21 April 2008

Dzikir Hujan

Share

Suara Karya - Sabtu, 9 Juni 2007


Dzikir Hujan

dari selasela magrib
seperti masa lalu,
hujan bangkit melolos sukmaku,
menggigilkan matahari

dari magrib hingga negeri subuh
sejumlah hujan, kutasbihkan rinduku
pada yang satu

lantaran kelu lidahku
dzikirku hanya sebatas bisu


Purbalingga, Februari 2007




Masokis Rindu


jika tiap helai daun waktu yang tanggal
dari dahan kalender dapat kuanggit lagi
jadi pohon sejarah

tentu akan kupilih kau jadi akar,
jadi bunga, jadi buah
yang hanya mengenal satu musim

musim bercinta

Purbalingga, Februari 2007




Masokis Hujan

apakah aku tengah melukai diri sendiri?
sedang luka yang terbit
dari bening matamu yang danau,
adalah luka terindah yang
tak akan kusembuhkan.

hari ini aku jatuh hati pada hujan
yang telah merebus tubuhku
melelehkan batinku
hingga kutemukan yang paling
menggigil dari dingin

inci per inci semua petak
di batinku basah

tetapi kau seperti tak peduli
dengan cuaca di mataku


Purbalingga, Februari 2007




Masokis Laut

kudengar langkahlangkah gerimis
menghampiriku, mengendap
di antara garis tangan
menghanguskan bayangbayang

orangorang ramai menawar curiga
tapi aku tak menjual angan

perempuan laut itu
telah mengirim ombak semusim lalu
sehingga seisi laut memenuhi dadaku

tapi akulah matahari

matahari yang karam

Purbalingga, Februari 2007






Di Sela Ashar, di Senyap Matamu

di sela ashar yang gusar
kau-aku terikat di pusar sejarah
matamata kita berebut
mengukur seberapa dalam
telaga di batin

seperti air,
aku ingin bercinta
di senyap matamu

Purwokerto, Januari 2007

| More

0 Comments:

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.