Ideologi Nativisme dalam Film Indie Banyumas
Oleh : Teguh Trianton *)
Sejak tragedi ‘Bioskop Kita Lagi Sedih’ pada 8 Juli 2006 silam, saya sangat yakin jika moment ini menjadi tonggak berkembangnya dunia perfilman independen (indie) di Banyumas. Tragedi ini memang terjadi di Purbalingga, saat itu sekitar satu pleton Pasukan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) melarang penggunaan Graha Adiguna (Oproom) kompleks Pendopo Dipokusuma Kabupaten Purbalingga untuk pemutaran film karya sineas lokal Purbalingga yang tergabung dalam wadah Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga. Namun catatan sejarah perjalanan perfilman indie di Banyumas telah mengakui bahwa dari sinilah cikal bakal atau titik tumpu menggeliatnya produksi film indie di Banyumas.
Bahkan Bowo Leksono sutradara asli Purbalingga yang sempat menjadi ‘martir’ atas perkembangan film indie di Banyumas, telah diakui sebagai peletak dasar perkembangan film indie tersebut. Tentu bukan lantaran peristiwa itu semata yang mengatarkan Bowo disebut sebagai peletak dasar perkembangan film indie. Namun lebih banyak karena kegigihannya dalam menggeluti bidang yang pada saat itu masih tergolong baru di Purbalingga khususnya dan Banyumas umumnya.
Atas kegigihan inilah, kemudian karya-karya film asli Banyumas yang mengusung nuansa lokal (lokalitas) budaya Banyumasan mendapat banyak penghargaan dan memenangi berbagai ajang festival. Bahkan dokumentasi tragedi Bioskop Kita Lagi Sedih, sempat menjadi film terbaik dalam Festival Film Dokumenter 2006 di Yogyakarta.
Menyusul beberapa film produksi sineas Purbalingga lainnya juga memenangi berbagai ajang festival bertaraf nasional. Sebut saja ‘Senyum Lasminah’ (SL) besutan kedua yang diproduksi sutradara Bowo Leksono ini menjadi film terbaik II pada Festival Video Edukasi (FVE) 2007 untuk kategori budi pekerti, kemudian ‘Pasukan Kucing Garong’ (PKG) yang menjadi film fiksi terbaik dalam Malang Film Video Festival (Mafviefest) 2007. Sementara itu film ‘Adu Jago’ (AJ) menjadi film dokumenter terbaik pada ajang yang sama.
Geliat perfilman indie Banyumas ternyata tidak hanya diakui di kancah nasional, dua film indie Purbalingga, yaitu ‘Peronika’ besutan sutradara Bowo Leksono dan “Metu Getih” karya Heru C. Wibowo bersama 16 film pendek Indonesia lainnya, mendapat kehormatan tampil di Festival Film Eropa bertajuk “Europe on Screen 2007” (EOS 2007). Kemudian ‘Boncengan’, dan ‘Lengger Santi’ (Purbalingga), serta ‘Di Ujung Kehancuran’ (Cilacap), dan ‘Anarchist Cookbook for Beginner’ (Purwokerto) juga mendapat penghargaan lolos dalam kompetisi Festival Film Pendek Konfiden 2007.
Di luar CLC, perkembangan film indie Banyumas juga disokong oleh hadirnya komunitas-komunitas serupa, seperti Sangkanparan (Cilacap), dan komunitas lain di Purwokerto, dan Banjanegara. Banyaknya komunitas-komunitas ini kemudian mengilhami terbentuknya Jaringan Kerja Film Banyumas (JKFB). Dengan JFKB pola komunikasi film maker dan insan film lainnya di Banyumas semakin terpola. Meski tak memproduksi film namun kehadiran JFKB mampu membawa nafas baru dan menginfus semangat geliat perkembangan film indie di Banyumas.
Di sisi lain, meski masih mengandung beberapa kelemahan namun, keberanian Komunitas Jurnalis Televisi Purwokerto (KJTP) menggelar ajang Festival Film Banyumas (FFB) tahun 2007 lalu, turut menegaskan bahwa perkembangan film indie di Banyumas kian mendapat tempat di tengah perkembangan perfilman nasional. Film indie Banyumas mulai mampu berbicara di kancah nasional.
Ideologi Nativisme
Film kini tidak lagi hanya diminati dan dimiliki masyarakat perkotaan, film yang bagi kritikus film Seno Gumira Adjidarma disebut sebagai wacana kebudayaan kini benar-benar mulai mengakar dan membudaya hingga ke pelosok daerah.
