Suara Karya Sabtu, 12 April 2008
Ekstase 1
Mengenang lahir
selalu saja,
ada yang tambah berkurang
selalu baru di tiap detik
tahun baru yang kian ganjil
seperti usia yang tak pernah genap
Purbalingga, 1 Januari 2008
Ekstase 2
Malam batinku
Malam batinku
aku mencintai kesunyian
tapi aku tak pernah pesan nisan
dan kau mengirimnya
berulang-ulangmalam ini di batinku
Purbalingga, 6 Januari 2008
tapi aku tak pernah pesan nisan
dan kau mengirimnya
berulang-ulangmalam ini di batinku
Purbalingga, 6 Januari 2008
Ekstase 3
Puncak Borobudur
dari relief ke relief
selalu saja, yang terbaca hanya tanda
tergurat diantara pahatan arca
dan tatahan stupa
merogoh sejarah
menggapai dongeng
aku tak menemukan apapun
selain batu yang berdiam di dadamu
Magelang, 11 Januari 2008
Ekstase 4
Rumah kafein
di sini tak pernah ada janji
orang-orang ramai, datang dan pergi
menukar kisah dengan secangkir-cangkir kopi
tetapi selalu saja ada yang sisa
di sini tak pernah ada janji
kau, aku bertemu memesan kopi
buli-buli, dan ubi
di sini tak pernah ada janji
menumpah air rasa, menyerpih sesal,
dan kesal yang tiba-tiba padam
di sini tak harus ada janji
juga percakapan yang melelahkan
lantaran kopi seperti gula
telah membaca sejarah kita
dan yang tersisa selalu ampas
Purwokerto, 12 Januari 2008
Rumah kafein
di sini tak pernah ada janji
orang-orang ramai, datang dan pergi
menukar kisah dengan secangkir-cangkir kopi
tetapi selalu saja ada yang sisa
di sini tak pernah ada janji
kau, aku bertemu memesan kopi
buli-buli, dan ubi
di sini tak pernah ada janji
menumpah air rasa, menyerpih sesal,
dan kesal yang tiba-tiba padam
di sini tak harus ada janji
juga percakapan yang melelahkan
lantaran kopi seperti gula
telah membaca sejarah kita
dan yang tersisa selalu ampas
Purwokerto, 12 Januari 2008
Ekstase 5
Pagi yang biasa
Pagi yang biasa
selamat pagi telah kubawa segala nota
tagihan-tagihan janji dan fotocopy masa silam
yang menyerupai kabut
pagi yang biasa
usai mimpi memungut cahaya
Purbalingga, Januari 2008
tagihan-tagihan janji dan fotocopy masa silam
yang menyerupai kabut
pagi yang biasa
usai mimpi memungut cahaya
Purbalingga, Januari 2008
Ekstase 6
Laut tidur di pundakmu
sejak laut tertidur di pundakmu
tak ada lagi garam, pasir, dan jala
kayuh, sampan, dan nelayan
kepiting mencari teduh pada lokan
senja yang piala cuaca jatuh dari rusukmu
ikan-ikan tanggalkan sayap
tinggalkan gambar gambaran gambarmu
tentang kau-aku dan waktu batu
Purbalingga, Januari 2008
Laut tidur di pundakmu
sejak laut tertidur di pundakmu
tak ada lagi garam, pasir, dan jala
kayuh, sampan, dan nelayan
kepiting mencari teduh pada lokan
senja yang piala cuaca jatuh dari rusukmu
ikan-ikan tanggalkan sayap
tinggalkan gambar gambaran gambarmu
tentang kau-aku dan waktu batu
Purbalingga, Januari 2008
Ekstase 7
Ruang tamu
puncak percintaan kita
selalu saja terbit dan terbenam
di sudut ruang tamu
seperti cicak yang fasih berucap nyamuk
bibirmu bibirku saling mengucap sejarah
(di luar batin, orang orang ramai mengucap takdir kita)
sementara kau sibuk
membunuhi sejarah ruang tamu
tetapi kupilih mengucap dzikir
dengan membunuhimu tiap malam
di bilik jantung yang dalam
Purwokerto, 2007
Ruang tamu
puncak percintaan kita
selalu saja terbit dan terbenam
di sudut ruang tamu
seperti cicak yang fasih berucap nyamuk
bibirmu bibirku saling mengucap sejarah
(di luar batin, orang orang ramai mengucap takdir kita)
sementara kau sibuk
membunuhi sejarah ruang tamu
tetapi kupilih mengucap dzikir
dengan membunuhimu tiap malam
di bilik jantung yang dalam
Purwokerto, 2007
https://orcid.org/0000-0002-3765-8899
0 Comments:
Post a Comment