Sindo, 10 Juni 2007Wasyamsy
demi matahari yang terbit
dari larut gundah di batin
jika malam ini
kau asah pisau
dan gali kubur untukku
esok pagi,
untailah fatehah
tebar syahadat
pada nisan
di jantungku
Purbalingga, April 2007
Walqomari
demi temaram bulan di langit batin
segala magma membuncah
menyaksikan ritual terindah
masokis hati di malam nelata
Purbalingga, April 2007
demi temaram bulan di langit batin
segala magma membuncah
menyaksikan ritual terindah
masokis hati di malam nelata
Purbalingga, April 2007
Walaieli
demi malam yang rapuh
sesungguhnya tiap airmata
yang gugur dari ranting tahajud
menjadi sungai pelirih pinta
yang maha kekasih
atas ridlho-mu,
kupinang matahari
bersanding nafasku
Purbalingga, April 2007
demi malam yang rapuh
sesungguhnya tiap airmata
yang gugur dari ranting tahajud
menjadi sungai pelirih pinta
yang maha kekasih
atas ridlho-mu,
kupinang matahari
bersanding nafasku
Purbalingga, April 2007
Wadhuha
demi matahari sepenggalah batin
sujud dan rinduku tak sebanding
embun yang merayap, memanjat,
menggapai cahaya
di antara celah-celah daun
dan ranting wudu
pagi ini, serupa pisau
matahari menunjamku berkali-kali
tentu dengan catatan kecil
tentang rendezvous kau-aku
yang selalu piatu
Purbalingga, April 2007
demi matahari sepenggalah batin
sujud dan rinduku tak sebanding
embun yang merayap, memanjat,
menggapai cahaya
di antara celah-celah daun
dan ranting wudu
pagi ini, serupa pisau
matahari menunjamku berkali-kali
tentu dengan catatan kecil
tentang rendezvous kau-aku
yang selalu piatu
Purbalingga, April 2007
Memoar Pagi
salam takzim
wahai perempuan bermata embun
mimpi apa semalam,
hingga pagi ini kangenku
melebihi mata pisau
Purbalingga, April 2007
salam takzim
wahai perempuan bermata embun
mimpi apa semalam,
hingga pagi ini kangenku
melebihi mata pisau
Purbalingga, April 2007
https://orcid.org/0000-0002-3765-8899
0 Comments:
Post a Comment