Sebagai sebuah wacana kebudayaan, seperti halnya karya seni lain (teater, cerpen, novel, puisi, lukis, musik, dll) film tidak lahir atas kekosongan budaya. Film diproduksi tidak hanya sebagai sebuah hiburan, demikian halnya dengan film indie. Selama ini, secara umum film indie hanya dianggap sebagai tontonan sinema alternatif, pada saat dunia perfilman nasional mengalami ‘kejenuhan’ (setidaknya dalam tema yang hanya berkutat pada dunia hantu). Namun sebenarnya jika ditilik lebih dalam, ada banyak hal yang bisa digali dari film indie.
Salah satu yang menarik bagi saya, mengikuti geliat perkembangan film indie Banyumas adalah munculnya sebuah ideologi yang disadari atau tidak, ini telah menjadi semacam trade mark produk film indie Banyumas. Dari film pertama ‘Peronika’ garapan sutradara Bowo Leksono (Purbalingga), yang disusul dengan film-film lain dari Cilacap, Purwokerto dan Banjarnegara, selalu memunculkan sebuah ideologi yaitu nativisme.
Nativisme pada awalnya kita kenal sebagai gerakan pribumi, sebuah gerakan yang mengutamakan segala hal yang berkaitan dengan kepentingan kaum atau penduduk asli sebuah teritori atau wilayah geografis, termasuk didalamnya gerakan mencintai produk sendiri.
Ideologi sendiri secara positif menurut Jorge Larrain seperti dikutip Sunarto dalam buku Analisis Wacana Ideologi Gender Media Anak-anak, dapat dipersepsikan sebagai suatu pandangan dunia (worldview) yang menyatakan nilai-nilai suatu kelompok masyarakat (sosial) tertentu untuk membela dan memajukan kepentingan-kepentingan anggota kelompoknya.
Kualitas sebuah ideologi, dapat diukur dari dimensi yang membangunnya. Alfian dalam ‘Ideologi, Idealisme dan Integrasi Nasional’ memetakan menjadi tiga dimensi yaitu; kemampuan ideologi sebagai cerminan realitas yang ada di masyarakat, kualitas idealisme yang terkandung, dan fleksibilitas yang dimilikinya.
Ideologi nativisme dalam film indie Banyumas secara nyata tercermin dari tiga anasir yaitu penggunaan bahasa daerah, lokalitas isu (tema), dan atribut atau tanda yang diproduksi dalam adegan film.
Pertama, penggunaan bahasa Banyumasan. Penggunaan bahasa lokal dalam film indie menjadi salah satu parameter sekaligus karakteristik film. Namun demikian, pada film indie Banyumas saya melihat penggunaan bahasa lokal ini tidak hanya berfungsi untuk melengkapi ciri sebuah film agar disebut sebagai film indie.
Penggunaan bahasa Banyumas, yang notabene masih dipakai oleh masyarakat di wilayah Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap dan Kebumen) bahkan hingga Kabupaten Pemalang, pada film indie Banyumas merupakan sebuah ideologi yang menegaskan kecintaan pada budaya lokal. Bahkan sutradara Bowo Leksono yang juga Manajer Program CLC Purbalingga secara blak-blakkan (terbuka) memproklamirkan bahwa sudah saatnya membumikan bahasa daerah melalui karya sinematografi. Bagi Bowo, bahasa adalah salah satu kekayaan budaya sekaligus bagian dari bangunan budaya yang menjadi satu kesatuan utuh, bahasa merupakan bagian dari karakter manusia.
Dengan beragam latar belakang budaya, dan adat istiadat yang dianutnya, Bangsa Indonesia merupakan bangunan budaya yang sangat kokoh, sebab tidak hanya dibangun dengan satu pondasi budaya, melainkan puluhan bahkan ratusan budaya turut menopang kedaulatan Indonesia dari sesi budaya. Dengan demikian bahasa daerah dengan sendirinya melekat menjadi karakter masyarakat Indonesia.
Bahasa daerah secara langsung turut membangun karakter bangsa, sehingga benar adanya jika ’bahasa menunjukkan bangsa’. Karakter bangsa bagi Bowo bisa dipelajari melalui berbagai media seni; sastra, panggung, dan film. Untuk media film, bahasa menjadi salah satu unsur penting karena turut membangun alur cerita.
Begitu pentingnya bahasa sebagai salah satu unsur pembangun cerita, maka Bowo Leksono banyak memilih menggunakan bahasa lokal (Banyumas) yang sangat kentara dengan dialek nagak-ngapaknya sebagai ideologi dalam film yang ia produksi. Sebagai sebuah ideologi (nativisme), bahasa Banyumas dengan sendiri juga menghegemoni karakter film-film indie lainnya.
