21 Oktober 2008

Cerpen

Share

Gelap

Sebenarnya perasaan takut pada ruang yang gelap itu bukan monopoli anak kecil di bawah usia lima tahun. Gelap yang mengurangi fungsi organ optik manusia, acap kali mengecoh, dan menyesatkan pandangan ini juga menjadi sejenis siksaan paling menakutkan bagi Tiska. Setidaknya sejak tiga tahun silam.

Sejak tiga tahun silam, perasaan takut, trauma, paranoid pada kegelapan sudah mendera Tiska dan menjadi sejenis resiko yang tak mudah ditawar, apalagi dilunasi dengan sekedar tidur atau memejamkan mata. Bukankah jika mata kita dipejamkan berarti kegelapan itu kian melekat.

Bukan hanya itu, pekat yang melekat di kornea mata jamak memaksa jaringan otot meregang menyesuaiakan cahaya yang serba sedikit. Tak jarang kelenjar mata pecah menetes sebutir-sebutir mengalur seperti sejarah yang juga jauh dari cahaya.

Seperti tengah menangis, seperti orang buta, Tiska demikian perempuan diujung keranuman usia pada setiap malam, tiap mati lampu harus meraba-raba berjalan dari ruang mimpi, menuju dapur mencari geretan api dan lilin, atau sumber cahaya lain.

Mendapati lilin yang tinggal setengah usia, ia teringat sejarah yang usang dan lusuh, berdebu serta bau anyir. Ia teringat takdirnya. Ini pun bukan kali pertama Tiska harus terseok-seok menggapai pegangan daun pintu memutar, membukanya dan melangkah ke luar mencari cahaya.

Sebenarnya bukan hanya Tiska, yang harus berjalan dengan terseok, meraba dinding, dengan degub jantung, mencari geretan api, atau senter, atau lilin. Hampir semua penduduk di negeri yang tengah dilanda krisi energi ini melakukan hal yang serupa dengan Tiska, saat pemadaman terjadi.

Tapi ini beda buatnya, mati lampu bukan sekedar gelap ruang, sehingga harus berjalan dengan meraba, mencari sepotong lilin dan menyalakannya. Baginya mati lampu, adalah deraan kegelapan yang terlalu pekat pada mata batin, pikiran, halusinasi, bayangan masa lalu, kesakitan, penyesalan, dosa, dan sebagainya.

Dan semuanya sungguh menyiksa batin Tiska. Bagaimana tidak, setiap mati lampu semua deraan itu bertubi-tubi menghakiminya, tanpa ampun, ya tanpa ampun.

Sungguh, aku tak pernah memesan masa lalu. Tapi gelap mengirimnya berulang-ulang, tiap malam di batinku.

* * *

Sejak pemerintah mencabut subsidi harga BBM dengan dalih menyesuaiakan harga minyak dunia, entah karena apa perusahaan listrik negara latah dan jamak menggilir pemadaman. Hasilnya, ratusan usaha mikro yang menggantungkan proses produksi pada listrik, dengan terpaksa menutup usahanya. Kerugian dan keterpurukan kegiatan usaha dan perekonomian tak terelakan. Seruan bernada protes, kecaman, penyesalan dari konsumen tak menyurutkan langkah untuk terus menggilir pemutusan arus, tentu dengan dalih efisiensi atau penghematan.

Krisis energi listrik tak terelakan. Ratusan investor mengancam menarik investasinya, karena tak ingin terus merugi akibat krisis listrik. Jika ini terjadi tentu saja gelombang PHK tak terbendung. Kemelaratan dan kesengsaraan tak terhindarkan.

Namun bagi Tiska, perempuan yang sehari-hari mengabdikan diri sebagai guru TK ini, krisis energi listrik jauh lebih menyengat dan menyiksa melebihi sengatan listrik. Apalagi saat malam beranjak, saat jarum waktu menunjuk pukul 22.00.

Ini bukan semata masalah kegelapan, atau takut dalam gelap. Jauh lebih rumit dari kegelapan yang membutakan mata meski sesaat. Jika tiba pemadaman bergilir, maka baginya adalah giliran mengulang masa silam. Sejenis karma, atau trauma tapi lebih mirip penebusan.

