Suara Karya - Sabtu, 9 Juni 2007
Dzikir Hujan
dari selasela magrib
seperti masa lalu,
hujan bangkit melolos sukmaku,
menggigilkan matahari
dari magrib hingga negeri subuh
sejumlah hujan, kutasbihkan rinduku
pada yang satu
lantaran kelu lidahku
dzikirku hanya sebatas bisu
Purbalingga, Februari 2007
Masokis Rindu
dari dahan kalender dapat kuanggit lagi
jadi pohon sejarah
tentu akan kupilih kau jadi akar,
jadi bunga, jadi buah
yang hanya mengenal satu musim
musim bercinta
Purbalingga, Februari 2007
Masokis Hujan
apakah aku tengah melukai diri sendiri?
sedang luka yang terbit
dari bening matamu yang danau,
adalah luka terindah yang
tak akan kusembuhkan.
hari ini aku jatuh hati pada hujan
yang telah merebus tubuhku
melelehkan batinku
hingga kutemukan yang paling
menggigil dari dingin
inci per inci semua petak
di batinku basah
tetapi kau seperti tak peduli
dengan cuaca di mataku
Purbalingga, Februari 2007
kudengar langkahlangkah gerimis
menghampiriku, mengendap
di antara garis tangan
menghanguskan bayangbayang
orangorang ramai menawar curiga
tapi aku tak menjual angan
perempuan laut itu
telah mengirim ombak semusim lalu
sehingga seisi laut memenuhi dadaku
tapi akulah matahari
matahari yang karam
Purbalingga, Februari 2007
di sela ashar yang gusar
kau-aku terikat di pusar sejarah
matamata kita berebut
mengukur seberapa dalam
telaga di batin
seperti air,
aku ingin bercinta
di senyap matamu
Purwokerto, Januari 2007
21 April 2008
Dzikir Hujan
Share
jika tiap helai daun waktu yang tanggal
Masokis Laut
Di Sela Ashar, di Senyap Matamu
Diposting oleh Unknown di Senin, April 21, 2008
Label: Puisi
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)
https://orcid.org/0000-0002-3765-8899
0 Comments:
Post a Comment