Menara Gading Yang Retak
Kritikus dan Sastrawan ‘Mapan’ Banyumas
(Tentang Pohon Perpuisian Banyumas)
Oleh : Teguh Trianton
“... Kalau di Banyumas (Purwokerto), sudah berdiri Perguruan Tinggi Seni, greget berkesenian di Banyumas akan lebih semarak lagi seperti halnya pada dekade 70-an, ...”
Ini adalah ungkapan penuh harap yang menarik dari esai ‘Banyumas Butuh Perguruan Tinggi Seni’ tulisan S Sugito Eswe, (KR, 28 Agustus 1994). Tulisan S Sugito Eswe, pemerhati seni-budaya Banyumasan ini memang sudah lama dan barang kali sudah tidak ada lagi yang ingat. Namun demikian akan menjadi menarik tat kala kita kontekstualkan dengan kondisi saat ini. Situasi dimana telah 16 tahun berselang dari kondisi pada saat esai tersebut dibuat.
Apa yang disampaikan Sugito bisa jadi sangat realistis pada saat itu, mengingat Banyumas sebagai salah satu kantung sastra tidak bisa dilepaskan dari pergulatan dan perkembangan sastra Indonesia atau ‘menjadi bagian dari’, yang pada saat itu tengah mengalami kelesuan. Dan akan menjadi sangat ironi jika apa yang dikemukakan Sugito tersebut diungkapkan lagi saat sekarang. Apalagi di Banyumas sekarang telah bertebaran Perguruan Tinggi – Perguruan Tinggi Seni, dengan Program Studi Sastra. Bahkan hampir di setiap kampus terdapat kantung-kantung seni-budaya, mulai dari kelompok teater, seni, diskusi budaya dan sebagainya. Tak kurang juga ada Dewan Kesenian yang konon mendapatkan alokasi dana yang lumayan dari Pemerintah Daerah. Lalu apa yang menjadikan ungkapan Sugito tersebut menjadi menarik untuk kita renungkan pada saat ini?
Tentu saja yang menjadikan ungkapan tersebut tetap menarik untuk direnungkan adalah bukan lantaran tidak adanya aktifitas bersastra baik yang dilakukan oleh mereka yang menurut Heru Kurniawan dalam esainya ‘Regenerasi Ke-sastrawan-an Muda Banyumas’ (KR, 6 Februari 2005) dikatakan sebagai ‘Sastrawan Besar’ atau pun tidak adanya aktifitas berkritik (baca: mengkriti[k]si) oleh para kritikus yang oleh Abdul Wachid BS dikatakan sebagai salah satu penyebab ‘me-Ranggasnya Intelektualitas ber-Kesusastraan di Banyumas’ (KR 20 Februari 2005). Padahal menurut Achid BS sendiri di Banyumas (Purwokerto) saat ini telah berdiri UMP yang membuka Fak Sastra, juga Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni-nya, pun Unsoed, belum lagi keberadaan Dewan Kesenian Banyumas (DKB), Dewan Kesenian Purbalingga, dan lain-lain, yang tentu saja dengan itu semua mestinya apa yang diimpikan Sugito Eswe pada tahun 1994 untuk mengenang masa romantisme tahun 70-an dengan menyadarkan harapan kembalinya greget berkesusastraan di Banyumas pada berdirinya Perguruan Tinggi seni di Banyumas telah terwujud.
Memang, apa yang angankan Sugito tersebut sempat terwujud, pada era 90-an di Banyumas bertebaran kelompok-kelompok diskusi seni dan budaya yang tak pernah sepi dari aktifitas bersastra. Bahkan sejumlah nama ‘mapan’ pun kemudian lahir pada era 90-an, yang dengan lugas dikatakan oleh Heru Kurniawan, mereka sebagai identitas ke-sastrawan-an Banyumas. Sekedar menyebut nama, mereka yang dikatakan oleh Heru sebagai ikon berkesusastraan di Banyumas antara lain Edhi Romadlon, Nanang Anna Noor, Bambang Set, Herman Affandi, Dharmadi, Mas’ut, Badrudin Emce, Basuki Balasikh, Sutarno Djayadiatmo, Haryono Soekiran, dan lain-lain. Tentu saja kehadiran ikon-ikon berkesenian di Banyumas ini lengkap dengan atribut dan bendera masing-masing.