Kedua; lokalitas isu atau tema. Ideologi nativisme dalam film indie Banyumas juga terlihat dari lokalitas isu atau pilihan tema yang diangkat. Tema yang diangkat dalam film indie Banyumas sejak pertama kemunculannya selalu berkutat pada kehidupan masyarakat bawah, rakyat jelata yang bermukim di pedesaan. Namun demikian, bukan berarti tema-tema yang disajikan tidak pernah berkembang mengikuti arus perkembangan teknologi.
Tema kehidupan masyarakat kecil yang bermukim di pedesaan dengan segala adat istiadat dan seni tradisi yang diangkat dalam film indie Banyumas dengan sendirinya semakin mendekatkan masyarakat desa dengan perkembangan budaya itu sendiri. Meski telah mengideologi, namun tema-tema film indie Banyumas mampu mengikuti perkembangan budaya teknologi.
Ini terlihat jelas pada film ‘Peronika’ dan ‘SL’ pada dua film yang telah meraih banyak penghargaan ini, sang sutradara mampu mengemas dua tradisi atau budaya yang berbeda dalam cerita yang sederhana. Peronika, bercerita tentang kegagapan budaya (teknologi) modern pada masyarakat desa. Judul film sendiri diambil dari kata ‘Veronika’ yang merupakan layanan mesin penjawab otomatis dari sebuah operator seluler di Indonesia. Kata ‘Veronika’ kemudian diplesetkan menjadi ‘Peronika’ seperti yang diucapkan oleh tokoh Ramane (ayah) dalam film tersebut.
Cerita ‘Peronika’ dimulai ketika sebuah keluarga kecil yang hanya tinggal bapak dan anak menantunya yang bernama Jamilah merindukan kepulangan Parno (suami Jamilah) yang bekerja di Jakarta. Jamilah yang merasa kasihan pada bapaknya memberi tahu bahwa Parno telah memiliki telpon genggam (HP) sehingga dapat dihubungi setiap saatnya, Jamilah kemudian memberikan nomor HP Parno pada bapaknya.
Masalah muncul ketika si Bapak mencoba menghubungi nomor HP Parno dari sebuah warung telekomunikasi (Wartel). Saat memencet nomor HP Parno, suara yang terdengar bukan suara Parno anaknya, melainkan suara perempuan yang merupakan suara mesin penjawab otomatis. Karena gagap teknolgi, si Bapak kemudian menduga bahwa Parno telah berselingkuh dengan perempuan dari luar negeri yang biasa berbicara dengan bahasa Inggris.
Ketegagan terjadi, sang Bapak memarahi habis-habisan si Parno pada saat ia pulang ke rumahnya. Parno sendiri kebingungan bagaimana menjelaskan bahwa suara perempuan ‘Veronika’ itu bukan perempuan sungguhan melainkan suara mesin penjawab, karena sang Bapak tidak percaya bahkan menuduh anaknya sudah pandai berbohong. Puncaknya, Parno merasa kesal sendiri dengan HP yang ia miliki, akhirnya karena tidak mampu menjelaskan Parno membanting HP-nya hingga hancur.
Munculnya kata ‘Peronika’ bukan tanpa sebab, tokoh ramane dalam film ini merupakan simbolisasi dari kegagapan teknologi masyarakat desa. Ramane merupakan simbol kegagapan teknologi masyarakat desa.
Sementara itu pada film “SL’, dikisahkan seorang perempuan usia remaja bernama Lasminah yang hidup besama adik laki-lakinya, Gatot, dan nenek mereka. Lasminah hidup yatim-piatu. Bapaknya meninggal karena dibunuh orang-orang tak dikenal menjelang Pemilu. Ibunya meninggal saat melahirkan Gatot.
Lasminah mewarisi kebiasaan membatik, sebuah tradisi turun-menurun yang ini dilakukannya setiap hari untuk menyambung hidup. Demikian pula yang dilakukan perempuan-perempuan desa setempat, meski jumlhanya hanya tinggal hitungan jari.
Kemegahan kota Jakarta telah membuat gadis-gadis desa memilih merantau dan meninggalkan desanya. Suatu hari, Surti, teman sepermainan Lasminah, pulang dari Jakarta. Ia membawa segudang cerita, termasuk mudahnya mendapatkan uang, dan bagaimana semua perempuan telah berbondong-bondong ke Jakarta, serta tentang bagaimana dengan berapa uang dapat mengubah rambut keriting menjadi lurus bahkan berwarna merah menyala (rebounding dan colouring)
Siapa saja akan tertarik dengan cerita Surti tentang Jakarta. Pun dengan Lasminah, Ia rela menjual semua kain jarit buatannya untuk pergi bersama Surti. Namun terlalu banyak yang harus ditinggalkan Lasminah di desa. Adik semata wayang, neneknya, batiknya, rumah tikelan (rumah khas Banyumas) warisannya, dan Sutar kekasihnya yang seorang penari rodat. Pada suatu malam, disaat adiknya tertidur lelap, disaat neneknya merelakan ia pergi, dihadapan sebuah lampu teplok, Lasminah memantapkan untuk tidak ke Jakarta. Terlalu berat meninggalkan orang-orang dan kebiasaan yang dicintainya.
