafii Maarif (Kompas, 30 September 2008) mengurai, perayaan Idul Fitri yang kemudian oleh banyak orang disebut sebagai Lebaran, telah ada sejak puluhan abad silam. Setidaknya tradisi ini telah lahir sejak Islam pertama kali masuk ke Indonesia yaitu sekitar abad ke 13.
Itu artinya, lebaran telah menjadi warisan tradisi paling lapuk yang masih ‘terjaga’ hingga saat ini. Pertanyaannya adalah benarkah lebaran memiliki makna yang sebanding dengan Idul Fitri?

Pertanyaan ini menjadi penting, mengingat yang saya lihat dan rasakan, selama ini telah terjadi kontra produktif yang melahirkan semacam disparitas mendalam antara makna berlebaran dengan beridul fitri. Dalam pandangan saya, lebaran merupakan bentuk kekalahan yang dirayakan. Sementara hakekat Idul fitri adalah kembali pada kesucian.

Untuk pertanyaan ini Syafii Maarif mengajukan dua pilihan kemungkinan jawaban. Pertama, kontra produktif ini terjadi karena umat islam terlanjur salah dalam memaknai Idul Fitri. Umat islam telah terpukau dan terpaku stereotip tentang kemenangan besar yang harus dirayakan.

Kedua, tidak adanya (untuk menyebut jarang) forum untuk mengkampanyekan aspek asketisme Ramadhan. Makna filosofi Puasa yang sesungguhnya mengajak kita untuk belajar mengendalikan hawa nafsu, sehingga pada saatnya membawa kita meraih derajat manusia takwa tidak pernah tergarap. Yang terjadi kemudian adalah simplifikasi Idul Fitri menjadi perayaan lebaran yang lebih bersifat hura-hura yang berlebihan.

Padahal sejak awal kita telah diingatkan bahwa Puasa Ramadhan adalah sebuah diklat (pelatihan diri) yang amat positif. Pelatihan untuk meningkatkan kesadaran personal yang bersifat mental dan spiritual. Sehingga ibadah puasa di bulan Ramadhan akan berujung pada terpenuhinya standar moral menuju spritualitas. Inilah yang esensi dari puasa dan idul fitri dalam perspektif Said Aqiel Siraj (Kompas, 30 September 2008).

Dalam tradisi keberlisanan, lebaran sering disejajarkan dengan kata ‘lebar’ dalam indentifikasi ukuran yang lapang. Artinya lebaran adalah saat dimana hati kita merasa sangat lebar (lapang) untuk memberi maaf dan meminta maaf. Mengakui kesalahan, kehilafan dan menyesalinya.

Dalam pandangan saya, itu artinya kita telah dibentuk oleh sebuah tradisi lapuk untuk menjadi manusia otomatis minimalis yang begitu saja menjadi sangat lapang dan mudah memberi maaf di hari lebaran. Tentu saja ini jauh lebih baik dari pada kita sama sekali tidak pernah mampu melakukannya pada hari-hari lain.

Tetapi, alangkah sederhananya namun begitu rumit. Untuk meminta maaf dan memaafkan saja musti menunggu lebaran. Alangkah indahnya jika lebaran kita lakukan setiap saat.
Sungguh lebaran adalah kekalahan yang dirayakan. Mengingat dengan lebaran, kemenangan besar itu sirna seketika. Kita kembali menjadi manusia konsumtif, menyia-nyiakan latihan berat dalam pengendalian diri yang telah dilakukan sebulan penuh.

Apakah anda merasakan hal yang sama?
Jika Ia, mungkin Andalah pemenangnya.
Jika Tidak. Selamat membesarkan kekalahan.
Wallohu ‘alam.
Mohon maaf.

Purbalingga, 1 Syawal 1429 H


| More

0 Comments:

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.