Bagi masyarakat desa, pemilihan kepala desa (Pilkades) merupakan bentuk apresiasi demokrasi yang sakral. Sebab Pilkades merupakan ajang untuk memilih pemimpin pemerintahan yang paling dekat rakyat. Berbeda dengan Pilkada, Pileg maupun Pilpres, bagi masyarakat pedesaaan Pilkades jauh lebih menarik karena antara calon kepala desa (cakades) dengan pemilih memiliki hubungan emosional yang kuat.
Bukan itu saja, fenomena wuwur atau memberikan sejumlah uang pada pemilih merupakan tradisi yang tak bisa dinafikan begitu saja. Selama ini, perhatian media masa baik cetak maupun elektronik hanya terfokus pada fenomena wuwur, indikasi tindak kecurangan Pilkades sampai aksi demonstrasi akibat ketidakpuasan terhadap hasil Pilkades.
Sementara itu, isu-isu sederhana yang benar–benar merakyat justru jarang tersentuh media. Nah inilah barangkali yang melatar belakangi Bowo Leksono sutradara film yang juga penggagas Cinema Lover Community (CLC) Purbalingga mengangkat tema-tema sederhana namun mengakar tentang kedewasaan berdemokrasi masyarakat desa dalam Pilkades, dalam sebuah film dokumenter berjudul ‘Adu Jago’.
Film yang berhasil meraih predikat sebagai film terbaik kategori dokumenter dalam ajang Malang Film Video Festival (Mafviefest) yang digelar 1- 4 Mei 2007 lalu, mencoba menyuguhkan gambaran-gamabaran nyata tentang demokrasi rakyat jelata. Meski tidak secara terang-terangan menjelaskan tentang bagaimana pemahaman demokrasi masyarakat pedesaan, namun film berdurasi 08,51 menit ini, mampu memberikan gambaran kondisi riil tentang demokrasi di pedesaan.
Menurut Bowo, dalam film ini, sikap-sikap dan pemahaman demokrasi rakyat pedesaan dimunculkan dalam bentuk dialog original para pemilih yang sekaligus menjadi pemain film. Film dokumenter ‘Adu Jago’, berhasil memberikan warna yang berbeda dari film dokumenter sejenis yang sengaja diproduksi sebagai media sosialisasi Pilkades yang digelar serentak di 152 desa di Purbalingga pada 17 Desember 2006 lalu.
Dialog-dialog polos dalam film Adu Jago, berhasil mengungkap sisi lain pemahaman demokrasi masayarakat pedesaan. Pernyataan-pernyataan pemilih tentang tujuan mendatangi tempat pemungutan suara (TPS) menyiratkan keinginan rakyat pedesaan memiliki pemimpin yang mengetahui kondisi mereka. Beberapa pemilih menyatakan, bahwa mereka mendatangi TPS hanya untuk satu tujuan memilih pemimpin yang adil, dan dapat membangu desa. Bukan memilih calon yang memberikan wuwur paling besar diantara calon lain.
Bagi Bowo, film ini merupakan dokumentasi bagaimana kedewasaan berdemokrasi bagi masyarakat desa diuji saat Pilkades. Kejujuran dan nurani masyarakat desa juga disajikan dalam bentuk mozaik-mozaik kegiatan kampanye, penempelan tanda gambar, sampai konvoi kendaraan bermotor. (Teguh Trianton @ 2007)
https://orcid.org/0000-0002-3765-8899
0 Comments:
Post a Comment