Namun paska era 90-an, geliat berkesusatraan di Banyumas kembali kehilangan gregetnya, padahal jumlah Perguruan Tinggi atau jumlah Program Studi Seni di Banyumas semakin bertambah, pun dengan jumlah kantong-kantong berkesenian di Banyumas. Lantas apa gerangan yang terjadi sebenarnya dengan iklim berkesusastraan di Banyumas yang mendung ini.
Jangan-jangan apa yang diungkapkan Achid BS itu benar-benar terjadi, bahwa di Banyumas saat ini tengah mengalami ‘Ranggasnya Intelektualitas Ber-Kesusastraan’. Meskipun demikian secara cool (baca: anti klimaks), Mas’ut (Sastrawan Banyumas) yang barang kali mencoba mewakili generasinya, kemudian berusaha merenungi ungkapan Achid BS tersebut. Dengan santun Mas’ut menampik telah terjadi keranggasan intelektualitas kesusastraan di Banyumas. Dicontohkan Mas’ut (dalam esainya di KR), bahwa tradisi To’et adalah salah satu representasi dari bentuk intelektualitas berkesusatraan di Banyumas.
Boleh jadi, yang diungkapkan Mas’ut merupakan sebuah apologi dari generasi ‘mapan’, yang merasa gerah dengan lontaran Achid BS. Achid BS sendiri sebenarnya tengah melakukan otokritik, dengan mengatakan ranggasnya intelektualitas ber-kesusastraan di Banyumas itu disebabkan tidak tumbuhnya budaya kritik dan budaya tulis dikalangan intelektual atau akademisi Banyumas, bukankah Achid sendiri ada di lingkungan tersebut.
Lalu dimana sebenarnya letak kekeliruan itu?
Heru Kurniawan yang mewakili generasi sastrawan ‘muda’ (yang belum ‘mapan’) merasa perlu melakukan regenerasi, meski yang terjadi adalah regenerasi yang nihil. Kenihilan ini terjadi karena yang ‘muda’ selalu dibayang-bayangi oleh yang ‘mapan’, sementara yang ‘mapan’ sendiri kemudian hanya akan menjadi ‘menara ganding yang retak’ dengan mengagung-agungkan romantisme masa lalu, seperti apa yang diungkapkan Mas’ut. Demikian pun dengan meraka yang berada di bawah bendera ‘kaum intelektual’ atau akademisi. Meraka pun hanya akan menjadi intelektual -menara gading yang retak- jika selamanya hanya melakukan pengkajian karya satsra hanya sebatas sebagai bahan pengajaran bagi mahasiswa sastra, sehingga mahasiswanya pun kemudian ber-enggan-enggan untuk menumbuhkan tradisi berkritik melalui tulisan selain ketika mendapatkan tugas membuat makalah analisis atau penelitian sastra.
Disini agaknya, simpul permasalahan itu bermula, ‘pendidikan’. Ya lagi-lagi pendidikan menjadi keranjang sampah tempat semua orang melemparkan kekeliruan.
Dalam sebuah kesempatan seminar pendidikan tahun 2001 di UMP, Dr Faruk HT pernah melontarkan bahwa reformasi pendidikan berkebudayaan yang mestinya dilakukan di Indonesia adalah reformasi tradisi pendidikan dari keberlisanan menjadi keberaksaraan. Sehingga semua nilai-nilai yang terucap melalui lisan tidak akan menguap begitu saja seiring dengan keringnya bibir yang berucap tadi.
Keberaksaraan agaknya menjadi sangat perlu, mengingat pada saat ini kita tidak lagi hidup di era keberlisanan. Masyarakat kontemporer adalah masyarakat yang hidup dalam tradisi tulis, sehingga akan sangat ironis jika di tengah tradisi keberaksaraan masih ada yang mengagungkan tradisi keberlisanan, sekalipun ini bukan merupakan sebuah kesalahan fatal, sebab tradisi kita memang mengenal dongengan. Hanya saja ada konteks-konteks tertentu yang mestinya menjadi sebuah patokan, kapan saat menagungkan tradisi berkelisanan dan kapan saatnya mengedepankan tradisi keberaksaraan.
