23 Mei 2008

Oase - Malam Tepi Sungai

Share

Oase KR 23 Juli 2006



Camar Rindu

ah, kutau dengan sayap rindu,
kau mampu terbang tinggi.

tapi ingat,
air mengalir ini mulai gelisah
tanpa kecipak sirip mawarmu.

Purbalingga, September 2004


Jika Itu Yang Kauminta

jika itu yang kau minta,
maaf, air selalu mengalir dengan sederhana,
mengikuti kelok dan gemulai ranting sejarah.

jangan menunggu air menggelombang.
menderu sembilu mengoyak rindu.
bergegaslah.

Purbalingga, September 2004


Sesal

setiap kali berseteru
tak sekali pun aku tega
menampar wajah angin.

Purbalingga, 12 Oktober 2004


Lalu

lalu kapan sungai dalam darah itu mulai kecoklat-coklatan? sedangkan matahari yang tirus melepas bulu-bulunya yang halus, menyisakan taring dan cakar yang tak ampun melukai wajah bumi.

oh rumput hijau hamparkan air mata, basuhlah wajah kengerian negeri ini.

Purbalingga, 11 Oktober 2004



Malam Tepi Sungai

malam ini ada seribu purnama yang membujur dari magrib hingga subuh, merintik membentuk horison. saat sebutir nur tergeletak di rerumputan tahujud yang menguning, kau mengibas-ngibas sayap fajar.

ah
adakah aku mulai alpa, bahwa dalam sungai bening yang mengalir itu, ikan-ikan tengah menari menggoyang-goyang pinggul dan lekuk tubuh sembilu.

hingga aku sabar menanti-mu hinggap di atas batu-batu kali.

Purbalingga, September 2004


Arus

aku air mengalir di retak bebatuan nadi dan kau sungai bening yang membelah panjang lautan nasib. aku selalu menari mengikuti kecipak camar yang mulai alpa pada patahan-patahan nafas marifat yang kandas di dasar arus sungai puisi.

sedang kau hanya berlari di atas batu-batu sepi, menyisakan jejak tak terpeta, meninggalkan inisial yang luput membentuk alinea cinta.

Purbalingga, September 2004

| More

0 Comments:

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.