07 Juni 2008

Cerpen

Share

J A N T I

Cerpen: Teguh Trianton

“Jangan........!!! Tidak........! enggak usah kamu maksa telpon dia, enggak akan ada gunanya, kamu pikir itu akan menyelesesaikan masalah,” larang Aira sambil berusaha merebut HP-nya dari tanganku.

“Kenapa..? Kenapa... ? A larang aku hubungi dia, jika bukan karena aku tak mungkin tragedi ini terjadi, jika saja A ijinkan aku berbicara padanya barang sebentar saja, maka aku akan meminta maaf, atau A sudi mempertemukan aku dengannya tentu aku akan bersimpuh mencium tangan dan memohon ampunan atas segala kesalahanku padanya,” balasku berusaha merayu dan setengah memaksa.

Aku sadar dan tahu betul bahwa aku bukanlah satu-satunya wanita yang hinggap di hati Aira, namun aku juga tahu betul dari sekian banyak wanita yang sempat singgah di hati A, akulah yang paling mendapatkan tempat teristimewa daripada yang lainnya. Aku juga tahu betul bahwa Aira banyak menaruh harap padaku.

Tetapi mengapa Aira melarangku pada saat aku ingin meminta maaf dan berterus terang tentang semua yang telah terjadi. Aku tahu sebelum Aira mengenal dan ahirnya sepakat untuk saling membagi bahagia denganku, sudah ada Janti yang telah lama menaruh harap untuk bisa hidup bersama, apalagi setahuku keduanya juga saling mencintai, bahkan aku juga tahu keduanya sudah jalan bareng sejak tiga tahun yang lalu. Jadi mustahil kalau apa yang barusan aku dengar, kata-kata yang mengalir dari bibir Aira itu terjadi bukan lantaran ada sebab. Dan jika benar itu terjadi maka akulah orang paling berdosa yang telah menyebabkan semua ini terjadi.

***

“Ahirnya aku benar-benar harus lari meninggalkan semua, meninggalkan semua yang telah aku susun sejak tiga tahun lalu, ini adalah pilihanku, lain tidak,” ujar Aira saat bertandang ke rumahku, sementara aku hanya bisa menarik nafas panjang sambil menunggu kata-kata Aira selanjutnya.

“Ya.. barang kali inilah nasib yang telah terukir di atas garis tanganku, aku tak menyesal, sungguh,” Aira melanjutkan ceritanya.

***

Aku tahu Aira sudah tiga tahun menjalin hubungan dengan Janti, bahkan tiga minggu yang lalu keduanya telah melangsungkan pernikahan. Aira sendiri yang memberitahuku. Namun demikian pernikahan keduanya tidak menyurutkan kebahagiaan yang telah aku jalin dengan Aira. Aku mengenal Aira baru tiga bulan lalu, ketika itu tanpa sengaja aku bertemu pada acara ahir tahun, temanku yang mengenalkan Aira.

Sejak pertemuan itu kami menjadi akrab, tak kusangka dibalik penampilan yang sederhana, sorot mata yang jernih, canda dan tawa yang renyah, ternyata Aira menyimpan beban yang sangat berat, beban yang selama ini tak pernah ia bagi dengan siapapun termasuk Janti yang telah menjadi istrinya. Aku juga heran bagaimana mereka bisa menjalin hubungan selama tiga tahun, jika diantara keduanya tidak saling terbuka, untuk saling mengisi dan menerima.

Aira memang pernah bercerita banyak hal tentang Janti, lebih-lebih prihal diri Aira sendir. Aira itu introvet, sekalipun pandai bergaul dan banyak memiliki teman, tetapi ternyata untuk sekedar teman curhat Aira tak punya satupun. Bagi Aira semua teman-temannya hanya enak diajak berbagi ceria, sementara untuk berbagi keluh kesah, Aira tak punya satupun teman, aku juga tahu Aira tak pernah punya teman banyak jika bukan lantaran teman-temanyalah yang mengenalkannya.

