05 April 2009

Pertanian

Share

Upaya Membangun Bendungan Slinga
Oleh Teguh Trianton

SEPULUH tahun sudah nasib Bendungan Slinga di Desa Slinga, Kecamatan Kaligondang, Purbalingga terkatung-katung. Selama itu pula lahan pertanian seluas 1.400 hektar yang tersebar di lima desa terbengkalai. Padahal ratusan petani menggantungkan hidup dari bercocok tanam di lahan tersebut.

Kondisi Bendungan Slinga yang menjadi sumber utama irigasi pertanian di Kecamatan Kaligondang ini merupakan potret kelam kondisi pembangunan pertanian di Purbalingga.

Kondisi ini kian memprihatinkan tatkala Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Purbalingga lebih memprioritaskan relokasi dan pembangunan pasar kota menjadi wilayah segitiga emas (Segamas) di Kecamatan Kalimanah.

Keterbengkalaian Bendungan Slinga adalah sejarah kelabu nasib petani di Purbalingga. Boleh jadi permasalahan Bendungan Slinga adalah fenomena gunung es atas kemunculan berbagai permasalahan pertanian global di Purbalingga. Kelangkaan pupuk misalnya, kesulitan saluran ditribusi, belum lagi masalah impor beras.

Ironis memang. Apalagi rencana revitalisasi Bendungan Slinga ini tak kunjung menemukan titik cerah. Padahal pada 2008, suara rakyat Purbalingga telah berperan memenangkan Bibit Waluyo dan Rustriningsih dalam bursa pemilihan umum Gubernur Jawa Tengah.

Pilihan tersebut tak sepenuhnya keliru, sebab saat itu pasangan Bibit-Rustri memasang jargon politik ’’Bali Ndesa Mbangun Desa’’. Sehingga masyarakat Purbalingga yang didominasi petani ini banyak berharap dari duet kepimimpinan ini.

Mereka berharap dengan semangat pembangunan yang berorientasi ke desa ini, gubernur baru dapat menjadi dewa penolong atas permasalahan pertanian di Purbalingga. Termasuk masalah Bendungan Slinga.

Perjalanan Panjang
Wacana revitalisasi Bendungan Slinga ini telah ada sejak 2003. Saat itu pemerintah setempat telah mengalkulasi anggaran revitalisasi sebesar Rp 14 miliar. Namun rencana ini tidak pernah terealisasi. Alasanya sederhana, pemerintah Kabupaten Purbalingga saat itu merasa tidak memiliki anggaran yang longgar untuk dialokasikan pada sektor ini. Rencana pemulihan fungsi Bendunganan di Sungai Klawing ini pun sirna.

Merasa tidak mampu, pada 2005 pemerintah mendesain ulang rencana revitalisasi ini, dan hasilnya berupa proposal yang diajukan ke pemerintah pusat.
Usulan ini sempat mampir ke provinsi. Adapun nilai anggaran yang diusulkan saat itu mengalami pembengkakan. Jika pada 2003 didesain hanya membutuhkan anggaran Rp 14 miliar, redesain 2005 membutuhkan biaya sebesar Rp 18 miliar.

Saling Lempar
Namun proposal ini berulang kali kandas di tingkat pusat. Alasanya, karena areal persawahan yang dialiri hanya 1.200 ha, sehingga merupakan kewenangan pemerintah provinsi untuk membangun. Tanggung jawab pemulihan pun akhirnya dilemparkan dari pusat ke pemerintah provinsi. Pusat baru akan mendanai jika luas areal sawah yang dialiri mencapai 3.000 hektar.

Sementara itu pemerintah provinsi tidak serta merta menyetujui proposal ini. Dengan alasan dana pemulihan yang dibutuhkan terlalu tinggi. Menurut pemprov, nilai Rp 18 miliar terlalu berat untuk provinsi. Yang terjadi kemudian saling lempar tanggung jawab. Sementara nasib petani di Kecamatan Kaligondang tak kunjung berubah baik.

