19 April 2008

Metamorfosa

Share

Suara Karya,09 April 2006

Aku Hampiri Hujan


aku hampiri hujan yang termangu di depan helai cuaca, lalu aku menarik lengan sejarahku. ada yang tertahan oleh abu-abu, pun pertemuan kau-aku.


lalu yang kudekap hanya batu.


Purbalingga, Maret 2006





Narasi Ciuman


di ciuman pertama sehelai daun jatuh dari pengangannya, lalu kau pungut almanak, kau hitung seberapa rawan pertemuan awan dengan hujan, sehingga daun-daun basah bersalah.


di ciuman kedua pohon-pohon rebah ke pangkuanmu, lalu aku berdiri menelunjuk hari yang rawan pada musim tak beriklim.


di ciuman ketiga kau-aku rebah menjadi sejarah yang dicium lalat.


Purbalingga, Maret 2006




Hujan adalah kau


hujan adalah kau, yang menghilir di serat-serat nafas, menggenang di ingatan yang hijau.


hujan adalah kau yang menjadi kekasih bumi, pelepas haus sungai-sungai di batin.


hujan adalah ciuman yang mendarat di pelipis waktu.


Purbalingga, Maret 2006




Ada Mendung di Wajah Hujan


ada mendung di wajah hujan yang menulisi bumi dengan tirus-tirusnya, kemudian kuurai sungai, kugelar laut di jantungku. kulayarkan waktu, mendaki diri sendiri.


ada mendung di wajah hujan yang jambon, lantaran musim berlompatan dari rahim waktu.


Purbalingga, Maret 2006




Kaulah Sungai


akulah air, dan kaulah sungai yang telah memperdayaku dengan lekuk tubuhmu, lalu kau ciptakan muara sehingga aku betah merenangimu.


sehingga aku terlambat sampai laut.


Purbalingga, Maret 2006





Metamorfosa

Sajak Iqlima pada Hawa


mula-mula aku merasa kau dekap kepalaku di dada, lalu kau angkat wajahku, saat kubuka mata kau lempar sauh dari matamu ke dalam danau di batinku.


lalu kututup mataku, serupa kunang-kunang kau kagumi kepalaku.


Purbalingga, Maret 2006





Bukan aku yang memesan masalalu


bukan aku yang memesan masalalu, mungkin karena kau datang terlambat, sehingga mesin fotocopy sibuk menyusun penyesalannya sendiri. sedang jam dinding masih menyimpan luka pada detak detiknya.


sementara percakapan kalender dengan hari-hari kian batu, aku sendiri memilih diam sebagai pembicaraan. buku-buku agenda yang entah di mana terasa mengirim cuaca di tiap selasa, yang membuatku basah bahagia.


bukan aku yang memesan masalalu.


Purbalingga, 2005-2006




Sms Pagi Hari


terimakasih atas pulsa yang tak pernah habis di jantung ini, pun baterai yang tak pernah low, sebab matahari dan udara menjadi charger paruku.


tetapi maaf, jika aku sering lupa untuk selalu menelponmu, sebab lima sms rindu itupun, kurisau tak terbaca.




Rumahsunyi, 2005-2006

| More

0 Comments:

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.