Hingga pada ahir tahun 2004 lalu, Aira bertemu denganku, dan entah kenapa, aku begitu cepat akrab. Aku juga menjadi tempat Aira mengungkapkan semua beban yang selama ini ia pendam sendiri, aku menjadi tempat Aira curhat, menurut Aira, baru kali ini ia bertemu teman yang benar-benar bisa diajak berbagai baik dalam bahagia ataupun dalam suasanan hati yang dukana, gundah dan sebagainya. Dan ia menemukan itu semua ada pada aku.

***

“Jadi kamu telah tega meninggalkan Janti, wanita yang telah tiga tahun menjalin hubungan kasih, bukankah baru tiga minggu yang lalu kamu menikahinya,” aku memberanikan diri membuka percakapan.

“Tidak.. bukan aku yang tega, aku tak mungkin tega meninggalkannya, sekalipun kau tahu rasa cintaku telah sempurna pada saat pernikahan itu berlangsung dan habis sama sekali pada Janti, tapi aku tak mungkin tega meninggalkan Janti.” Jawaban Aira membuatku lebih bernafsu untuk mengetahui yang sebenarnya.

“Lalu...?” aku mencoba mengejar jawab.

“Ketahuilah.. Rin, sesungguhnya rasa cintaku sebagai lelaki pada Janti sebagai wanita telah sempurna bahkan hilang sama sekali sejak aku mengenalmu pada ahir Desember lalu, tapi percayalah Rin, aku juga tidak mungkin tega meninggalkan Janti,” Jawaban Aira semakin berbelit, dan aku mulai tidak sabar.

“Sudahlah A!! aku bukan mahasiswa semester empat yang masih lugu, aku juga bukan perempuan yang tidak punya perasaan, cepatlah kau ngomong terus terang, atau aku nekad menemui Janti..!” terpaksa aku mengancam Aira.

***

Meski sesungguhnya ini merupakan kabar bahagia, namun dalam hatiku menggumpal selaksa bersalah yang teramat besar, apalagi aku wanita Janti juga wanita yang tentu memiliki rasa yang sama. Aku memang sempat berfikir bagaimana jika aku yang berada pada posisi Janti, namun aku juga tidak bisa menyalahkan siapa-siapa.

Aku tidak pernah memaksa Aira untuh jatuh hati padaku, sekalipun aku memang tertarik pada figur Aira, tapi aku cukup sadar dengan posisi Aira, Aira sudah bertunangan tiga bulan lalu, sehingga akupun tidak akan berharap lebih, dapat berkenalan dengan Aira saja bagiku sudah sangat bahagia. Aku memang pernah menghayalkan menjadi pacar Aira, tapi aku pikir itu hanya akan jadi mimpi belaka.

Tapi ternyata justru Aira-lah yang terus menerus mengejarku dan berusaha lari dari Janti. Bahkan tiga hari sebelum pernikahan mereka, Aira memintaku untuk menemaninya, selama tiga hari sejak pukul 08.00 pagi sampai menjelang Isya, Aira berada di tempat kostku. Padahal di rumahnya dan rumah Janti, semua orang tercelup dalam bahagia, apalagi orang tua Aira dan Janti sendiri, jantung mereka tengah berdebar menunggu detik-detik paling membahagiakan bagi kedua mempelai.

Aku sendiri menjadi iba pada Aira, betapa tiga tahun mereka pacaran, menanti saat-saat bahagia, melangsungkan pesta pernikahan, namun saat genta pernikahan itu akan dibunyikan, Aira justru kehilangan semuanya, semua cinta Aira pada Janti telah berpindah, dan sekarang aku yang memilikinya, ya seharusnya ini merupakan kabar bahagia untukku, Aira lari dari Janti, berarti Aira sekarang adalah milikku, tak lain tak bukan.

Tapi aku adalah wanita, Janti pun wanita, bagaimanapun jika hal ini terjadi karena aku, jelas sebagai sesama wanita aku sangat berdosa, makanya aku berharap agar Aira mempertemukanku langsung dengan Janti. Atau setidaknya Aira ijinkan aku menelponya. Tapi Aira memang aneh.

