Kepada Pagi
jika matahari adalah kau
tentu akan kuredupkan
bulu-bulu tipis di keningmu
lantaran senja yang ranum
tak pernah cerai dari kedip matamu
perempuan dengan ketampanan matahari
menduduki sepetak ruang
cantik di pedalaman hati
lalu dibuatnya sebangunn rumah
berdinding degub jantung
tetapi akulah matahari
yang mencari teduh
di rumahmu
Purwokerto, Februari 2007
Kepada Mimpi
selamat datang
inilah negeri terindah
masuklah,
di jalan nirwatas
belok kanan
di sebuah taman
bebas norma
di bawah pohon quldi
memanjang bangku-bangku
pernyataan
aku duduk mendekap waktu
menunggu kau datang
menanggalkan
segala yang rahasia
Purbalingga, Februari 2007
inilah negeri terindah
masuklah,
di jalan nirwatas
belok kanan
di sebuah taman
bebas norma
di bawah pohon quldi
memanjang bangku-bangku
pernyataan
aku duduk mendekap waktu
menunggu kau datang
menanggalkan
segala yang rahasia
Purbalingga, Februari 2007
Kesaksian Karang
dari atas karang,
tak pernah jeda aku menghitung luas laut
dan matamu yang mengandung nasibku
di keduanya aku tenggelam
tapi
di matamu
aku masih menggantungkan nafasku
Ayah, Januari 2007
Jeritku Membuncah Melebihi Diammu
di depan kita,
sebatang pohon menunggu ajal
kau yang membaca rapuhnya
aku yang menjeritkan lukaluka
pada kecipak sayap air
telaga mengunci sunyinya sendiri
sedang pada batubatu kali
kau benturkan sejarahku
lalu,
jeritku membuncah melebihi diammu
Ayah, Januari 2007
di depan kita,
sebatang pohon menunggu ajal
kau yang membaca rapuhnya
aku yang menjeritkan lukaluka
pada kecipak sayap air
telaga mengunci sunyinya sendiri
sedang pada batubatu kali
kau benturkan sejarahku
lalu,
jeritku membuncah melebihi diammu
Ayah, Januari 2007
Sebatang Pohon Melukai Diri
tak usah menggurui cuaca,
sebab pada runcing gerimis
kau-aku belajar menghargai angin
seperti kemarau yang binasa
oleh sedetik airmata
sehelai daun yang tangal dari dahan usia
berhasil menggapai muara
tapi,
batang pohon itu terlanjur menua
melukai diri sendiri
dengan sejarah yang karat
Purwokerto, Januari 2007
tak usah menggurui cuaca,
sebab pada runcing gerimis
kau-aku belajar menghargai angin
seperti kemarau yang binasa
oleh sedetik airmata
sehelai daun yang tangal dari dahan usia
berhasil menggapai muara
tapi,
batang pohon itu terlanjur menua
melukai diri sendiri
dengan sejarah yang karat
Purwokerto, Januari 2007
(Suara Karya, 9 Juni 2007)
https://orcid.org/0000-0002-3765-8899
0 Comments:
Post a Comment