Selama ini, memang Tiska berhasil meredamnya. Setidaknya Ia berhasil mengurangi efek trauma saat gelap. Tiap malam Tiska yang memang sangat mengerti dan menyayangi anak kecil ini tidur bersama keponakannya, Aska yang berusia 4,5 tahun. Inilah satu-satunya cara yang dapat Ia lakukan, semacam kerinduan yang sering berubah balas dendam. Atau entahlah.

Kemudian setiap pagi menjelang; kerinduan itu dilampiaskan dengan mengajari anak-anak TK bernyanyi, menari, berdoa, dan sebagainya. Di sinilah Ia mampu membalas semua dendam. Ia mampu menjadi ibu yang lebih ibu melebihi ibu-ibu yang menitipkan anak-anaknya di TK. Sampai pada suatu kala, seorang ibu menawarkan mencarikan calon suami bagi Tiska, sehingga kian meneguhkan keibuan seorang ibu guru TK.

"Hidup apalagi yang aku cari, jika kesendirian adalah sahabat paling karib, melebihi suami paling setia manapun," gumamnya membatin.

* * *

Tapi norma sosial, dogma agama, dan usia sepertinya menghendaki hal yang berbeda. Apalagi Aska kini harus kembali ke Jakarta ke pangkuan ibu dan bapaknya. Selain sudah besar, Aska juga harus meneruskan sekolah dan tinggal menetap di sana.

Meski mengingkari sumpahnya, Tiska akhirnya mengimani dan mengamini norma sosial, dogma agama dan keniscayaan usia. Ia tidak perlu takut lagi pada kegelapan, sesosok mahluk sejenis Adam akan melindunginya dalam kegelapan.

"Sejenis Adam, begitu aku menyebutnya, lantaran aku telah berjanji untuk tak pernah tergoda pada wujudnya. Lantaran aku sendiri mampu berperan melebihi pria. Aku mampu menciptakan keheningan, yang buatku jauh lebih melindungi, daripada sekedar pelukan dalam gelap dan dingin. Keheningan membuat tubuhku hangat oleh cahaya yang kasat mata," setengah menyesal Tiska membuat coretan pada halaman akhir buku harian yang nyaris terlupakan.

* * *

Ah... ternyata tidak, ternyata salah, ternyata ini sejenis pengulangan, atau de javu. Tapi ini nyata. Pada pukul sepuluh malam, pada tiga tahun yang lampau, dengan gelap mata Ia dipaksa menggelapkan ruang. Di atas tilam tipis, setipis batas antara dosa dan harga diri, Ia tak kuasa mengikuti seruan dari akal yang tumbuh dari serat kegelapan. Norma, harga diri, martabat keluarga besar, predikat ayah sebagai imam masjid dan tokoh desa memaksanya menggelapkan segala perasaan.

Sesugguhnya, Ia tak menyesal dengan kegelapan takdir yang telah ia ciptakan dalam kegelapan cahaya lampu. Tak seorangpun, termasuk perempuan, pun Ia rela menyandang predikat penggelap, meski hanya penggelap waktu. Meski penggelapan waktu ini dilakukan atas keterpaksaan dibalut kegelapan cahaya dan kegelapan akal.

Apapun dalihnya, penggelapan sejarah yang melahirkan kegelapan takdir adalah pelajaran yang gelap. Tapi inilah kegelapan yang pada akhirnya menuntunnya pada cahaya yang diriundukannya. Meski untuk mendapatkannya, Ia harus mengaisnya dari balik reruntuhan tubuh.

Jika bukan karena kegelapan perasaan, tak pernah lahir kegelapan mata. Barangkali cinta benar-benar serupa cuaca; dapat berubah tanpa isyarat, meski dapat diduga namun ada kalanya semua menjadi serba tiba-tiba. Pun apa yang Tiska lakukan.

Seperti cuaca yang tiba-tiba, Ia tiba-tiba terseret pada pertemuan yang piatu, pada pertemuan yang kelak menciptakan kegelapan, yang kelak meruntuhkan sejarahnya menjadi sejarah yang gelap. Seperti pertemuan Adam dan Hawa yang melahirkan anak-anak sejarah. Jika bukan karena kegelapan, keduanya tetap tinggal di sorga.

