Desember Pada Keluarga Laut
: R
sejak kau kenalkan desember pada keluarga laut, bilik di jantungku selalu dipenuhi debur ombak yang rebah di pelataran rumah waktu. telinga batinku tak pernah sepi dari gunjing nelayan yang terhempas pasang. tentang hasil tangkapan yang tak seberapa, tentang jala nasib yang mulai terluka.
lalu lokan yang kau anyam masih menggantung harapan, seperti sunrice yang kau lukis dengan benang mantra pada kristik di dinding batin yang lungkrah.
seperti anak-anak, kita tak pernah paham apa yang mesti dilakukan, jika rumah-rumahan yang mereka bangun di atas pasir, rata oleh kepak sayap ombak. lalu mereka tertawa, bukan lantaran bahagia, tapi karena baju-baju yang basah. pun aku menangis, bukan lantara sedih, tapi karena hati yang basah.
sejak kau kenalkan desember pada keluarga laut, selepas isya, sepertinya kau kabari aku lewat percakapan di pejam mata.
“takkan kau dapati biru lautku, sebab air gunung selalu bawa kabar tentang pohon-pohon sejarah di lembah batin yang tumbang, seperti buih yang rebah ke pasir di pantai logending, tak ada jejak yang mesti ditindak, hapus oleh kepak ombak.”
sejak kau kenalkan desember pada keluarga laut, aku tak pernah sangka, bagaimana laut meniru debur debar di jantungku, tetapi gelombang justru lebih fasih melantunkan titinada batinku. serupa lonceng yang meraung.
lalu aku bangun witir dalam keganjilan, kuanyam dengan telunjuk penuh peluh, gaduh di laut, damai di saraf.
sejak kau kenalkan desember pada keluarga laut, aku menyebutmu gelombang, sebab kau lahir dari rahim laut pasang, kau libas tuntas perahu jiwa rapuhku. kau lempar aku ke tengah-tengah kebiruan laut sikapmu.
kau tenggelamkan aku ke dasar palung rindu, kau ombang-ambing kemudi arah mata anganku, terpental aku dalam karang penyesalan, lalu kulihat simpul tersisa di bibirmu. Sementara sapuan lembut bibirmu terus saja memanjang, berkelok serupa lengkung pinggang silsilah yang enggan lepas dari peluk matahari.
sejak kau kenalkan desember pada keluarga laut, kelu menterjemahkan lidahku.
Purbalingga-Logending, 2005
Di biru matamu
di biru matamu aku berteduh menunggu hujan
tuntas memandikan dedaunan, meruwat tubuh,
membasuh akar-akar pohon cinta.
seperti kisah seorang anak yang lelah belajar merajut perca hati.
kisah yang telah aku tuturkan dengan lidah.
lidah yang ingin berucap tentang bibir yang madu.
di biru matamu aku merebah.
merebah bahu, merebah rasa, merebah bersalah,
merebah bahagia, merebah-rebah.
Catatan Hujan Februari
hujan yang nakal mendorongku jatuh menunduk pada sofa biru matamu. senyumnya mengejekku.
https://orcid.org/0000-0002-3765-8899
0 Comments:
Post a Comment