Narasi Ciuman
di ciuman pertama sehelai daun jatuh dari pengangannya, lalu kau pungut almanak, kau hitung seberapa rawan pertemuan awan dengan hujan, sehingga daun-daun basah bersalah.
di ciuman kedua pohon-pohon rebah ke pangkuanmu, lalu aku berdiri menelunjuk hari yang rawan pada musim tak beriklim.
di ciuman ketiga kau-aku rebah menjadi sejarah yang dicium lalat.
Purbalingga, Maret 2006
Kamandaka
tak harus jadi lutung untuk memanjat pohon sejarah memetik
perempuan manggis. tetapi tentang sabung jago itu, pun aku
telah bertarung melawan gelombang. dan aku karam.
tetapi perempuan manggis itu telah menulis sendiri
sejarahnya, memilih sendiri pemetiknya.
dan takdir merajamku,
sebab dongeng kamandaka telah lama membatu.
Purbalingga, April 2006
Membenci Malam
sekarang aku benar-benar membenci malam, sebab
pada tangkai-tangkainya selalu kujumpai ciuman-ciumanmu,
di dedaunan tercatat janji-janjimu.
pada akar-akar malam cintaku merayap ke batang-batang jiwa.
lalu kuajak ranting mencium kening purnama. sementara kau
justru sibuk menebanginya.
sekarang aku benar-benar membenci malam, sebab gelap
kian meniru sejarahku.
Berebut Puncak
Tsunami
orang-orang ramai berebut puncak,
kenapa mesti bertanya lagi?
sedangkan laut begitu patuh pada langit
kemudian gunung-gunung melenguh keluh
tanah menggeliat retak
sungai meliuk tubuh
lalu banjir air mata di segala
Purbalingga, September 2006
Lalu Cinta Adalah Luka
kejahatan terkejam yang ada dalam diri manusia adalah cinta
seperti kau, aku, dan waktu pernah menangis karenanya.
tetapi aku justru hidup dengan dilukai,
lalu cinta adalah luka
dan
lukaku adalah kau.
Purbalingga, September 2006
Ulang Tahun Hujan
: D
selamat pagi,
hari ini duapuluh satu matahari begitu tak lazim
terbit dari laut di matamu yang mengandung hujan
dan kau, justru tenggelam di halaman-halaman buku harian
lantaran sungai waktu, mengirim masa silam pada celah dinding usia
di batinmu, jadikan aku air yang meruang
pada rongga sejarah yang terurai di ulang tahun hujan
Purbalingga, Desember 2006
Memoar Keberangkatan
melepasmu ke kota hujan
aku jatuh ngungun sama sekali
lantaran hati ini terlanjur
membatinkan batinmu
aku begitu yakin,
seperti matahari,
sejarah selalu terbit
dari garis tangan
pun sejarah kau-aku
lalu,
karena waktu tak beribu
kutitipkan selempang sajadah
dan mahabah
pada pundak keikhlasanmu
menjadi takdirku
Purwokerto, 12 April 2007
Memoar Malam
malam yang bulat
seperti matahari
waktu melingkar
membelit nafasku
dengan nafasmu
jelaga
Purwokerto, Mei 2007
Masokis Rindu
jika tiap helai daun waktu yang tanggal
dari dahan kalender dapat kuanggit lagi
jadi pohon sejarah
tentu akan kupilih kau jadi akar,
jadi bunga, jadi buah
yang hanya mengenal satu musim
musim bercinta
Purbalingga, Februari 2007
https://orcid.org/0000-0002-3765-8899
0 Comments:
Post a Comment