12 Mei 2008

Grendhengan

Share

Sopir Baik dan Pejabat Loyal

Oleh Teguh Trianton*)


Lama tak naik kendaraan umum, (bukan karena naik kendaraan pribadi tapi lantaran suka cari yang gratisan ndompleng motor teman atau tetangga) kangen juga Aku dengan desak-desakan tentu juga dengan senggolan-senggolan, tentu yang tidak sembarang penumpang kita senggol.

Begini ceritanya, tempo hari karena bangun kesiangan aku ketinggalan ‘kereta’ (domplengan maksudnya) sehingga untuk sampai ke tempat kodean (kerja) terpaksa naik kendaraan umum.

Ada banyak hal yang telah berubah dari kendaraan umum, mulai dari tarif yang jauh lebih mahal dari pada jaman aku sekolah dulu, sampai kondisi kendaraan yang mulai ditumbuhi karat di sana-sini. Tak perlu tape casset jika butuh musik sebagai hiburan, lantaran derit besi-besi aus jauh lebih ‘merdu’ dari lagu manapun.

Yang jarang berubah adalah layanan, trayek, serta nyanyian-nyanyian sumbang yang keluar dari mulut sopir dan awaknya. Lirik-lirik perih tentang kelangkaan dan kenaikan harga BBM, dipadu syair-syair lantang kenaikan harga sembako kian keras didendangkan. Mahalnya uang sekolah memaksa pak sopir menginjak pedal gas berpacu mengejar setoran yang tak mau tertinggal di bawah.

Iseng-iseng aku ngobrol dengan Pak Sopir (padahal dilarang berbicara dengan sopir), kali aja dapat gratis. Dari obrolan ngalor-ngidul tentang angkutan umum lengkap dengan ‘asesorisnya’, yang menarik buatku saat itu justru bukan cerita tentang nasib mereka yang tak pernah didengar para wakil rakyat dan pejabat.

Sebab garis hidup, nasib para Sopir dan punggawanya sendiri, menurut mereka tak juah beda dengan nasib (karier) pejabat setingkat kepala dinas dan jajarannya serta wakil rakyat. Lho, apa iya? Kepriwe nalare (bagaimana logikanya)?

Pak Sopir yang sudah sangat profesional (setidaknya tekun dan setia dengan profesinya) itu berkisah, bukan dengan penjelasan tapi dengan tebak-tebakan. Pertanyaannya sederhana tapi lumayan njlimet (rumit); apa persamaan profesi sopir dengan kepala dinas atau pejabat setingkat? Lhah.. ana-ana baen (Ada-ada saja).

Begini, meski jika disandingkan kedua profesi ini sangat jauh berbeda, baik dari segi penghasilan maupun status, tapi pada dua profesi ini terdapat unsur yang mengandung persamaan bahkan ‘kongruen’ (sama dan sebangun) istilah matematikanya, atau kembar ‘identik’ istilah kedokterannya.

Jaman sekarang, untuk dapat bertahan lama (dipercaya majikan) di trayek basah (bukan karena hujan atau DPU telat melakukan pemeliharan jalan) seorang sopir harus pintar mencuri hati majikannya. Setoran lancar, jarang mangkir dan anti ngutang, ditambah sedikit sanjungan dan sesekali ngirim hasil panenan. Meski untuk semua ini Pak Sopir harus ngutang di tempat lain, yang penting posisinya sebagai sopir yang baik dan loyal tetap aman. Tak apalah, sesekali mencampur penumpang dengan barang dagangan bahkan ternak yang hendak di jual di pasar hewan, yang penting jabatan tetap aman.

Lantas apa persamaannya dengan pejabat tadi? Lihat saja persamaan indikasinya. Sopir, eh Pejabat yang baik dan loyal dapat dilihat dari masa jabatannya. Jika di suatu wilayah pemerintahan terdapat pejabat yang tidak pernah terkena imbas SOT (konon ada yang hingga dua periode kepemimpinan kepal daerah), maka dengan logika Sopir, pejabat tersebut tergolong sopir yang baik dan loyal dengan setoran paling lancar.

Ah, itukan karena prestasi dan dedikasi, serta profesional dalam menjalankan tugas. Benar! Seperti Pak Sopir tadi, jika bukan karena prestasi sebagai pemegang setir (leadership) di satuan kerjanya, maka pejabat tadi tidak disebut berprestasi dan berdedikasi. Bukan hanya itu, kita juga mengenal istilah etos kerja, yang meliputi motivasi, moralitas, kepemimpinan menentukan produktivitas kerja (Suryo Budiprojo, 1988).

Cherington, (1980) memaknai etos kerja sebagai nilai kerja positif yang dimiliki seseorang dengan ciri-ciri ; Kerja sebaga kewajiban moral & Religius untuk mengisi hidup, disiplin kerja yang tinggi, kebanggaan atas hasil karyanya.

Yang perlu diingat adalah bahwa kondisi kemapanan (status quo) selalu menutupi kondisi ketidakmapanan (baca: rapuh) sendi-sendi yang ada di dalamnya. Kepemimpinan status quo cenderung melahirkan tirani, sehingga munculah raja-raja kecil dalam kerajaan besar.

Lalu bagaimana dengan profesional tadi?

Profesional sendiri sering dimaknai dengan melakukan pekerjaan atas dasar bayaran, jadi petinju profesional adalah petinju yang mau bertanding jika ada yang bayar, sopir profesional adalah sopir yang mau menginjak gas jika ia yakin semua penumpang akan memberikan bayaran.

Lalu apakah pejabat yang profesioanl juga demikian? Apakah mereka baru disebut profesional tatkala semua pekerjaannya (pengambdian pada negara-abdi negara) juga telah menghasilkan uang yang harus disetor pada majikan? Wallahu’alam.


*)Teguh Trianton, penyair pemerhati budaya tinggal di Purbalingga




| More

0 Comments:

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.