***

“Rin…”

“...!?!.. “ aku tergagap dari lamunan, Aira melanjutkan ceritanya.

“Rin.. kamu tak usahlah menyalahkan diri sendiri, apalagi keputusan ini aku ambil semata-mata bukan karena kau, ya.. memang rasa cintaku sebagai lelaki pada Janti telah sirna berganti rasa sayang seorang kakak pada adiknya, dan kini rasa cinta itu telah beralih pada kamu Rin…, tapi apa yang telah terjadi memang benar-benar bukan karena kamu, juga bukan karena aku yang tega meninggalkan Janti.”

“Sudahlah !! aku bosan berputar-putar, Aira.. kenapa kamu tak bilang langsung!!” aku semakin gerah dibuatnya.

“Rin…, percayalah bahwa Tuhan yang mempertemukan kita, dan bukan aku yang meninggalkan Janti, jika kamu masih belum percaya, besok pagi kita berangkat, kau lihatlah sendiri, dan kau akan percaya,” Aira mengunci pembicaraan.

***

Hampir semalaman aku tak bisa tidur, memikirkan apa yang harus aku katakan besok saat ketemu dengan Janti, haruskah aku meratap-ratap meminta maaf, atau…, selaksa itu kembali menggumpal menjadi mendung di langit hati ini. Sementara di kamar tamu, Aira tampak kelelahan, wajahnya pucat tapi tetap bercahaya. Ada aura yang kuat dari raut muka Aira, sehingga membuat wanita tak sanggup menatapnya berlama-lama, apalagi saat sedang berbicara. Tak heran jika Sofi, Dina, Ranti, Endi dan aku sendiri enggan melupakan senyumnya.

Sebenarnyalah Aira merupakan sosok pria sederhana, dari penampilannya saat pertama aku berkenalan tak mencerminkan bahwa dia dari kalangan berada, tapi di balik kesederhanaannya ternyata menyimpan setumpuk penghargaan, mulai dari juara cipta puisi, mahasiswa berprestasi, menjadi delegasi pertukaran mahasiswa, dan sebagainya pernah Aira raih semasa kuliah. Sementara usai diwisuda selain menjadi penulis freeline untuk sejumlah media, dengan sehajaannya Aira meluangkan waktunya untuk mengajar di sebuah SMK di kota kelahirannya mesti bayarannya tak seberapa, Aira juga aktif di sejumlah LSM serta forum diskusi budaya.

Dengan segenap kesibukan yang nyaris sempurna itu, ternyata Aira tidak memilih dalam mencari teman, sekalipun ia introvet, namun dalam hal bergaul ia tidak pernah menimbang pilih, siapa pun yang mau dekat dengannya ia tak pernah menolaknya, begitupun dengan teman-teman perempuannya. Ini meupakan kelebihan yang sekaligus menjadi kelemahan Aira. Ia tidak pernah menolak jika ada wanita yang menyatakan sayang, dalam prinsip hidupnya lebih baik ia yang ditolak dari pada ia harus menolak. Sebab menurut Aira rasa sayang itu, rasa cinta itu tidak pernah datang atas dasar paksaan, ia datang sendiri dari Yang Maha Pemilik Sebenar-benar Cinta yang menggetarkan kalbu hamba-Nya untuk mengakui kebesaran ciptaan dan kebesara-Nya, sehingga ia tidak mau sombong dengan menampik karunia Tuhan itu.

Tetapi justru inilah yang menjadi kelemahan Aira, sehingga aku pun tanpa sengaja dulu memanfaatkannya. Namun aku tahu betapapun Aira tidak pernah menolak setiap cinta yang hadir, cintanya yang sebenarnya adalah pada Janti. Sedangkan aku, adalah orang yang secara tidak sengaja telah berhasil merampasnya dari Janti. Sebab Aira merasa mendapatkan apa yang selama ini ia inginkan dan tidak pernah ia temukan ada pada Janti tetapi ada pada diriku.

