11 April 2008

Pembacaan Puisi Putra Serayu,

Share

Kroya, Cilacap 01 Juni 2007

Narasi Ciuman


di ciuman pertama sehelai daun jatuh dari pengangannya, lalu kau pungut almanak, kau hitung seberapa rawan pertemuan awan dengan hujan, sehingga daun-daun basah bersalah.


di ciuman kedua pohon-pohon rebah ke pangkuanmu, lalu aku berdiri menelunjuk hari yang rawan pada musim tak beriklim.


di ciuman ketiga kau-aku rebah menjadi sejarah yang dicium lalat.


Purbalingga, Maret 2006



Selalu Saja Hujan Yang Angkat Bicara

selalu saja hujan yang angkat bicara, padahal aku baru saja
belajar menyusun kalimat. tentang harga diri itu,
agaknya hujan lebih paham dengan mengirim sampah ke muara.
tentang hak asasi manusia itu, hujan begitu fasih
melantunkan airmata.

lalu tentang airmata itu, hujan telah menterjemahkan banjir
pada alinea pertama UUD 1945.

selalu saja hujan yang angkat bicara.

Purbalingga, April 2006


Kamandaka


tak harus jadi lutung untuk memanjat pohon sejarah memetik
perempuan manggis. tetapi tentang sabung jago itu, pun aku
telah bertarung melawan gelombang. dan aku karam.

tetapi perempuan manggis itu telah menulis sendiri
sejarahnya, memilih sendiri pemetiknya.

dan takdir merajamku,
sebab dongeng kamandaka telah lama membatu.

Purbalingga, April 2006


Membenci Malam

sekarang aku benar-benar membenci malam, sebab
pada tangkai-tangkainya selalu kujumpai ciuman-ciumanmu,
di dedaunan tercatat janji-janjimu.

pada akar-akar malam cintaku merayap ke batang-batang jiwa.
lalu kuajak ranting mencium kening purnama. sementara kau
justru sibuk menebanginya.

sekarang aku benar-benar membenci malam, sebab gelap
kian meniru sejarahku.

Purbalingga, September 2006



Berebut Puncak
Tsunami

orang-orang ramai berebut puncak,
kenapa mesti bertanya lagi?
sedangkan laut begitu patuh pada langit
kemudian gunung-gunung melenguh keluh
tanah menggeliat retak
sungai meliuk tubuh
lalu banjir air mata di segala

Purbalingga, September 2006


Lalu Cinta Adalah Luka

kejahatan terkejam yang ada dalam diri manusia adalah cinta
seperti kau, aku, dan waktu pernah menangis karenanya.
tetapi aku justru hidup dengan dilukai,

lalu cinta adalah luka

dan
lukaku adalah kau.

Purbalingga, September 2006



Ulang Tahun Hujan

: D

selamat pagi,
hari ini duapuluh satu matahari begitu tak lazim
terbit dari laut di matamu yang mengandung hujan

dan kau, justru tenggelam di halaman-halaman buku harian
lantaran sungai waktu, mengirim masa silam pada celah dinding usia

di batinmu, jadikan aku air yang meruang
pada rongga sejarah yang terurai di ulang tahun hujan

Purbalingga, Desember 2006


Memoar Keberangkatan

melepasmu ke kota hujan
aku jatuh ngungun sama sekali
lantaran hati ini terlanjur
membatinkan batinmu

aku begitu yakin,
seperti matahari,
sejarah selalu terbit
dari garis tangan

pun sejarah kau-aku

lalu,
karena waktu tak beribu
kutitipkan selempang sajadah

dan mahabah
pada pundak keikhlasanmu
menjadi takdirku

Purwokerto, 12 April 2007


Memoar Malam

malam yang bulat
seperti matahari
waktu melingkar
membelit nafasku
dengan nafasmu

jelaga

Purwokerto, Mei 2007



Masokis Rindu

jika tiap helai daun waktu yang tanggal
dari dahan kalender dapat kuanggit lagi
jadi pohon sejarah

tentu akan kupilih kau jadi akar,
jadi bunga, jadi buah
yang hanya mengenal satu musim

musim bercinta

Purbalingga, Februari 2007

| More

0 Comments:

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.