Ketiga, produksi atribut atau tanda. Ideologi nativisme juga tercermnin dari berbagai atribut yang berperan sebagai tanda yang mewakili hubungan antara penanda dan petanda. Pada film ‘SL’ dengan jelas sutradara menemplekan berbagai atribut atau tanda (simbol, ikon, indeks) baik berupa adegan, latar atau seting, tuturan, bahkan tampilnya seni tradisional Rodat pada film meneguhkan bagaimana sebuah ideologi dengan sendirinya mencerminkan realitas yang ada di masyarakat.
Demikain juga dengan tradeisi membatik, lampu teplok, sumur, kebiasaan perempuan merantau adalah tanda yang mencerminkan kehidupan desa. Pada ‘Peronika’ atribut-atribut tersebut diwakili oleh adegan perempuan memasak dengan kayu bakar, rumah berdinding gedhek (anyaman bambu), menelpon di wartel, dan sebagainya.
Idealisme dan Fleksibelitas
Selain harus mampu mencerminkan realitas sosial, kualitas ideologi juga harus diukur dari bagaimana ia mampu membangun idealisme dan fleksibilitas yang dimilikinya. Idealisme di sini saya pahami sebagai hubungan antara apa yang dipikirkan atau diinginkan dari sebuah gerakan kepribumian (nativisme) dengan kenyataan yang terjadi dan terbangun pada film indie.
Sedangkan fleksibilitas saya pahami sebagai kelenturan hubungan antara realitas yang tercermin dari sebuah ideologi dengan pola hubungan sebab akibat antara keinginan dan kenyataan (idealisme). Fleksibilitas ideologi nativisme pada film indie Banyumas terlihat dari, bagaimana gerakan ini pada akhirnya mempengaruhi atau mewarnai geliat pertumbuhan film indie Banyumas, dan sebaliknya pertumbuhan film ini mampu melahirkan persepsi-persepsi baru tentang nativisme.
Dalam film indie Banyumas, sebagai sebuah ideologi saya melihat nativisme yang tercermin dari tiga anasir di atas telah membentuk sebuah idealisme sekaligus mengandung fleksibilitas.
Penggunaan bahasa daerah, lokalitas isu atau tema dan atribut sebagai lambang-lambang yang diproduksi dalam film menegaskan bahwa dunia perfilman indie di Banyumas sejak awal lahrinya hingga saat ini menganut sebuah ideologi nativisme. Sebuah gerakan pribumi, yang berusaha menunjukan karakteristik dan eksistensi sebuah budaya serta nilai-nilai lokal yang oleh sementara orang masih pandang sebelah mata. Di hadapan pergeseran nilai budaya, posisi nilai-nilai budaya lokal saat ini cenderung termarginalkan.
Dengan film indie, nilai-nilai budaya lokal ditranformasikan ke tengah masyarakat yang plural sebagai sebuah pilihan yang sadar atau tidak harus kita akui keberadaannya.
Dalam hemat saya, nativisme telah mampu menghegemoni (dalam konotasi positif) perkembangan film indie Banyumas. Gerakan ini dengan serta merta dan tanpa disadari telah menggiring sineas lokal untuk terus mengeksplorasi kekayaan budaya lokal, untuk disandingkan dengan budaya lain pada kancah ‘pertarungan’ budaya nasional bahkan internasional.
Sebagai ideologi, nativisme dalam film indie Banyumas, juga tidak bersifat kaku. Lokalitas isu yang diangkat sama sekali tidak menghambat perkembangan sub tema yang ditampilkan. Sehingga meski selalu bernuansa lokal, namun film indie Banyumas tidak ketinggalan arus informasi dan ilmu pengetahuan. Tema-tema kegagapan budaya dan teknologi yang diangkat dalam film merupakan bukti bahwa yang nuansa lokal tidak selalu ketinggalan jaman.
Sekarang tinggal bagaimana para film maker atau sineas muda Banyumas mengolah nativisme menjadi sebuah gerakan perubahan yang mendorong perkembangan dunia perfilman di Banyumas khususnya, dan Indonesia pada umumnya agar mampu eksis.
*) Penulis adalah penyair dan penikmat film, tinggal di Purbalingga.
https://orcid.org/0000-0002-3765-8899
0 Comments:
Post a Comment