17 April 2008

Telah Kubilang Cinta Pada Cahaya

Share

Puisi Teguh Trianton, Wawasan 20 Nopember 2005



Telah Kubilang Cinta Pada Cahaya

antara matahari dan purnama aku bersila,
mataku bersitatap dengan remang kunang-kunang.
mencari pilihan antara kehangatan dan keindahan
yang lebih mendekati sempurna adalah bahagia,

ternyata ada cahaya di balik keduanya,
sedang telunjuk ini terlanjur menunjuk yang satu,

telah kubilang cinta pada cahaya.

Purbalingga, Oktober 2005







Sehelai Sungai Mengirim Riwayat Untukmu


hari ini telah kususun cemburu
pada guntingan-guntingan masa lalu
sedang, foto-fotomu
masih saja menyimpan luka

sementara sajak yang kutulis
baru mampu merendam rindu
lalu hujan kabarkan cinta
pada runcing-runcingnya

sehelai sungai mengirim
riwayat untukmu

Purbalingga, Oktober 2005


Ingin Kunikahi Laut Pasang


aku adalah gelombang
ingin kunikahi laut pasang
sehingga lahir ombak-ombak mungil
yang kelak menari-nari di pantai
batinmu

Purbalingga, Oktober 2005


Menulis Cahaya

tak ada habisnya,
semua kata, segala tinta,
semua bahasa, segala aksara
hangus dikejap kilaunya.

Purbalingga, Oktober 2005


Penyair


bermimpi jadi sufi
aku tulis puisi,
bermimpi jadi sufi
aku belajar tari rumi.

tetapi spasi dalam puisi
syarat diksi berduri api-api
sedang tari rumi
bertukar inul ngebor sunyi

Purbalingga, Oktober 2005



Kamandaka

Tak harus jadi lutung untuk memanjat pohon sejarah memetik perempuan manggis. Tetapi tentang sabung jago itu, pun aku telah bertarung melawan gelombang. Dan aku karam.

Perempuan manggis itu telah menulis sendiri sejarahnya, memilih sendiri pemetiknya.

Dan takdir merajamku, sebab dongeng kamandaka telah lama membatu.

Purbalingga-Jatijajar, Oktober 2005



Selalu Saja Hujan Yang Angkat Bicara


Selalu saja hujan yang angkat bicara, padahal aku baru saja belajar menyusun kalimat. Tentang harga diri itu, agaknya hujan lebih paham dengan mengirim sampah ke muara. Tentang hak asasi manusia itu, hujan begitu fasih melantunkan airmata.

Lalu tentang airmata itu, hujan telah menterjemahkan banjir pada alinea pertama UUD 1945.

Selalu saja hujan yang angkat bicara.

Purbalingga, Oktober 2005




| More

0 Comments:

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.