Untuk urusan pribadi ia memang sangat tertutup, barangkali akulah orang pertama yang ia percaya sebagai tempat curhatnya dan bukan Janti istrinya itu.

***

“De.. de Turin, kamu udah siap..” suara Aira mengagetkanku.

“Iya bentar A.. lagi bangun nieh..”, aku yang merasa baru lima menit yang lalu bisa memejamkan mata terhenyak dari kasur, jarum jam menunjuk angka setengah tujuh pagi, itu berarti waktuku untuk mepersiapkan diri tinggal 30 menit.

Usai sarapan, Aira langsung mengajakku untuk menemui Janti. Setengah perjalanan tak ada sepatah katapun keluar dari bibir kami. Aku sendiri masih sibuk menata hati, menata perasaan dan memilih kalimat-kalimat yang paling santun untuk diucapkan, apalagi Janti adalah orang yang sangat kuhormati, sebab Janti adalah istri Aira, lelaki yang juga sangat aku cintai.

Jarak antara rumahku dan rumah Aira sekitar 2 jam perjalanan, Aira melajukan kendaraanya dengan kecepatan sedang, tak tampak rasa bersalah di mukanya, dari sorot matanya aku baca Aira sangat tegar, sangat tenang dan sangat berwibawa. Aku menjadi bingung dibuatnya.

Setelah melewati pertigaan aku memberanikan diri membuka percakapan, sebab aku merasa ada yang ganjil dari jalan yang dilalui, setahuku seharusnya pada persimpangan tadi harusnya Aira mengambil jalan kanan, tapi ternyata Aira membelokan mobilnya ke arah kiri.

“A… apa enggak keliru tadi mengambil jalan… bukannya harusnya belok kanan..” tanyaku memberanikan diri.

“Emmm… iya, emang kenapa…” jawab Aira pelit.

“Berarti kita salah jalan A…,”

“Enggak kok, kita enggak salah jalan, ini adalah jalannya, jalan ke tempat di mana Janti kini berada.” Balas Aira, sementara aku semakin dibuatnya gelisah.

Sementara itu Aira semakin mempercepat laju mobil, di sisi kanan dan kiri jalan tampak hamparan padi, kemudian setengah kilo berikutnya aku melihat di kejauhan tampak rimbun pepohonan beringin, dan seperti ada rumpun kamboja juga. Tanda tanya semakin memenuhi otakku.

Aku terhenyak hebat, pulsa jantungku berlomba dengan nafasku, aku tergagap, Aira menghentikan laju mobilnya tepat di depan pintu tempat pemakaman umum.

“Jadi…” aku memekik tak bersuara, sementara aku melihat ada bulir-bulir bening menetes di kedua pipi Aira.

“Ya… bukan aku yang tega, tapi Tuhanlah yang telah mempertemukan kita, ketahuilah Janti telah tiada, kanker leher rahim tak memberinya kesempatan untuk menjadi istri yang setia. Sebenarnya aku tahu sejak jauh hari sebelum aku bertunangan, pada saat kami masih pacaran dulu, Janti sering mengeluhkan perihal sakitnya, tetapi Janti tak pernah bicara dengan orang tuanya, Janti juga pasrah pada nasibnya, sedang aku sendiri tak mampu berbuat banyak. Itulah sebabnya Janti tak pernah memarahiku, meski ia telah tahu hubungan kita.” Aira tercekat.

Dengan penuh rasa aku mencoba menghapus bening air mata yang meneliti pipinya.

“Sekarang jika kau mau menemuinya, mau menelponya, mau meminta maaf dan sebagainya, lakukanlah dengan fatihah,” Aira menghirup nafas panjang, menahannya seakan tidak akan dikeluarkannya lagi.

Sementara aku, mematung di hadapan pusara Janti.

***

Purbalingga, 2005-2006




| More

0 Comments:

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.