Kekeliruan juga terjadi pada paradigma kita tentang konsep budaya, dan kebudayaan. Saat ini tengah terjadi proses penyempitan makna budaya dan kebudayaan. Setidaknya itulah yang diungkapkan Prof Suminto A Sayuti, dalam kesempatan sarasesahan seni dan budaya di Purbalingga. Hilanngya tradisi kritik yang kemudian menenggelamkan greget berkesenian sat ini adalah disebabkan oleh pergeseran konsep tentang nilai-nilai berkebudayaan. Budaya dan kebudayaan hanya cukup dimaknai dengan berdirinya museum, peninggalan-peninggalan sejarah dan lain sebagainya. Sedangkan roh yang sebenarnya dari budaya dan kebudayaan tersebut hilang sama sekali. Atau dalam bahasa Achid BS, ber-kesusastraan saat ini hanya cukup dimaknai dengan berambut gondrong, berbaju hitam dengan segenap aksesoris. Sekalipun semua itu bukan jaminan bahwa mereka telah melakukan perilaku berkebudayaan dan berkesusastraan. Karena toh penampilan yang nyentrik saja juga tidak cukup untuk mengukuhkan bahwa mereka adalah seorang sastrawan atau seorang yang berperilaku budaya.
Namun anehnya, masyarakat atau setidaknya mereka yang ‘muda’ yang tengah berpayah melakukan regenerasi ke-sastrawan-an merasa selalu berada di bawah bayang-bayang romantisme sastrawan ‘mapan’ di masa lalu. Seolah yang ‘muda’ tidak akan pernah ‘menjadi’, jika meraka tidak pernah atau lupa mentasbihkan nama yang ‘mapan’. Dan yang ‘mapan’ pun sepertinya masih enggan untuk sekedar melepas jubah ‘kebesarannya’ menyapa yang ‘muda’. Bahkan seolah yang ‘mapan’ justru bangga dengan kemapanannya dengan terus menurus menghantui yang ‘muda’ dengan keperkasaan masa lalu mereka.
Pun, para akademisi atau kau intelektual, mereka yang paling memiliki tanggung jawab moral untuk melakukan kritik, mereka sepertinya masih enggan untuk saling ‘bertegur sapa’ dengan sesama yang ‘mapan’ apalagi dengan yang ‘muda’, yang barang kali tidak akan pernah dianggap, karena mereka merasa paling mapan dalam hal teori, sehingga merasa bukan ‘makomnya’ kalau mereka menegur atau menyapa yang ‘muda’.
Syahdan, jika saja yang ‘mapan’ bermurah hati mau menyapa yang ‘muda’ atau paling tidak mereka yang ‘mapan’ mau memberikan contoh bagaimana cara bertegur sapa yang santun antar sesama, maka tidak akan terjadi regenarasi yang piatu ke-sastrawan-an muda di Banyumas. Dan yang terlanjur meranggas akan segera bersemi dengan tunas-tunas yang tentu saja lebih muda, masih lebih banyak memiliki energi. Ya, tentu saja yang ‘muda’ ini tidak akan pernah lahir dari rahim bunda kebudayaan, jika sang ibu (yang ‘mapan’) tidak pernah mau mengandungnya apa lagi turut melahirkan mereka.
Sekalipun kepenyairan atau predikat sastrawan itu tidak diraih melalui proses pengakuan dari yang ‘mapan’, melainkan dengan sendiri akan melekat setelah yang ’muda’ mengalami dan melalui ritual dalam kawah candradimuka dengan melakukan proses kreatif.
Esais, Penyair penggiat tradisi keberaksaraan dan diskusi Komunitas Seni dan Budaya Banyumas.
https://orcid.org/0000-0002-3765-8899
1 Comment:
Mas, Purbalingga langka Teguh Trianton, Sigit Emce mbuh. Maju terus. Yang lamban aja dirungokna. Badruddin Emce
Post a Comment