12 Juni 2008

Kepada Mimpi

Share


Kepada Pagi

jika matahari adalah kau
tentu akan kuredupkan
bulu-bulu tipis di keningmu

lantaran senja yang ranum
tak pernah cerai dari kedip matamu

perempuan dengan ketampanan matahari
menduduki sepetak ruang
cantik di pedalaman hati

lalu dibuatnya sebangunn rumah
berdinding degub jantung

tetapi akulah matahari
yang mencari teduh
di rumahmu


Purwokerto, Februari 2007




Kepada Mimpi

selamat datang
inilah negeri terindah

masuklah,
di jalan nirwatas
belok kanan

di sebuah taman
bebas norma
di bawah pohon quldi
memanjang bangku-bangku
pernyataan

aku duduk mendekap waktu
menunggu kau datang
menanggalkan
segala yang rahasia

Purbalingga, Februari 2007




Kesaksian Karang

dari atas karang,
tak pernah jeda aku menghitung luas laut
dan matamu yang mengandung nasibku

di keduanya aku tenggelam

tapi
di matamu
aku masih menggantungkan nafasku

Ayah, Januari 2007





Jeritku Membuncah Melebihi Diammu

di depan kita,
sebatang pohon menunggu ajal
kau yang membaca rapuhnya
aku yang menjeritkan lukaluka

pada kecipak sayap air
telaga mengunci sunyinya sendiri
sedang pada batubatu kali
kau benturkan sejarahku

lalu,
jeritku membuncah melebihi diammu

Ayah, Januari 2007





Sebatang Pohon Melukai Diri

tak usah menggurui cuaca,
sebab pada runcing gerimis
kau-aku belajar menghargai angin

seperti kemarau yang binasa
oleh sedetik airmata
sehelai daun yang tangal dari dahan usia
berhasil menggapai muara

tapi,
batang pohon itu terlanjur menua
melukai diri sendiri
dengan sejarah yang karat

Purwokerto, Januari 2007


(Suara Karya, 9 Juni 2007)

| More

0 Comments:

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.