Barangkali inilah cinta, selalu lahir dengan penebusan. Inilah yang Tiska pahami dari sejarah kelam Adam yang tak kuat menahan hasrat mencumbu quldi, sehingga dilempar ke fana untuk menebus dosa. Tapi, bukankah perselingkuhan ini yang melanggengkan keturunan Adam di alam fana. Melanggengkan perseteruan, perebutan kekuasaan, serta perdebatan-perdebatan antara cinta dan noda.

Tapi Ia bukan Adam. Meski harus melakukan penebusan atas nama cinta, Tiska tetap bukan Adam. Pun meski perempuan, Ia tetap bukan Hawa. Penebusan yang Ia lakukan memang tercipta dari hasrat. Sehingga rahimnya mengandung serapah, atau mungkin jadah yang kelak dicaci karena lahir serupa Isa, tapi bukan Isa, sebagai penebusan atas kegelapan.

* * *

"Mas, aku takut, takut dengan gelap. Takut dengan mati lampu. Mas tolong aku, takut gelap, sangat pekat seperti malam pada tiga tahun silam."

Lalu percakapan di gelap malam pun terputus begitu saja, menyisakan ruang sunyi pada gendang telinga yang gelap. Tanpa penjelasan, Tiska pingsan.

Yang paling menyesatkan adalah saat mati lampu. Bukan hanya karena gelap yang melekat di kornea mata, sehingga memaksa jaringan otot meregang menyesuaikan cahaya yang serba sedikit. Tak jarang kelenjar mata pun pecah menetes sebutir-sebutir mengalur seperti sejarah yang juga jauh dari cahaya.

Tapi yang Tiska alami pada tiga tahun silam, tat kala lampu sengaja Ia padamkan, lebih dari sekedar ketakutan. Yang sesak bukan hanya mata, yang meregang bukan hanya jaringa otot sekitar mata. Dan yang pecah, yang menetes bukan hanya kelenjar butir air mata.

Darah, darah yang mengalir, darah yang mestinya keluar disertai tangis bahagia. Yang meregang bukan sekedar otot pada serat optik mata, yang meregang adalah otot pada wilayah yang rentan menumbuhkan penyesalan. Yang menetes bukan kelenjar air mata, yang menetes makian, serapah, jadah dan ribuan satwa liar lain. Yang meregang bukan tubuh, yang kanvas oleh penebusan, tapi jiwa, jiwa yang urung terlahir dan jiwa yang enggan melahirkan kegelapan.

* * *

Seperti cuaca, meski dapat diramal namun perubahan dapat terjadi tanpa isyarat. Kemarin Tiska dipaksa pulang dari tempat saudaranya di Jakarta, satu-satunya tempat yang menurutnya dapat menerima segala bentuk sejarah hidup manusia. Tempat yang rasionalitasnya mengungguli rasio.

"Jika bukan mahluk lemah serupa Adam yang memintaku pulang, Ia tak pernah hendak pulang", gumanya dalam batin kala itu.

Tiska pulang, setelah mahluk serupa Adam kembali merayunya; mahluk yang telah menanam kegelapan itu berjanji akan mengikat cahaya di sela-sela jarinya, meneguhkan norma, merubah cuaca mendung pada rahim menjadi cerah berawan biru.

Tapi seperti cuaca, siang tadi usai pertemuan yang piatu, segelas kerinduan yang disuguhkan oleh mahluk serupa Adam; tanpa isyarat telah mengubah semuanya. Pada malam pukul 22.00 Tiska, perempuan berduajiwa dipaksa mematikan lampu kamar. Meregangkan sebelah jiwa, melunasi segala penyesalan dengan penyesalan maha dalam.

Bukan hanya perih, dan pedih pada mata. Segala sayat, segala kesakitan berebut dengan kelenjar-kelenjar kegelapan keluar dari rahim sejarah. Tak hanya lampu yang Ia matikan, tapi harga diri, perasaan, jiwa yang satu, jiwa yang setengahnya lagi, dan dogma tentang norma, dosa, sorga dan neraka turut luntur dan terhempas ke lantai.

Saat segala cahaya lindap justru di situ aku melihat bayangan diri ini mengendap-endap mengais cahaya di renruntuhan tubuhku ***

* Purbalingga, 16 Juli 2008

Suara Karya - Sabtu, 18 Oktober 2008

| More

0 Comments:

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.