Multiguna
Sebenarnya jika hanya berpatokan pada luas areal lahan yang akan dialiri jelas kurang signifikan dibanding nilai total proyek yang harus dikerjakan. Namun sesungguhnya keberadaan Bendungan Slinga tersebut memiliki multiguna. Setidaknya ada tiga nilai strategis atau fungsi Bendungan Slinga setelah revitalisasi.

Fungsi yang pertama jelas sebagai sumber irigasi pokok bagi petani di lima desa di Kecamatan Kaligondang. Sisanya sebenarnya masih dapat dimanfaatkan bagi ribuan petani yang berada di wilayah hilir.

Setidaknya ada dua wilayah lagi yang dapat memanfaatkan aliran air dari Bendungan ini, yaitu petani di wilayah Kecamatan Purbalingga dan sebagaian di Kecamatan Kemangkon.

Dengan demikian jika volume air yang disalurkan dapat ditingkatkan, maka Bendungan Slinga dapat mengairi lebih dari 1.599 hektar lahan yang tersebar di 14 desa dalam 3 kecamatan.

Nilai stategis yang kedua yaitu bagi budidaya perikanan. Selain sebagai sumber irigasi, masyarakat yang bermukim di sekitar saluran induk di sepanjang desa yang dialiri dapat memanfaatkan air tesebut sebagai media pemeliharaan ikan.

Di sini jelas terlihat revitalisasi Bendungan Slinga membawa dampak ikutan yang positif bagi pertumbuhan sektor perikanan. Apa lagi saat ini wilayah Kecamatan Kemangkon merupakan salah satu sentra budidaya ikan air tawar terbesar di Purbalingga.

Nilai strategis yang ketiga yaitu pemulihan kondisi ekologi dan hayati di sekitar saluran irigasi. Lebih dari 10 tahun sejak Bendungan Slinga tidak berfungsi kondisi ekosistem di sekitar lahan pertanian ikut terganggu. Kekeringan yang melanda areal persawahan selama ini dengan serta merta berdampak pada kesuburan tanah perkebunan yang ada di wilayah tersebut.

Dengan pemulihan atau pembangunan kembali Bendungan Slinga ini, maka keberadaan ekosistem yang ada dapat kembali pulih dan terjaga kelestariannya. Karena itu bukan hanya hasil pertanian dan perikanan saja yang meningkat, hasil perkebunan juga dapat meningkat.

Tagih Janji
Tahun 2009 merupakan babak pertama masa kepemimpinan Gubernur Bibit Waluyo. Masa ini sekaligus menjadi tahun permulaan untuk merealisasikan jargon politik ’’Bali Ndesa, Mbangun Desa’’. Dengan semangat jargon inilah petani di Purbalingga sebenarnya tengah menagih janji pemerintah.

Pada 2008 Dirjend PSDA menyatakan, biaya pembangunan Bendungan Slinga ditanggung APBN dengan nilai proyek Rp 24 miliar (SM, 14/03/2009). Artinya sudah ada iktikad baik dari pemerintah pusat untuk segera mengambalikan fungsi bendungan tersebut.

Untuk itu, tugas gubernur sekarang sesungguhnya menjadi ringan. Ia tinggal mengupayakan agar pencairan anggaran ini cepat terealisasi. Di samping itu harus menyiapkan dana pendamping. Ini juga menjadi ’’PR’’ Bupati Purbalingga.

Sekali lagi, dengan semangat ’’Bali Ndesa, Mbangun Desa’’ saatnya Gubernur Jateng dan Bupati Purbalingga kembali ke desa membangun Bendungan Slinga. (35)

– Teguh Trianton, Staf Edukatif SMK Widya Manggala Purbalingga
– Sumber : Suara Merdeka, 2 April 2009


| More

0 Comments:

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.